Jangan sampai Kalap jika Tiba-tiba Jadi Miliarder, Ini Cara Pintar Membelanjakan Uang Anda

Kompas.com - 25/02/2021, 16:15 WIB
Salah satu warga Sumurgeneng, Tuban, membeli mobil baru untuk usaha rental mobil. KOMPAS.com/HAMIMSalah satu warga Sumurgeneng, Tuban, membeli mobil baru untuk usaha rental mobil.

KOMPAS.com - Jagat media sosial pekan lalu ramai membicarakan sebuah rekaman video pendek yang viral menunjukkan datangnya belasan mobil yang diangkut oleh truk towing secara bersamaan ke Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Tuban.

Setelah dicari tahu, ternyata ratusan warga di Desa Sumurgeneng mendadak menjadi miliarder setelah mendapatkan uang ganti rugi pembebasan lahan dari proyek pembangunan kilang yang digarap oleh PT Pertamina (Persero).

Baca juga: Selain Borong 176 Mobil, Ini yang Dilakukan Ratusan Warga Desa dengan Uang Miliaran Rupiah yang Didapat

Tak berselang lama, warga juga kembali dihebohkan dengan peristiwa serupa di Desa Kawungsari, Kecamatan Cibeureum, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Warga di desa ini mendadak kaya setelah menerima ganti untung pembelian lahan untuk proyek waduk.

Baca juga: Tak Ikut Borong Mobil, Pengunggah Video Miliarder Tuban Pilih Habiskan Rp 9,7 M untuk Hal Ini

Warga desa ini kemudian rama-ramai memborong motor dan mobil yang jumlahnya mencapai 300 unit.

Fenomena miliarder baru membeli kendaraan dengan harga ratusan juta menjadi perhatian banyak kalangan.

Meski sesuatu yang bisa dimaklumi karena memiliki harta melimpah. Namun, berpikir realistis untuk masa depan tetap harus jadi pertimbangan.

Baca juga: Khawatir Warga Tuban Jatuh Miskin Usai Borong 176 Mobil, Ini yang Dilakukan Bos Pertamina Rosneft

Menurut Pakar Perencana Keuangan Aidil Akbar Madjid, ada baiknya masyarakat yang mendapatkan rezeki berlimpah dari hasil kompensasi tanah atau bangunan untuk berpikir jangka panjang.

Menabung, melakukan investasi, atau membuka usaha sebagai pengganti usaha sebelumnya yang mungkin hilang karena dikompensasi uang, menjadi pilihan yang perlu diambil.

Kata Aidil, konversi lahan menjadi uang hingga miliaran rupiah merupakan rezeki nomplok yang patut disyukuri.

Baca juga: Warga Desa Kuningan Jadi Miliarder, Dapat Rp 134 M dari Proyek Waduk, Borong 300 Mobil dan Motor

Namun dia mengingatkan, sikap konsumtif dan terjebak pada sikap jaga gengsi dikhawatirkan akan memengaruhi situasi keuangan di masa depan

"Beli mobil boleh, tapi enggak usah yang ratusan juta apalagi miliaran rupiah. Enggak perlu termakan gengsi," kata Aidil kepada Kompas.com, Kamis (25/2/2021).

Realistis

Menurut Aidil, sah-sah saja setiap orang yang tiba-tiba menjadi miliarder untuk membeli mobil.

Hanya yang perlu diingat, membeli mobil tanpa perhitungan realistis berpotensi merugikan di masa depan.

Warga Desa Kawungsari, Cibeureum, Cahyono (baju putih) membeli motor baru. Warga desa ini mendadak jadi miliarder karena terdampak pembangunan Waduk Kuningan. 
Tribuncirebon.com/Ahmad Ripai Warga Desa Kawungsari, Cibeureum, Cahyono (baju putih) membeli motor baru. Warga desa ini mendadak jadi miliarder karena terdampak pembangunan Waduk Kuningan.

Membeli mobil juga bukan bagian dari investasi strategis karena selain berpotensi menjadi beban, juga nilainya akan susut seiring waktu berjalan.

"Beli mobil itu kan konsumtif. Jadi sebenarnya mereka rugi, mereka beli mobil Rp 1 miliar, Rp 500 juta, tapi waktu dijual harganya turun 20 persen 30 persen," ujar Aidil.

Saran Aidil, agar tidak memengaruhi situasi keuangan di masa depan, ada baiknya sebagian uang yang dimiliki ditabung atau digunakan untuk membeli barang yang tidak susut nilainya saat dijual nanti.

"Sebaiknya sebagian disimpan, masukkan ke tabungan atau bisa dibelikan emas. Dengan membeli perhiasan, paling nggak harganya gak surut seperti beli mobil," jelas dia.

Pilihan lainnya, uang hasil kompensasi lahan bisa digunakan untuk membeli lahan sebagai pengganti dari lahan sebelumnya.

Selain itu, bagi masyarakat yang belum memahami betul soal investasi di pasar luas, bisa menyisihkan uangnya untuk membeli emas perhiasan atau batangan.

"Kalau di desa bisa dibelikan sawah, itu bagi yang mau menggarap. Kemudian yang lain larinya bisa ke emas, bisa perhiasan atau batangan," kata Aidil.

Edukasi

Aidil menambahkan, terkait fenomena di dua daerah itu, ada baiknya setiap lembaga atau institusi yang hendak memberikan kompensasi untuk pembebasan lahan, turut memberikan edukasi kepada masyarakat agar berperilaku realistis dalam mengelola keuangan.

"Kalau ada uang penggantian dari penggusuran atau segala macam, harusnya juga diiringi dengan edukasi. Kasihan masyarakat, mereka cuma bisa menghamburkan uang sesaat, tetapi nantinya jadi miskin lagi hidupnya," ujar Aidil.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Regional
Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Regional
Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi 'Landscape' Menarik

Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi "Landscape" Menarik

Regional
Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Regional
Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Regional
Hampir Rampung, Pembangunan Venue PON XX di Mimika Sudah 90 Persen

Hampir Rampung, Pembangunan Venue PON XX di Mimika Sudah 90 Persen

Regional
Beberapa Tempat di Medan Dijadikan Lokasi Isolasi, Walkot Bobby Protes Keras Gubernur Sumut

Beberapa Tempat di Medan Dijadikan Lokasi Isolasi, Walkot Bobby Protes Keras Gubernur Sumut

Regional
Kesawan City Walk Ditutup Sementara, Begini Penjelasannya

Kesawan City Walk Ditutup Sementara, Begini Penjelasannya

Regional
Ingin Warga'Survive' di Masa Pandemi, Dompet Dhuafa Kembangkan Budidaya Ikan Nila

Ingin Warga"Survive" di Masa Pandemi, Dompet Dhuafa Kembangkan Budidaya Ikan Nila

Regional
6 Kali Raih WTP, Pemkab Wonogiri Catat Penurunan Rekomendasi dalam LHP

6 Kali Raih WTP, Pemkab Wonogiri Catat Penurunan Rekomendasi dalam LHP

Regional
Masalah Sampah Terbengkalai Bertahun-tahun, Walkot Bobby Tegaskan Bersih dalam 2 Hari

Masalah Sampah Terbengkalai Bertahun-tahun, Walkot Bobby Tegaskan Bersih dalam 2 Hari

Regional
Dorong Perusahaan Bayar THR Pekerja, Walkot Semarang: 'Cash Ojo Nyicil'

Dorong Perusahaan Bayar THR Pekerja, Walkot Semarang: "Cash Ojo Nyicil"

Regional
Dapat Bantuan 'Bedah Rumah' dari Korem 074/WRT Surakarta, Agus Tak Kuasa Bendung Haru

Dapat Bantuan "Bedah Rumah" dari Korem 074/WRT Surakarta, Agus Tak Kuasa Bendung Haru

Regional
Copot Kadis Kesehatan, Wali Kota Bobby Targetkan Medan Terbebas dari Covid-19

Copot Kadis Kesehatan, Wali Kota Bobby Targetkan Medan Terbebas dari Covid-19

Regional
Optimis Pada Energi Terbarukan, Ridwan Kamil Ajak Anak Muda Tangkap Peluang

Optimis Pada Energi Terbarukan, Ridwan Kamil Ajak Anak Muda Tangkap Peluang

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X