Ketika Kelenteng Tertua di Karawang Terendam Banjir

Kompas.com - 23/02/2021, 22:09 WIB
Locu Kelenteng Sian Djin Kupoh Astri Supriatin tengah membersihkan bagian kelenteng yang terendam banjir, Selasa (23/2/2021). KOMPAS.COM/FARIDALocu Kelenteng Sian Djin Kupoh Astri Supriatin tengah membersihkan bagian kelenteng yang terendam banjir, Selasa (23/2/2021).

KARAWANG, KOMPAS.com - Astri Supriatin (42) bersama para pegawai dan relawan tengah membersihkan Kelenteng Sian Djin Kupoh yang kebanjiran sejak Sabtu (20/2/2021).

Lilin nampak berserakan. Kue keranjang yang disimpan di kelenteng tertua di Karawang itu pun turut terendam banjir luapan Sungai Citarum. Kue keranjang itu biasanya digoreng saat Cap Go Meh.

Kelenteng ini terletak di Dusun Benteng, Kelurahan Tanjungmekar, Kabupaten Karawang, Tak jauh dari Sungai Citarum.

Baca juga: Cerita Pengungsi Banjir Karawang, Tak Kebagian Tenda, 2 Hari Tidur di Emperan Toko

Astri yang juga pengurus persembahyangan atau locu di kelenteng itu menyebut banjir mulai merendam kelenteng pada Sabtu (20/2/2021). Ketinggian air lebih dari satu meter.

"Di sini ada empat bangunan, yakni vihara, altar depan, altar belakang, dan dapur. Semuanya kebanjiran," ujar dia.

Banjir surut sejak Senin (22/2/2021) sekitar pukul 15.30 WIB. Lumpur tebal pun melapisi lantai kelenteng.

"Ini sudah termasuk bersih," ujar Astri.

Astri pun berharap pada Cap Go Meh yang jatuh pada 26 Februari 2021 banjir tak kembali datang. Lantaran tengah pandemi Covid-19, Cap Go Meh tak dirayakan seperti biasanya.

"Sembahyang. Perayaan lainnya sementara tidak ada (selenggarakan)," ujarnya.

Kelenteng Sian Djin Kupoh konon telah berusia ribuan tahun. Bahkan, kampung di sekitarnya, Dusun Benteng, dikenal sebagai kampung Tionghoa. Sebab mayoritas penduduknya merupakan keturunan Tionghoa.

Dusun Benteng disebut sudah ada sebelum Indonesia merdeka. Dusun tersebut didirikan oleh warga asal Tiongkok Selatan yang dipimpin seorang perempuan, Sian Djin Ku Poh.

Sian Djin Ku Poh berlayar dari Tiongkok Selatan sekitar tahun 1700 bersama sejumlah warga Tiongkok lainnya dari marga Khow, Law, dan Chung. Sebelum sampai di Karawang, rombongan itu sempat singgah di Bagan Siapi-api.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan mengarungi Laut Jawa, lalu menyusuri Sungai Citarum, hingga tiba di Tanjungpura.

Baca juga: Banjir Karawang Sebagian Surut, Masih Rendam 18 Desa di 7 Kecamatan

Rombongan itu kemudian mendirikan permukiman yang saat ini dikenal dengan julukan Kampung Benteng. Dusun ini disebut Kampung Benteng kerena dulunya ada benteng untuk melawan penjajahan Belanda.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Oknum Perangkat Desa Paksa Anaknya Pukul Bocah yang Menangis Minta Maaf, Ini Kata Polisi

Oknum Perangkat Desa Paksa Anaknya Pukul Bocah yang Menangis Minta Maaf, Ini Kata Polisi

Regional
Puting Beliung di Pekalongan, Belasan Rumah dan Satu Mushala Rusak

Puting Beliung di Pekalongan, Belasan Rumah dan Satu Mushala Rusak

Regional
Ratusan Warga Desa Mengungsi karena Tanah Retak, Sekda Nganjuk: Kami Baru Edukasi Soal Mitigasi

Ratusan Warga Desa Mengungsi karena Tanah Retak, Sekda Nganjuk: Kami Baru Edukasi Soal Mitigasi

Regional
Usai Dilantik, Bupati Kendal Dibawa ke Pendopo dengan Kereta Kencana

Usai Dilantik, Bupati Kendal Dibawa ke Pendopo dengan Kereta Kencana

Regional
Wali Kota Pekalongan Ziarah ke Makam Ayah dan Kakaknya Usai Dilantik

Wali Kota Pekalongan Ziarah ke Makam Ayah dan Kakaknya Usai Dilantik

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 26 Febuari 2021

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 26 Febuari 2021

Regional
Usai Dilantik, Bupati HST Tegaskan Akan Jaga Pegunungan Meratus dari Tambang

Usai Dilantik, Bupati HST Tegaskan Akan Jaga Pegunungan Meratus dari Tambang

Regional
Bupati OKU Positif Covid-19, Terdakwa Korupsi Hadiri Pelantikan Seorang Diri

Bupati OKU Positif Covid-19, Terdakwa Korupsi Hadiri Pelantikan Seorang Diri

Regional
Pengakuan Bupati Trenggalek di SMAN 6 Surabaya: Saya Hampir Dikeluarkan karena Sering Bolos

Pengakuan Bupati Trenggalek di SMAN 6 Surabaya: Saya Hampir Dikeluarkan karena Sering Bolos

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 26 Februari 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 26 Februari 2021

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 26 Februari 2021

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 26 Februari 2021

Regional
Warga 3 Hari Tak Bisa Urus Administrasi, Ternyata Para Pejabat Pergi ke Pernikahan Anak Bupati

Warga 3 Hari Tak Bisa Urus Administrasi, Ternyata Para Pejabat Pergi ke Pernikahan Anak Bupati

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 26 Februari 2021

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 26 Februari 2021

Regional
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Akan Berkantor di Desa 2 Kali Sepekan, Ini Alasannya...

Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Akan Berkantor di Desa 2 Kali Sepekan, Ini Alasannya...

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 26 Februari 2021

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 26 Februari 2021

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X