Cerita Pengungsi Banjir Karawang, Tak Kebagian Tenda, 2 Hari Tidur di Emperan Toko

Kompas.com - 23/02/2021, 09:08 WIB
Pengungsi masih bertahan di Area Ruko Karawang Hijau, Jalan Tarumanegara, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Senin (22/2/2021). KOMPAS.COM/FARIDAPengungsi masih bertahan di Area Ruko Karawang Hijau, Jalan Tarumanegara, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, Senin (22/2/2021).

KARAWANG, KOMPAS.com - Sudah dua hari Meli Nopita Dewi (32) dan keluarganya mengungsi di emperan toko di pertokoan Karawang Hijau, Jalan Tarumanegara, Karawang Barat.

Terbatasnya tenda pengungsi membuat ia dan keluarganya tidur di emperan toko. Dari delapan anggota keluarganya, dua di antaranya lansia.

"Ayah ibu saya umurnya sekitar 70 tahun. Semuanya tidur di sini," ujar dia.

Di area tersebut hanya tetdapat satu tenda dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB). "Penuh, enggak muat (tenda)," ujar dia.

Meli mengaku membutuhkan selimut lantaran jika malam udara sangat dingin dan banyak nyamuk. Sementara untuk makanan cukup lantaran disuplai dapur umum.

"Penginnya ngungsi di aula atau apalah," ujarnya.

Baca juga: Banjir Karawang Sebagian Surut, Masih Rendam 18 Desa di 7 Kecamatan

Dalam dua minggu kena dua kali banjir

Meli masih bertahan di pengungsian lantaran rumahnya masih terendam.

Ia dan keluarganya mengungsi lantaran rumahnya di Dusun Jenebin, Desa Purwadana, Kecamatan Telukjambe Timur, Kabupaten Karawang, terendam banjir hingga setinggi dahi orang dewasa.

"Sekarang sudah turun (ketinggian air)," ujar Meli ditemui di lokasi.

Air banjir datang sekitar pukul 10.00 WIB pada Sabtu lalu. Air dari luapan Sungai Citarum itu mengalir deras. Ia menyebut ini banjir kedua dalam dua minggu terakhir.

"Kemarin banjir, tapi enggak setinggi ini. Tapi lumpurnya segini," ujar Meli menunjukkan ketebalan lumpur.

Baca juga: Banjir di Karawang, Akses ke Pemukiman Lumpuh, Aliran Air Deras

Terpaksa tidur di emperan toko

Entin Kartini (40), pengungsi lainnya, menyebut anggota keluarganya ada lima orang dan yang terkecil bayi berusia empat bulan. Semuanya tidur di emperan toko.

"Tenda yang ada cuma satu, itu pun sudah penuh. Saya tidak ada tempat lagi untuk tidur, bayar hotel harganya malah, jadi terpaksa tidur di lantai emperan toko ini," kata Entin.

Entin mengaku, saat malam hari anaknya yang masih bayi sempat kedinginan. Ia pun sempat kewalahan mencari minyak kayu putih di posko pengungsi.

"Saya khawatir anak saya sakit," ujar Entin.

Baca juga: Rumah Sakit Islam Karawang Kebanjiran, Pasien Covid-19 Dirujuk ke RS Lain

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Regional
Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 4 Maret 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 4 Maret 2021

Regional
Mengaku Diculik, Nabhani Kabur karena Masalah Kantor, Keluarga Sempat Lapor Polisi, Ini Kronologinya

Mengaku Diculik, Nabhani Kabur karena Masalah Kantor, Keluarga Sempat Lapor Polisi, Ini Kronologinya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X