Kisah Samiyem Penyapu "Bong Cina", Tidak Menyerah Berapa Pun Rezeki Imlek yang Diterima

Kompas.com - 12/02/2021, 14:07 WIB
Samiyem (58) sehabis menyapu salah satu bong keluarga Tionghoa di pemakaman Cina pada pedukuhan tegallembut, Kalurahan Giripeni, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. KOMPAS.com/DANI JULIUSSamiyem (58) sehabis menyapu salah satu bong keluarga Tionghoa di pemakaman Cina pada pedukuhan tegallembut, Kalurahan Giripeni, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

KULON PROGO, KOMPAS.com – Semak belukar memenuhi komplek Pekuburan Tionghoa pada Pedukuhan Tegallembut, Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Secara umum, "Bong Cina", sebutan warga pada pekuburan yang isinya ratusan makam warga keturunan Tionghoa, memang terlihat tidak terawat.

Geliat warga Tionghoa sangat sedikit di pekuburan ini, bahkan di Tahun Baru Imlek seperti sekarang.

“Dulu ada yang dari Semarang, Yogyakarta, Surabaya. Tahun lalu hanya satu keluarga karena Corona. Tiap Imlek tidak banyak yang datang, hanya 3-4 keluarga,” kata Samiyem, warga yang tinggal di depan komplek makam.

Baca juga: Kisah Tan Deseng Si Maestro Musik Sunda: Walau Dapat Penghargaan 2 Presiden, Hidupnya Berpindah-pindah Tak Punya Rumah (1)

Jadi juru kunci sejak 2017, gantikan mertua

 

Warga menganggap Samiyem sebagai juru kunci.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Imlek salah satu yang ditunggu Samiyem. Lansia dengan rambut kepalanya yang sudah memutih ini kelahiran Kapanewon Pengasih 58 tahun silam ini.

Ia mengaku senang bertemu kembali dengan beberapa keluarga Tionghoa yang yang mempercayakan dirinya membersihkan beberapa makam keluarga mereka.

Nenek enam cucu ini seorang diri membersihkan bong sejak Atmo Suwarno, juru kunci terdahulu, meninggal dunia di usia 93 tahun pada 2017 lalu. Mbah Atmo adalah mertuanya.

Ia belajar dari Atmo soal membersihkan bong. “Saya menyapu, mencabut rumput besar, bisa juga setiap hari, dari jam 7-9. Biasanya di lima bong,” kata Samiyem.

Baca juga: Kisah Petugas Pemakaman Jenazah Covid-19 di Sleman, Tak Berani Pulang hingga Terpeleset ke Liang Lahat

Momen Imlek, momen rejeki

Biasanya, menjelang hari Imlek pada bulan Februari ataulah hari Cheng Beng di awal April, mereka makin giat membersihkan bong lantaran di hari itu ada saja yang datang untuk ziarah. Mulai dari sana terjalin hubungan baik.

“Biasanya mereka datang langsung ke bong. Ketika saya lihat mereka datang, saya datangi mereka ke sana. Biasanya pihak keluarga ngomong ‘terima kasih sudah membersihkan'. Terus dikasih uang,” kata Samiyem.

Tidak banyak, kata Samiyem. Ia diupah rata-rata Rp 30.000 satu makam yang dibersihkan. Tapi suatu waktu pernah hanya Rp 5.000 untuk sebuah makam, ataulah paling banyak Rp 50.000.

Baca juga: Kisah Cinta Sehidup Semati, Haji Fathkan Susul Istri Meninggal, hanya Terpaut Dua Jam

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengusaha Langgar Aturan, Walkot Bobby Robohkan Bangunan di Atas Drainase

Pengusaha Langgar Aturan, Walkot Bobby Robohkan Bangunan di Atas Drainase

Regional
100 Hari Kerja Walkot Bobby Fokus Atasi Sampah, Walhi: Ini Langkah Tepat

100 Hari Kerja Walkot Bobby Fokus Atasi Sampah, Walhi: Ini Langkah Tepat

Regional
Kejar Medali Emas, Provinsi Papua Kirim 14 Atlet Sepak Takraw ke PON XX 2021

Kejar Medali Emas, Provinsi Papua Kirim 14 Atlet Sepak Takraw ke PON XX 2021

Regional
Wabup Luwu Utara Resmikan Program Air Bersih untuk 60 KK di Desa Pombakka, Malangke Barat

Wabup Luwu Utara Resmikan Program Air Bersih untuk 60 KK di Desa Pombakka, Malangke Barat

Regional
Tinjau Vaksinasi di Tanjung Emas, Walkot Hendi Pastikan Vaksin Covid-19 Aman Digunakan

Tinjau Vaksinasi di Tanjung Emas, Walkot Hendi Pastikan Vaksin Covid-19 Aman Digunakan

Regional
Kejari Semarang Bantu Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar, Pemkot Berikan Apresiasi

Kejari Semarang Bantu Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar, Pemkot Berikan Apresiasi

Regional
Penanganan Covid-19 di Kota Medan Dinilai Sudah “On the Track”, Pengamat Kesehatan Puji Kinerja Bobby

Penanganan Covid-19 di Kota Medan Dinilai Sudah “On the Track”, Pengamat Kesehatan Puji Kinerja Bobby

Regional
Ada 499 Pasien Covid-19 dari Luar Semarang, Walkot Hendi Siapkan Hotel untuk Karantina

Ada 499 Pasien Covid-19 dari Luar Semarang, Walkot Hendi Siapkan Hotel untuk Karantina

Regional
Apresiasi Penanganan Covid-19  di Luwu Utara, Kapolda Sulsel: Protokol Kesehatan Jangan Kendor

Apresiasi Penanganan Covid-19 di Luwu Utara, Kapolda Sulsel: Protokol Kesehatan Jangan Kendor

Regional
Bupati IDP Harap Kedatangan Pangdam XIV Hasanuddin dan Rombongan Bisa Bantu Pulihkan Luwu Utara

Bupati IDP Harap Kedatangan Pangdam XIV Hasanuddin dan Rombongan Bisa Bantu Pulihkan Luwu Utara

Regional
Antisipasi Kerumunan, Wali Kota Hendi Batasi Kuota Vaksinasi 'Drive Thru'

Antisipasi Kerumunan, Wali Kota Hendi Batasi Kuota Vaksinasi "Drive Thru"

Regional
Pemkab Luwu Utara Genjot Pembangunan 1.005 Huntap Bagi Korban Banjir Bandang

Pemkab Luwu Utara Genjot Pembangunan 1.005 Huntap Bagi Korban Banjir Bandang

Regional
Pastikan Luwu Utara Bebas BAB Sembarangan, Bupati IDP Harap Hasil Verifikasi Kabupaten ODF Valid

Pastikan Luwu Utara Bebas BAB Sembarangan, Bupati IDP Harap Hasil Verifikasi Kabupaten ODF Valid

Regional
Tercatat 217 UMKM Ajukan Surat PIRT, Bupati Lampung Timur: Jangan Dipersulit

Tercatat 217 UMKM Ajukan Surat PIRT, Bupati Lampung Timur: Jangan Dipersulit

Regional
Dua Bangunan di Kota Metro Jadi Cagar Budaya, Walkot Wahdi: Bisa Jadi Referensi Penelitian

Dua Bangunan di Kota Metro Jadi Cagar Budaya, Walkot Wahdi: Bisa Jadi Referensi Penelitian

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X