Warga Desa Ini "Diserbu" Lalat dan Bau Busuk Setiap Musim Hujan, Ini Alasannya...

Kompas.com - 09/02/2021, 18:23 WIB
Musim hujan warga Desa Tunggur keluhkan banyaknya lalat dan bau kurang sedap karena keberadaan kandang ayam. Sayangnya Dinas Peternakan Kabupaten Magetan tidak pernah turun ke lapangan untuk memberikan solusi untuk pengatiran kandang ayam. KOMPAS.COM/GIGIHMusim hujan warga Desa Tunggur keluhkan banyaknya lalat dan bau kurang sedap karena keberadaan kandang ayam. Sayangnya Dinas Peternakan Kabupaten Magetan tidak pernah turun ke lapangan untuk memberikan solusi untuk pengatiran kandang ayam.

NGAWI, KOMPAS.com - Warga Desa Tunggur, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, mengeluhkan bau tak sedap yang berasal dari kandang ayam di sekitar permukiman warga.

Tak hanya bau, warga juga mengeluhkan banyaknya lalat yang beterbangan hingga masuk ke rumah.

Salah satu warga Desa Tunggur, Gigih mengatakan, setiap musim hujan tiba, rumah warga pasti diserbu lalat.

“Setiap hujan ya begini, lalatnya banyak dan bau tak sedap kita nikmati setiap hari,” kata Gigih lewat pesan singkat, Selasa (9/2/2021).

Warga Desa Tunggur lainnya, Sutris mengaku, lalat dan bau tak sedap itu muncul sekitar dua pekan lalu.

Baca juga: Puluhan Hotel Dijual Pemilik akibat Pandemi Covid-19, Begini Tanggapan Dinas Pariwisata Bali

Bau tersebut mulai mengganggu aktivitas masyarakat. Ia menduga, jarak kandang ayam yang dekat dengan rumah warga menjadi penyebab masalah ini.

"Jarak kandang dengan rumah 50 meter. Ya kalau hujan lalat yang banyak," katanya.

Kepala Desa Tunggur, Sono Keling mengatakan, terdapat 25 kandang milik warga berdiri di desa tersebut.

Sono mengaku, belum memahami aturan pembangunan kandang ayam di desa tersebut karena belum mendapat penyuluhan dari dinas peternakan setempat.

Menurutnya, Dinas Peternakan Kabupaten Magetan hanya turun ke lapangan saat menerima laporan dari masyarakat.

“Kalau tidak ada laporan dari masyarakat tidak akan turun. Saya tidak tahu mekanisme mengatur jarak dari pemukiman itu, kalau sudah didirikan tidak ada izin, harus bagaimana?” ujarnya.

 

Sono menjelaskan, keberadaan puluhan kandang ayam tersebut menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.

Sekitar 100 warga menggantungkan hidupnya dengan bekerja di kandang ayam tersebut.

Selama ini, pemerintah desa hanya bisa mengumpulkan para peternak dan warga untuk menyelesaikan masalah lalat dan bau yang dikeluhkan setiap musim hujan.

“Upaya dari desa kita selesaikan dengan musyawarah. Kalau desa mau menutup tidak mungkin,” imbuhnya.

Baca juga: KKB Minta Dana Desa ke Kades, Bupati Intan Jaya: Terpaksa Memberikan daripada Ditembak

Sementara Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan Kabupaten Magetan, Santi Trisnawati mengatakan, pihaknya memang tak turun ke lapangan jika tak ada pengaduan secara resmi yang diterima.

Tetapi, pihaknya pernah turun ke Desa Tunggur setelah menanggapi keluhan warga pada tahun lalu.

Berdasarkan pantauan tim dari dinas peternakan, dinas perizinan, dan dinas lingkungan hidup, peternakan di desa itu kebanyak rekanan kemitraan perusahaan.

"Kebanyakan peternak ini kurang memerhatikan pengelolaan kotoran ayam, mereka kurang rajin membersihkan," jelasnya saat dikonfirmasi, Selasa.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

H-1 Lebaran, Mensos Berikan Santunan Rp 285 Juta Kepada Korban Longsor di Solok

Regional
12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

12 Korban Tewas Longsor di Tapanuli Selatan Dapat Santunan Rp 180 Juta dari Kemensos

Regional
Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Batasi Akses Keluar Masuk Medan, Walkot Bobby Tinjau Lokasi Penyekatan

Regional
Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Kabel Optik Telkom Sarmi-Biak Terputus, Pemprov Papua Tetap Upayakan Layanan E-Government

Regional
Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Warga Kampung Nelayan Keluhkan Banjir, Walkot Bobby Instruksikan Bangun Tanggul

Regional
Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Ridwan Kamil Lelang 4 Paket Premium Produk Kolaborasi Bersama Merek Lokal

Regional
Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Jelang PON XX 2021, Pemprov Papua Buat Tim Kecil untuk Koordinasi

Regional
Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Polemik Karantina WNI, Bobby Sesalkan Informasi Tidak Benar dari Pemprov Sumut

Regional
Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Jelang Lebaran, Dompet Dhuafa Fasilitasi Pernikahan Santri Muallaf di Tangsel

Regional
Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi 'Landscape' Menarik

Ganjar Yakin Masjid Agung Purwokerto Bakal Jadi "Landscape" Menarik

Regional
Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Soal Kisruh Lokasi Karantina dengan Gubernur Sumut, Bobby: Pemkot Medan Ingin Kejelasan

Regional
Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Bangun SDM Wonogiri, Bupati Jekek Tuangkan Program Besarnya pada RPJMD 2021-2026

Regional
Hampir Rampung, Pembangunan Venue PON XX di Mimika Sudah 90 Persen

Hampir Rampung, Pembangunan Venue PON XX di Mimika Sudah 90 Persen

Regional
Beberapa Tempat di Medan Dijadikan Lokasi Isolasi, Walkot Bobby Protes Keras Gubernur Sumut

Beberapa Tempat di Medan Dijadikan Lokasi Isolasi, Walkot Bobby Protes Keras Gubernur Sumut

Regional
Kesawan City Walk Ditutup Sementara, Begini Penjelasannya

Kesawan City Walk Ditutup Sementara, Begini Penjelasannya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X