Terdampak Banjir Kalsel, Desa Dayak Meratus Rusak Diterjang Longsor, Warga: 4 Lumbung Padi Kami Rusak

Kompas.com - 23/01/2021, 06:06 WIB
Banjir bandang dan tanah longsor tidak cuma merusak permukiman warga Dayak Meratus di Kecaman Hantakan, Hulu Sungai Tengah, tapi juga mengubah lanskap ekosistem. JULIUSBanjir bandang dan tanah longsor tidak cuma merusak permukiman warga Dayak Meratus di Kecaman Hantakan, Hulu Sungai Tengah, tapi juga mengubah lanskap ekosistem.
Editor Rachmawati

"Sekarang musim ladang, walau sebagian tertimbun longsor, warga desa kami tetap beraktivitas seperti biasa. Kalau tidak, kami harus berharap pada siapa?

"Akses untuk keluar desa sangat susah, menempuh 11 kilometer, sekitar 4-5 jam untuk mengambil sembako di posko mandiri yang dibangun komunitas," ujar Hadi.

Menurut catatan Robby, pengurus Aliansi Masyarakat Adat Nusantara di Hulu Sungai Tengah, terakhir kali banjir bandang melanda kawasan Dayat Meratus terjadi tahun 2017.

Ketika itu, kata Robby, Sungai Labuan Amas meluap. Namun dampak banjir itu tidak sebesar yang terjadi pertengahan Januari ini.

Baca juga: Muhadjir: Eksploitasi Alam yang Salah Jadi Salah Satu Penyebab Banjir di Kalsel

Robby berkata, komunitas Dayak Meratus berada dalam posisi yang sangat rentan jika dilanda bencana alam.

Walau memiliki tradisi gotong-royong dan persediaan kebutuhan dasar di hutan, Robby menyebut warga adat tetap membutuhkan layanan pemerintah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Mereka yang rumahnya hilang bisa menumpang rumah keluarga. Ada juga yang membangun tenda di sekitar hutan," ujar Robby.

"Masyarakat adat selama ada hutan, mereka bisa membangun rumah sementara dari bambu untuk bertahan. Ini butuh sekitar dua minggu atau satu bulan. Tapi ukurannya hanya 4x6 meter untuk satu keluarga.

Baca juga: Banjir, Menko PMK Sebut Kalsel Tak Diprediksi Kena Dampak La Nina

"Tapi untuk membangun rumah permanen, karena ekonomi sulit, akses jalan tidak ada, kami hanya bisa berdoa semoga Tuhan memberikan solusi yang terbaik," ujar Robby.

Guru besar Institut Pertanian Bogor di bidang limnologi, Profesor Hefni Effendi, menyebut Pegunungan Meratus sebagai penyangga keseimbangan alam di Kalimantan Selatan.

Meski begitu, dalam bukunya yang terbit tahun 2016, Lingkungan dalam Perspektif Kekinian, Hefni menyebut Pegunungan Meratus "sangat ringkih terhadap eksploitasi berlebihan".

Hefni menyebut pegunungan ini sebagai menara air. Wilayahnya meliputi sejumlah kabupaten dan kota, yaitu Hulu Sungai Tengah, Balangan, Hulu Sungai Selatan, Tabalong, Kotabaru, Tanah Laut, Tapin, Tanah Bumbu, serta Banjar.

Baca juga: Soal Banjir Kalsel, Moeldoko Klaim Pemerintah Tak Obral Izin Tambang dan Sawit

Beberapa rumah milik warga Dayak Meratus yang terendam banjir di Desa Patikalain.JULIUS Beberapa rumah milik warga Dayak Meratus yang terendam banjir di Desa Patikalain.
"Menara air dimaknai sebagai salah satu bagian dalam siklus air yang dapat mengatur debit air di daerah-daerah ini, sehingga berperan sebagai perendam banjir," tulis Hefni.

"Dapat dibayangkan jika eksploitasi hutan masif terjadi bersamaan dengan penambangan terbuka yang marak dilakukan, entah banjir seperti apa yang akan dialami masyarakat seantero Kalimantan Selatan karena tidak ada lagi daerah resapan air yang dapat membendung dan menyerap tumpahan air dari langit," kata Hefni.

Dalam data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), delapan wilayah yang disebut Hefni tadi termasuk yang terendam banjir Januari ini.

Berkurangnya tutupan hutan di Kalimantan dikuatkan kajian yang dilakukan peneliti Pusat Riset Kehutanan Internasional (CIFOR) pada 2017 dengan menggunakan data citra satelit Landsat antara 1973-2015. Kajian itu menyebutkan tutupan hutan di Kalimantan jauh berkurang akibat deforestasi.

Baca juga: Menteri LHK Sebut Banjir Kalsel karena Anomali Cuaca, Bukan Susutnya DAS Barito

'Banjir karena curah hujan ekstrem'

Dayak Meratus tinggal di kawasan hutan, berjarak puluhan kilometer dari pusat ekonomi dan pemerintahan kabupaten. Sebagian besar wilayah ini hanya dapat diakses dengan berjalan kaki.dok BBC Indonesia Dayak Meratus tinggal di kawasan hutan, berjarak puluhan kilometer dari pusat ekonomi dan pemerintahan kabupaten. Sebagian besar wilayah ini hanya dapat diakses dengan berjalan kaki.
Bagaimanapun, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) serta Pemprov Kalsel menyimpulkan bahwa anomali cuaca merupakan penyebab utama banjir. Mereka membantah berkurangnya tutupan hutan berdampak pada masifnya banjir yang terjadi.

"Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito Kalsel seluas 1,8 juta hektare hanya merupakan bagian dari DAS Barito Kalsel seluas 6,2 juta hektare," begitu pernyataan KLHK.

"DAS Barito Kalsel secara kewilayahan hanya mencakup 39,3 kawasan hutan dan 60,7% area penggunaan lain bukan hutan.

"Sangat jelas bahwa banjir pada DAS Barito Kalsel, yaitu pada Daerah Tampung Air (DTA0 Riam Kiwa, Kurau, dan Barabai terjadi karena curah hujan ekstrem dan sangat mungkin karena recurrent periode 50-100 tahun," tulis KLHK.

Baca juga: Banjir di Aceh Tamiang Meluas, 4.000 Orang Mengungsi

Namun pemerintah semestinya tidak menihilkan pengaruh berkurangnya tutupan hutan dalam bencana ini, kata Fakhrudin, ilmuwan di Pusat Penelitian Limnologi LIPI.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Putus Mata Rantai Penularan Covid-19, Bupati Jekek: Harus Ada Kebijakan Terintegrasi

Putus Mata Rantai Penularan Covid-19, Bupati Jekek: Harus Ada Kebijakan Terintegrasi

Regional
Antisipasi Penyebaran Hoaks, Pemprov Papua Perkuat Peran Bakohumas

Antisipasi Penyebaran Hoaks, Pemprov Papua Perkuat Peran Bakohumas

Regional
Persentase BOR di Semarang Tinggi, Wali Kota Hendi Tambah 390 Tempat Tidur Pasien Covid-19

Persentase BOR di Semarang Tinggi, Wali Kota Hendi Tambah 390 Tempat Tidur Pasien Covid-19

Regional
Mobilitas Jadi Penyebab Kerumunan, Ganjar Ajak Masyarakat Tetap di Rumah

Mobilitas Jadi Penyebab Kerumunan, Ganjar Ajak Masyarakat Tetap di Rumah

Regional
BERITA FOTO: Tenaga Pikul Beristirahat di Atas Makam Usai Kuburkan Jenazah Pasien Covid-19

BERITA FOTO: Tenaga Pikul Beristirahat di Atas Makam Usai Kuburkan Jenazah Pasien Covid-19

Berita Foto
Kasus Covid-19 di Semarang Naik 700 Persen, Walkot Hendi Berlakukan PKM

Kasus Covid-19 di Semarang Naik 700 Persen, Walkot Hendi Berlakukan PKM

Regional
Kasus Covid-19 di Semarang Naik, Walkot Hendi Resmikan RS Darurat

Kasus Covid-19 di Semarang Naik, Walkot Hendi Resmikan RS Darurat

Regional
Akses ke Faskes Sulit, Dompet Dhuafa Sumbangkan Ambulans untuk Warga Desa Tanjung Raya

Akses ke Faskes Sulit, Dompet Dhuafa Sumbangkan Ambulans untuk Warga Desa Tanjung Raya

Regional
Peringati HUT Ke-103 Kota Madiun, Wali Kota Maidi Fokus Stop Covid-19 dan Genjot Ekonomi

Peringati HUT Ke-103 Kota Madiun, Wali Kota Maidi Fokus Stop Covid-19 dan Genjot Ekonomi

Regional
Hendi Terus Bergerak Cepat Sediakan Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Semarang

Hendi Terus Bergerak Cepat Sediakan Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Semarang

Regional
Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Regional
Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Regional
Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Regional
25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

Regional
Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X