Kompas.com - 20/01/2021, 13:25 WIB
Salah satu lokasi rawan bencana di wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jelang akhir tahun, Cianjur dihadapkan pada ancaman bencana hidrometerologi. KOMPAS.COM/FIRMAN TAUFIQURRAHMANSalah satu lokasi rawan bencana di wilayah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Jelang akhir tahun, Cianjur dihadapkan pada ancaman bencana hidrometerologi.

KOMPAS.com – Tahun 2021 tampaknya diawali dengan kabar yang kurang membahagiakan, yaitu banyak daerah yang terkena bencana. Salah satu wilayah yang terkena bencana alam adalah Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Menurut data yang dikeluarkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, mulai 1-18 Januari 2021 telah terjadi 40 bencana alam, yang meliputi 16 kejadian tanah longsor, 15 bencana banjir, dan 9 peristiwa puting beliung.

Rangkaian bencana itu mengakibatkan 40 orang meninggal dunia dan berdampak pada 92.858 jiwa. Korban jiwa tersebut berasal dari tragedi tanah longsor di Kecamatan Cimanggung, Kecamatan Sumedang.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Jabar Dani Ramdan, Jawa Barat memang merupakan daerah rawan bencana. Dari 27 kabupaten/kota, 14 daerah berada dalam kategori risiko bencana tinggi, sedangkan 13 daerah mempunyai risiko bencana sedang.

"Hanya gempa yang tidak bisa diprediksi kapan dan di mana terjadi. Tapi kalau banjir, kita lihat dari kondisi alam termasuk banjir rob karena air laut yang naik. Sedangkan, tsunami dan gempa tidak bisa diprediksi," kata Dani, dalam rilis resminya, Rabu (20/1/2021).

Baca juga: Januari Belum Rampung, 40 Bencana Alam Terjadi di Jabar, Hampir 100.000 Jiwa Terdampak

Agar masyarakat paham dan sadar tentang kondisi ini, BPBD Jabar telah menyusun kajian risiko bencana dan peta rawan bencana sampai ke tingkat desa. Selanjutnya, pihaknya juga membuat rencana penanggulangan bencana (RPB) di tingkat kabupaten/kota dan provinsi.

Dari RPB itu dapat disusun rencana kontingensi jenis kebencanaan untuk setiap kabupaten/kota.

"Dari rencana dan peta rawan bencana itu, pemerintah desa bisa menyusun, misalnya jalur evakuasi manakala akan berpotensi bencana, tempat evakuasi atau pengungsian. Kalau itu sudah ditambah kesiapan personel dan peralatan bencana, maka bencana itu bisa kita hadapi," jelasnya.

Perlu tingkatkan kewaspadaan potensi bencana

Banjir Bandang di Puncak Bogor Jawa Barat Selasa (19/1/2021).KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN Banjir Bandang di Puncak Bogor Jawa Barat Selasa (19/1/2021).

Dani menekankan agar masyarakat makin meningkatkan kewaspadaan dan kesadaran tentang potensi bencana. Dua hal itu diperlukan agar dapat meminimalisasi potensi korban meninggal dunia dan kerugian harta benda.

Dia menjelaskan apabila warga menyadari tentang itu, mereka dapat melakukan mitigasi bencana. Contohnya, masyarakat melakukan pengecekan terhadap saluran-saluran air apakah ada yang menyumbat atau tidak.

Warga juga bisa menggalakkan pemeriksaan tebing, dari sana bisa diketahui apakah vegetasi dan tembok penahan tanahnya masih layak. Jika terdapat retakan di tanah maupun di tembok penahannya apalagi terjadi rembesan air di sana, hal itu menandakan bisa terjadi potensi longsoran yang berbahaya.

Baca juga: Cerita Saksi Mata Banjir Bandang di Puncak Bogor, Suara Teriakan hingga Warga Pingsan

"Dalam kondisi demikian khususnya ketika terjadi hujan lebat, sebaiknya masyarakat yang bermukim di sekitar tebing seperti itu melakukan evakuasi ke tempat yang lebih aman," ujarnya.

Bagi masyarakat yang bermukim di bantaran sungai, bila tinggi muka air sungai sudah mencapai level yang membahayakan, warga segera melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi.

Pahami golden time

Sejumlah pengungsi bencana tanah bergerak menaiki mobil BPBD di Dusun Suradita, Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, yang berada di kaki Gunung Baros Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (17/1/2021).KOMPAS.com/BUDIYANTO Sejumlah pengungsi bencana tanah bergerak menaiki mobil BPBD di Dusun Suradita, Desa Ciengang, Kecamatan Gegerbitung, yang berada di kaki Gunung Baros Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (17/1/2021).

Dani juga mengingatkan soal golden time. Dalam golden time yang berlangsung nol sampai tiga puluh menit ketika bencana terjadi, 34 persen faktor keselamatan dari bencana bersumber dari kesiapsiagaan individu. Pengetahuan dan kemampuan yang bersangkutan dalam melakukan evakuasi menjadi hal yang krusial.

Sebanyak 31 persen keselamatan bersumber dari pertolongan orang-orang terdekat, yaitu anggota keluarga yang turut memahami soal pengetahuan dan rencana kontigensi yang dilatihkan bila terjadi bencana.

Baca juga: Sudah 1,5 Bulan Tempat Penghidupan Mereka Terendam Banjir

Pertolongan komunitas, misalnya tetangga maupun teman kerja, menunjang 17 persen faktor keselamatan.

“Peran BPBD, Tim SAR, dan petugas lainnya hanya menyumbang 1,8 persen saja, karena pada saat golden time mereka tidak berada persis di tempat bencana. Dengan demikian kesiapsagaan individu, keluarga dan komunitas mutlak diperlukan dalam membangun masyarakat yang berbudaya tangguh bencana," urainya.

Penulis: Kontributor Bandung, Dendi Ramdhani | Editor: Aprillia Ika

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Regional
Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Regional
Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Regional
Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Regional
Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Regional
Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Regional
Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Regional
Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Regional
Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Regional
Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X