Kompas.com - 18/01/2021, 07:15 WIB
Pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC yang difoto pada 1 Januari 2015. SHUTTERSTOCK/DHEMMY ZEIRIFANDIPesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC yang difoto pada 1 Januari 2015.

KOMPAS.com- Sekitar sepekan yang lalu, pesawat Sriwijaya Air SJ 182 rute Jakarta-Pontianak terjatuh beberapa menit usai lepas landas, Sabtu (9/1/2021).

Satu-persatu jasad penumpang kini telah ditemukan.

Hingga Minggu (17/1/2021), tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri berhasil mengidentifikasi 29 korban dari jumlah total 62 orang.

Mereka yang berhasil diidentifikasi kemudian dipulangkan ke rumah duka.

Baca juga: Maling Curi Dorongan Bayi hingga Tabung Gas Milik Korban Sriwijaya Air

1. Suami istri korban Sriwijaya Air dimakamkan terpisah

Ihsan Adhlan Hakim dan Putri Wahyuni merupakan pasangan suami istri penumpang pesawat Sriwijaya Air yang dinyatakan hilang kontak pada Sabtu (9/1/2021).Tangkapan layar Instagram Ihsan Adhlan Hakim dan Putri Wahyuni merupakan pasangan suami istri penumpang pesawat Sriwijaya Air yang dinyatakan hilang kontak pada Sabtu (9/1/2021).
Jenazah warga Pekanbaru, Putri Wahyuni dipulangkan ke rumah duka setelah berhasil diidentifikasi.

Isak tangis menyambut datangnya jenazah Putri di rumah duka, Jalan Sembilang, Kelurahan Limbungan, Rumbai Pesisir, Pekanbaru, Riau, Minggu (17/1/2021).

Sang ibu, Ratna tak kuasa menahan air mata sembari memeluk peti jenazah anaknya.

Putri Wahyuni dan suaminya Ihsan Adhlan Hakim menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ 182 pada Sabtu (9/1/2020).

Perempuan yang lahir pada 9 Mei 1995 tersebut menikah dengan Ihsan yang merupakan warga Pontianak, Kalimantan Barat.

Mereka menikah 10 bulan sebelum insiden jatuhnya pesawat Sriwijaya Air itu terjadi.

Baca juga: Jadikan Punggung Sebagai Tameng Reruntuhan Saat Gempa, Sertu Palemba Lindungi Keluarga, Sang Putra Tewas

Keduanya memutuskan pindah ke Jakarta usai menikah.

Ihsan dan Putri sedianya akan mengadakan syukuran di Pontianak. Mereka pun berangkat dari Bandara Soekarno Hatta menuju Pontianak dengan menggunakan Sriwijaya Air.

Namun, baru beberapa menit setelah lepas landas, pesawat yang mereka tumpangi terjatuh.

Selain jenazah Putri, jenazah sang suami juga telah ditemukan.

Suami istri itu dimakamkan di lokasi yang berbeda. Putri dimakamkan di kampung halamannya di Pekanbaru, Riau. Sedangkan sang suami dimakamkan di Pontianak.

Kakak putri, Aulia mengaku, Putri adalah sosok yang sangat disayangi oleh keluarga.

"Dia satu-satunya adik kami yang perempuan dan bungsu. Kalau di mata kami, dia segala-galanya bagi kami," kata sang kakak pilu.

Baca juga: Putri Wahyuni Jadi Korban Sriwijaya Air, Keluarga: Dia Segala-galanya bagi Kami

 

Sumarzen Marzuki menunjukkan foto putra bungsunya Fadly Satrianto yang bekerja sebagai Co-Pilot di maskapai penerbangan Nam Air, anak perusahaan Sriwijaya Air. ANTARA/DIDIK SUHARTONO Sumarzen Marzuki menunjukkan foto putra bungsunya Fadly Satrianto yang bekerja sebagai Co-Pilot di maskapai penerbangan Nam Air, anak perusahaan Sriwijaya Air.
2. Sempat ditelepon sebelum berangkat, sang ibu menangis dekap foto kopilot Fadly

Tangis pecah mengiringi kedatangan jenazah kopilot Fadly Satrianto di rumah duka, Jalan Tanjung Pinang, Krembangan, Surabaya, Jumat (15/1/2020).

Sang ibunda, Ninik Andayani tak bisa menyembunyikan kesedihannya yang mendalam.

Tangannya tak lepas meraba foto wajah sang putra dengan seragam pilotnya.

Tubuh Nanik pun sempat lemas hingga harus dipegangi oleh anggota keluarga yang lain.

Sesaat sebelum terbang dari bandara, Fadly memang sempat menelepon ibundanya.

Menghubungi sang ibunda adalah hal yang selalu dilakukan Fadly sebelum terbang dan menjalankan tugas.

Sang ayah Sumarzen Marzuki mengatakan, putranya gugur saat menjalankan tugas.

Baca juga: Maling Curi Dorongan Bayi hingga Tabung Gas Milik Korban Sriwijaya Air

Sumarzen berharap putranya meninggal dalam keadaan syahid.

"Gugur dalam tugas adalah salah satu amal baik, mudah-mudahan syahid," kata dia, melansir Surya.co.id.

Sumarzen juga meminta anaknya dimaafkan jika memiliki kesalahan.

"Kami mohon dimaafkan putra kami," kata dia.

Melansir Antara, Fadly Satrianto yang lahir di Surabaya merupakan bungsu dari tiga bersaudara pasangan Sumarzen Marzuki dan Ninik Andriyani.

Alumnus Unair itu menjadi korban ketika dirinya menjadi ekstra kru di pesawat Sriwijaya Air.

Sebab, Fadly bekerja di Nam Air, anak perusahaan Sriwijaya Air.

Jasad Fadly teridentifikasi setelah sidik jari telunjuk kanan identik dengan sidik jarinya di KTP.

Baca juga: Jenazah Kopilot Fadly Tiba, Sang Ayah: Dia Gugur Dalam Tugas, Semoga Syahid

3. Isak tangis keluarga di Bandara Supadio Pontianak

Jenazah Agus Minarni (47), satu di antara penumpang pesawat Sriwijaya Air yang berhasil teridentifikasi tiba di Bandara Supadio Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (16/1/2021) sore. Sejumlah keluarga yang telah menunggu sejak siang hari, sambil memangku foto korban, mereka tak kuat menahan tangis, saat peti jenazah diturunkan dari pesawat dan dimasukkan ke dalam mobil ambulans untuk dibawa ke rumah duka di Desa Sengkubang, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah.KOMPAS.COM/HENDRA CIPTA Jenazah Agus Minarni (47), satu di antara penumpang pesawat Sriwijaya Air yang berhasil teridentifikasi tiba di Bandara Supadio Pontianak, Kalimantan Barat (Kalbar), Sabtu (16/1/2021) sore. Sejumlah keluarga yang telah menunggu sejak siang hari, sambil memangku foto korban, mereka tak kuat menahan tangis, saat peti jenazah diturunkan dari pesawat dan dimasukkan ke dalam mobil ambulans untuk dibawa ke rumah duka di Desa Sengkubang, Kecamatan Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah.
Jenazah salah seorang warga Kecamatan Mempawah Hilir, Mempawah bernama Agus Minarni (47) tiba di Bandara Supadio Pontianak, Sabtu (16/1/2021) sore.

Sejak siang hari, keluarga korban menunggu kedatangan jenazah di bandara.

Sembari memangku foto Minarni, tangis keluarga pecah saat peti jenazah diturunkan dari pesawat dan dimasukan ke dalam mobil ambulans.

Selanjutnya, jenazah dibawa ke rumah duka untuk dimakamkan.

Kepala Kantor Pencairan dan Penyelamatan Pontianak, Yopi Haryadi mengatakan, kedua jenazah tiba di Bandara Internasional Supadio Pontianak pada pukul 13.30 WIB dan 16.05 WIB.

Menurut Yopi, jenazah pertama yang tiba di Pontianak atas nama Ihsan Adhlan Hakim dengan menggunakan pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT 684.

Kemudian disusul jenazah Agus Minarni, menggunakan pesawat Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SI 186.

Baca juga: Isak Tangis Keluarga Sambut Jenazah Agus Minarni di Bandara Supadio Pontianak

4. Korban Sriwijaya Air dimakamkan sesuai wasiatnya

Jenazah warga Lampung yang menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, Pipit Piyono (25) tiba di Terminal Kargo Bandara Radin Inten II, Lampung, Sabtu (16/1/2021).

Selanjutnya jenazah Pipit Piyono diserahkan kepada pihak keluarganya.

Paman korban yang bernama Sabar (37) menyebut, keluarga telah ikhlas melepas kepergian Pipit Piyono.

"Keluarga sudah menerimanya dengan ikhlas," kata dia.

Sesuai wasiat Pipit Piyono, jenazah akan dimakamkan di kampung kediaman korban di Desa Toto.

"Sesuai permintaan korban semasa hidup, almarhum ingin dimakamkan di Toto Makmur," kata Sabar.

Baca juga: Dianggap Mata-mata Polisi, Tahanan Narkoba Tewas Dikeroyok hingga Tewas, Belum Genap Sehari Huni Sel

5. Jenazah Indah sudah teridentifikasi, anaknya belum ada kabar

Yusrilanita Ibunda Indah, dan adik-adiknya berdoa di depan makam Indah Halima Putri yang tiba hari ini dari Jakarta setelah berhasil diidentifikasiAMRIZA NURSATRIA HUTAGALUNG Yusrilanita Ibunda Indah, dan adik-adiknya berdoa di depan makam Indah Halima Putri yang tiba hari ini dari Jakarta setelah berhasil diidentifikasi
Jenazah warga Ogan Ilir yang menjadi korban jatuhnya pesawat Sriwijaya Air, Indah Halima Putri tiba di kampung halamannya, Minggu (17/1/2021) sore.

Sang ibu, Yursilanita tak berhenti berzikir saat jenazah putrinya tersebut dimakamkan.

Ayah Indah, Ridwan mengatakan, dari rombongan keluarga dan kerabatnya, masih ada beberapa orang yang jenazahnya belum ditemukan dan teridentifikasi.

Mereka adalah anak Indah, Arkana Nadib Wahyudi (7) dan keponakannya, Rizky Nabila.

Adapun yang sudah teridentifikasi oleh Tim DVI ialah Indah, suami Indah dan mertuanya.

"Selain Indah, suami dan ibu mertuanya juga sudah terindentifikasi, tinggal anaknya dan keponakan suaminya yang belum dan saya terus berkoordinasi dengan Tim DVI dan Sriwijaya Air," kata Ridwan.

Manajer Distrik Sriwijaya Air Palembang Yudho Prihatin mengungkapkan akan berusaha menemukan anak indah dan Rizky.

"Hari ini kita menyerahkan jenazah Indah, namun kita tetap masih konsen karena masih ada pekerjaan menemukan anak Indah dan Rizky yang belum teridentifikasi," kata Yudho.

Sumber: Kompas.com (Penulis : Idon Tanjung, Hendra Cipta, Tri Purna Jaya | Editor : Aprillia Ika, David Oliver Purba, Teuku Muhammad Valdy Arief), Surya.co.id, Antara



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Regional
Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Regional
Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Regional
Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Regional
Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Regional
Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Regional
Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Regional
Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Regional
Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Regional
Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Program Pemberdayan Hidroponik di Sulsel Diapresiasi Dompet Dhuafa, Mengapa?

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X