Di Palu, Buaya Muara Makin Agresif karena Kehilangan Habitat

Kompas.com - 02/01/2021, 12:55 WIB
Seekor buaya yang berkalung ban sepeda motor di lehernya berjemur di pantai di Kota Palu, Sulawesi Tengah, 16 Januari 2018. Antara/Mohamad Hamzah via REUTERSSeekor buaya yang berkalung ban sepeda motor di lehernya berjemur di pantai di Kota Palu, Sulawesi Tengah, 16 Januari 2018.
Editor Rachmawati

"Pembuatan tanggul-tanggul di sekitar sungai, ini mulai terjadinya konflik-konflik itu, karena manusia mengambil habitat dari buaya itu, sehingga buaya di Teluk Palu itu kehilangan rumahnya," tukas Fadly.

Menurutnya pembangunan pemukiman dan tanggul telah menghilangkan daerah rawa-rawa, termasuk ekosistem bakau (mangrove), tempat berkembang biaknya ikan dan kepiting, yang menjadi makanan utama buaya.

Fadly menjelaskan sampai 2017, buaya memiliki sarang di wilayah muara sungai Palu, namun tempat itu telah rusak akibat tsunami di Teluk Palu pada 28 September 2018.

Pembangunan tanggul laut sepanjang 7,2 kilometer di sepanjang pesisir Teluk Palu untuk menahan banjir rob dan ombak sejak akhir 2019, membuat satwa liar itu bergerak lebih jauh, meninggalkan habitat utama mereka.

Baca juga: Gigit Tangan Warga hingga Hampir Putus, Buaya Muara di Palu Disebut Makin Banyak dan Agresif, Ini Analisisnya

Mitigasi dengan Kegiatan Pengawasan Buaya

Sudaryanto Lamangkona, Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Palu menilai dalam jangka pendek perlu dilakukan kegiatan pengawasan pergerakan buaya di wilayah pesisir Teluk Palu terutama untuk melindungi aktivitas nelayan di 13 kelurahan.

Selain itu pesisir Teluk Palu yang memiliki garis pantai sepanjang 41 kilometer, juga memiliki banyak lokasi yang digunakan masyarakat untuk kegiatan berenang dan rekreasi.

“Sayang sekali kalau keindahan Teluk Palu itu bisa menjadi rusak, tidak lagi menjadi impian orang untuk bisa merasakan bagaimana nikmatnya berenang hanya karena terancam keselamatan mereka, ketika berenang ada buaya," katanya.

Baca juga: Mandi di Pantai, Tangan Pria Paruh Baya Ini Nyaris Putus Digigit Buaya

Jumlah buaya di sungai Palu diperkirakan sekitar 60 ekor, termasuk satu ekor buaya berkalung ban yang kemunculannya pada 2016 menyita perhatian luas publik.

Upaya melepaskan kalung ban melibatkan ahli menangkap buaya dalam dan luar negeri pada awal tahun ini terpaksa dihentikan karena pandemi Covid-19

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Soal Gerakan Cinta Zakat, Ganjar: Manfaatnya Hebat

Soal Gerakan Cinta Zakat, Ganjar: Manfaatnya Hebat

Regional
Ridwan Kamil: Gerakan Pramuka Harus Tumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Ridwan Kamil: Gerakan Pramuka Harus Tumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Regional
Semarang Jadi Kota Terbaik di PPD Jateng, Hendi: Kita Kawal untuk Realisasi Program

Semarang Jadi Kota Terbaik di PPD Jateng, Hendi: Kita Kawal untuk Realisasi Program

Regional
Wujudkan Masyarakat Maju, Bupati dan Wabup Wonogiri Siapkan 7 Program

Wujudkan Masyarakat Maju, Bupati dan Wabup Wonogiri Siapkan 7 Program

Regional
Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Regional
Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Regional
Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Regional
Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Regional
Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Regional
Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Regional
Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Regional
Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X