Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Penemuan Terowongan Tua di Proyek Bendungan, Diduga Dibangun 900 Tahun Lalu di Masa Kerajaan Bali Kuno

Kompas.com - 10/12/2020, 15:55 WIB
Rachmawati

Editor

KOMPAS.com - Sebuah terowongan kuno ditemukan di area pembangunan bendungan Tamblang, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali pada Sabtu (28/11/2020).

Tinggi terowongan sekitar 170 sentimeter dengan lebar 70 sentimeter. Sedangkan panjang terowongan sekitar 480 meter.

Karakter dan ukuran terowongan tersebut sama dengan terowongan yang sebelumnya ditemukan di sekitar Pura Lebah, Desa Suwug dan Desa Sangsit, Kecamatan Sawan.

Pada terowongan yang ditemukan di Desa Sangsit, ditemukan prasasti dengan tahun pembuatan 933 Saka atau 1.011 masehi.

Baca juga: Awalnya Diduga dari Zaman Belanda, Terowongan Tua Ini Terindikasi dari Masa Kerajaan Bali Kuno

"Memperhatikan dimensi, tinggi terowongan, dan lebar ada kesamaan atau kemiripan dengan terowongan di dekat sana," kata Kepala Balai Arkeologi Denpasar I Gusti Made Suarbhawa saat ditemui di Denpasar, Kamis (10/12/2020).

Merujuk keterangan tahun pembuatan, diperkirakan terowongan tersebut dibangun sekitar 900 tahun lalu di masa Kerajaan Bali Kuno.

Dari catatan sejarah dan sejumlah prasasti, Kerajaan Bali Kuno memerintah Bali dari abad ke-10 hingga 15 masehi.

Baca juga: Terowongan Tua Ditemukan di Area Pembangunan Bendungan, Diduga Proyek Mangkrak Zaman Belanda

"Ini dari dari zaman Raja Anak Wungsu yang merupakan anak dari Raja Udayana," kata Suarbhawa.

Sementara itu dari Prasasti Bebetin yang sebelumnya ditemukan, disebutkan jika masyarakat di masa itu memiliki keahlian yang disebut undahagi arungan atau aktivitas pembuatan terowongan untuk keperluan pengairan.

Saat dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan Buleleng Gede Dody Sukma Otavia Askara mengatakan terowongan tersebut awalnya peninggalan dari penjajahan Belanda.

Dugaan tersebut berdasarkan penuturan para tetua Desa Sawan tempat lokasi terowongan kuno.

"Bahwa gua tersebut telah ada sejak zaman Belanda," kata Dody saat dihubungi, Jumat (4/12/2020).

Baca juga: Terowongan Setinggi 1 Meter di Brebes, Warga Harus Membungkuk Saat Melintas

Berharap dipertahankan

Sebuah terowongan tua ditemukan di area proyek pembangunan Bendungan Tamblang, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, Sabtu (28/11/2020).
Istimewa Sebuah terowongan tua ditemukan di area proyek pembangunan Bendungan Tamblang, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, Sabtu (28/11/2020).
Kepala Balai Arkeologi Denpasar I Gusti Made Suarbhawa dan sejumlah tim telah memeriksa terowongan itu pada Selasa (8/12/2020).

Ia mengatakan temuan terowongan tua untuk irigasi tersebut bisa memberikan pelajaran bagi generasi sekarang dan akan datang.

Menurutnya leluhur saat itu sudah memikirkan kesejahteraan mengelola alam sekitar untuk meningkatkan kebutuhan hidup.

Suarvbhawa mengatakan meskipun proyek pembuat terowongan itu gagal atau berhasil, namun yang terpenting adalah nilai semangat gotong royong dan kerja keras.

Baca juga: Tak Ingin Memangkas Bukit, Basuki Perintahkan Bangun Terowongan Tol Yogyakarta-Bawen

"Terpennting adalah semangat gotong royong dan kemauan kerja keras yang perlu kita warisi," katanya.

Setelah temuan tersebut, pihaknya segera meneliti lebih intensif di sekitar kawasan proyek Bendungan Tamblang untuk menemukan sisa budaya yang ditinggalkan.

Sementara terkait rencana menutup terowongan yang ada di bagian fondasi bendungan, ia mengaku menyerahkan sepenuhnya kepada penggarap bendungan.

Namun sisa terowongan yang ada di luas as bendungan diharapkan dipertahankan.

SUMBER: KOMPAS.com (Penulis: Imam Rosidin | Editor: Dheri Agriesta)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com