Terbukti Lalai, Polisi Penembak Mahasiswa di Kendari Divonis 4 Tahun Penjara

Kompas.com - 02/12/2020, 05:30 WIB
Jaksa penuntut umum Herlina dari Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara mengikuti sidang virtual kasus penembakan Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kamis (24/9/2020), di Kendari, Sultra. Dalam sidang, saksi ahli menyatakan dua anak peluru yang ditemukan identik dengan senjata milik terdakwa. KOMPAS/SAIFUL RIJAL YUNUS Jaksa penuntut umum Herlina dari Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara mengikuti sidang virtual kasus penembakan Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kamis (24/9/2020), di Kendari, Sultra. Dalam sidang, saksi ahli menyatakan dua anak peluru yang ditemukan identik dengan senjata milik terdakwa.

KENDARI, KOMPAS.com - Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memvonis Brigadir AM, terdakwa kasus penembakan Randi, mahasiswa di Kendari, Sulawesi Tenggara ( Sultra) hukuman empat tahun penjara.

Sidang yang digelar secara virtual di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan ini diketuai Majelis Hakim Agus Widodo, Selasa (1/12/2020).

Majelis hakim menyatakan oknum polisi dari Satreskrim Polresta Kendari itu terdakwa terbukti melanggar Pasal 359 KUHP dan Pasal 360 KUHP ayat 2, karena kelalaiannya menyebabkan warga Kendari Maulida Putri terluka dan seorang mahasiswa tertembak hingga meninggal dunia.

"Terdakwa lalai karena membawa senjata api dan melepaskan tembakan sebanyak dua kali saat membubarkan unjuk rasa mahasiswa di sekitar kantor dinas tenaga kerja dan transmigrasi," kata ketua majelis hakim saat membaca vonis dalam sidang, Selasa.

Baca juga: Seorang Warga Kendari Temukan Mortir yang Masih Aktif

Menurut Agus, dua peluru itu berdasarkan keterangan ahli yang dibacakan hakim menembus dada kiri Randi dan satu proyektil lainnya melukai kaki kanan Maulida Putri yang tengah berada di rumahnya.

Setelah dilakukan uji balistik terhadap dua proyektil itu identik dengan peluru pembanding yang disita dari pistol milik Abdul Malik.

Mendengar vonis yang dinyatakan oleh hakim, Nasrudin, kuasa hukum terdakwa Brigadir AM mengatakan masih berpikir untuk mengajukan banding.

"Saya berencana akan melakukan banding setelah berkomunikasi dengan terdakwa dan keluarganya," ungkap Nasrudin saat ditemui di kantornya di Kendari.

Dikatakan Nasrudin, dirinya tidak sepakat dengan putusan hakim.

Sebab, majelis hakim tidak mempertimbangkan ahli forensik yang menyatakan tidak ada darah di proyektil yang tertancap di gerobak martabak di mana korban Randi ditemukan terjatuh.

Baca juga: Jembatan Teluk Kendari Diresmikan, Ojek Perahu Khawatir Kehilangan Pekerjaan

Diberitakan sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Sulawesi Tenggara (Kejati Sultra) telah membacakan tuntutannya dalam sidang yang digelar secara virtual di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Selasa (10/11/2020).

Koordinator JPU Kejati Sultra Herlina Rauf menilai Brigadir AM terbukti bersalah membawa senjata api saat mengamankan aksi unjuk rasa mahasiswa di gedung DPRD Sultra pada Kamis (26/9/2019).

Tindakan itu dianggap menyebabkan seorang mahasiswa Universitas Halu Oleo Kendari bernama Randi tewas dan seorang warga bernama Maulida Putri terluka.

"Sebagaimana diatur dalam pasal 359 KUHP dan Pasal 360 ayat 2 KUH Pidana menjatuhkan pidana terdakwa Abdul Malik berupa pidana penjara selama 4 tahun, dikurangi selama terdakwa berada di dalam tahanan sementara. Meminta terdakwa tetap ditahan," kata Herlina yang membacakan ulang tuntutan saat dihubungi, Rabu (11/11/2020).



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Banjir Surut, Arus Lalin di Bawah Jembatan Tol Kaligawe Bisa Dilewati Kendaraan

Banjir Surut, Arus Lalin di Bawah Jembatan Tol Kaligawe Bisa Dilewati Kendaraan

Regional
Fakta Seputar Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Kelainan Genetik dan Sempat Buat Takut Nelayan

Fakta Seputar Bayi Hiu Berwajah Mirip Manusia, Kelainan Genetik dan Sempat Buat Takut Nelayan

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 28 Febuari 2021

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 28 Febuari 2021

Regional
Menikmati Nasi Minyak, Makanan Khas Palembang yang Dulu Disantap Keluarga Sultan

Menikmati Nasi Minyak, Makanan Khas Palembang yang Dulu Disantap Keluarga Sultan

Regional
Tak Tertampung, Ratusan Pelajar SMP di Nunukan Bakal Belajar di SD

Tak Tertampung, Ratusan Pelajar SMP di Nunukan Bakal Belajar di SD

Regional
Masih Ingat Ibu di Cianjur yang Viral Hamil 1 Jam lalu Melahirkan, Ternyata Dihamili Mantan Suami

Masih Ingat Ibu di Cianjur yang Viral Hamil 1 Jam lalu Melahirkan, Ternyata Dihamili Mantan Suami

Regional
Respons PDI-P soal OTT Gubernur Sulsel: Orang Baik Tak Cukup, Kadang Lupa Diri

Respons PDI-P soal OTT Gubernur Sulsel: Orang Baik Tak Cukup, Kadang Lupa Diri

Regional
Perjuangan Driver Ojol di Semarang Terobos Banjir Demi Antar Makanan ke Pelanggan

Perjuangan Driver Ojol di Semarang Terobos Banjir Demi Antar Makanan ke Pelanggan

Regional
16.909 Guru dan Tenaga Kependidikan di DIY Bakal Divaksin Covid-19 Tahap 2

16.909 Guru dan Tenaga Kependidikan di DIY Bakal Divaksin Covid-19 Tahap 2

Regional
DPRD Sumbar Minta BPK Audit Dana Penanganan Covid-19 Rp 49 Miliar

DPRD Sumbar Minta BPK Audit Dana Penanganan Covid-19 Rp 49 Miliar

Regional
Relokasi Korban Longsor Nganjuk Harus Pertimbangkan Aspek Sosial-Budaya

Relokasi Korban Longsor Nganjuk Harus Pertimbangkan Aspek Sosial-Budaya

Regional
BCA Bantah Laporkan Ardi Soal Kasus Salah Transfer Rp 51 Juta: Itu Mantan Karyawan

BCA Bantah Laporkan Ardi Soal Kasus Salah Transfer Rp 51 Juta: Itu Mantan Karyawan

Regional
Asal-usul Tegal, dari Pelaut Portugis hingga Cerita Ki Gede Sebayu

Asal-usul Tegal, dari Pelaut Portugis hingga Cerita Ki Gede Sebayu

Regional
Tradisi Sarapan Para Raja di Keraton Yogyakarta, dari Teh, Susu Cokelat hingga Gudeg

Tradisi Sarapan Para Raja di Keraton Yogyakarta, dari Teh, Susu Cokelat hingga Gudeg

Regional
Hiperaktif, Bocah 9 Tahun Penyandang Disabilitas Diikat ke Pohon dan Dikurung Dalam Rumah

Hiperaktif, Bocah 9 Tahun Penyandang Disabilitas Diikat ke Pohon dan Dikurung Dalam Rumah

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X