Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cerita Berta 11 Tahun Jadi Guru Honorer, Jalan Kaki Susuri Hutan ke Sekolah dan Dipinjami Pondok oleh Warga

Kompas.com - 25/11/2020, 13:55 WIB
Rachmawati

Editor

Suasana sepi, hanya terdengar suara burung dan nyanyian hutan. Sesekali ia melewati jalur menanjak, menuruni bukit, dan melintasi bebatuan.

“Kalau tidak hati-hati, bisa jatuh,” Berta mengingatkan saat kami menanjaki jalan berbukit.

Ketika hujan, kata Berta, jalan tanah ini licin dan lengket.

Baca juga: Kisah Guru Honorer di Daerah Terpencil, Jalan 10 Km Lewat Jembatan Bambu Demi Mengajar

Biasanya, ia menggunakan payung ke sekolah ketika hujan. Tak jarang, Berta menemui ular kobra, monyet, bahkan orangutan.

“Monyet paling sering ketemu. Orangutan dan ular jarang-jarang, tapi ular di sini rata-rata berbahaya, ular kobra. Tapi, syukur sejauh ini saya aman saja,” harap Berta.

Awal mengajar pada 2009, Berta jalan kaki bersama anaknya, Emanuel. Saat itu Emanuel masih berusia lima tahun.

Tiap pagi Berta membawanya ke sekolah. Keduanya menyusuri jalan sejauh 5 kilometer ini sampai sang anak masuk SD hingga lulus di sekolah itu.

Kini, Emanuel sudah duduk di bangku SMK dan pindah tinggal di Samarinda bersama tante atau adik Berta.

Baca juga: Kisah Guru di Pedalaman Papua, Gaji Habis Beli Air dan Minyak Tanah

Karena itu, hanya Berta seorang diri yang kini masih bolak-balik dari rumah ke sekolah.

Menuju sekolah, Berta mengaku butuh waktu satu setengah sampai dua jam jalan kaki. Ia biasanya berangkat dari rumah pukul 04.30 Wita dan tiba di sekolah pukul 07.30 Wita.

Selesai mengajar, Berta pulang sekitar pukul 12.00 Wita atau 13.00 Wita. Ia akan tiba di rumahnya sekitar pukul 16.00 Wita sampai 17.00 Wita.

Bekal nasi yang ia bawa kadang dimakan langsung di sekolah setelah jam pulang.

Baca juga: Kisah Guru Berkeliling 6 Kampung, Bantu Murid Belajar di Rumah

“Kalau jalan sudah terlalu capek kadang lapar, saya makan di perjalanan. Istirahat sebentar makan dulu, baru lanjut jalan lagi,” tutur Berta.

“Karena jalan siang itu lebih cepat capek ketimbang pagi hari. Karena itu, sampai rumah agak lambat,” kata Berta.

Begitu tiba di rumah, Berta mengaku langsung tertidur karena lelah. Ia sudah tak sempat membantu suami di kebun ataupun mengurusi dapur.

“Setelah bangun baru masak-masak,” ucap Berta.

Baca juga: Kisah Guru di Pedalaman Papua, Gaji Habis Beli Air dan Minyak Tanah

Rumah tanpa penerangan

Saat ini Berta dan suaminya tinggal di pondok milik warga yang jaraknya kurang 2 kilometer dari sekolah.

Tak ada listrik di rumah ini, keduanya menggunakan penerangan lampu pelita di malam hari.

“Sebenarnya masih jauh juga, tapi daripada lima kilo, lebih baik satu kilo lebih," tutur Berta. Pondok yang kini ditempati Berta bersama suaminya terbuat dari kayu.

Tampak banyak anjing peliharaan yang menjadi penjaga pondok.

Suami Berta membuka kebun ubi-ubian di sekitar pondok. Menuju pondok ini, Berta masih menyusuri jalan yang sama, tetapi lebih dekat dari jarak sebelumnya.

Baca juga: Kisah Guru di Pedalaman Papua, Gaji Habis Beli Air dan Minyak Tanah

Dia memotong jalan melintasi bukit bebatuan, menuruni tanjakan, dan melintasi beberapa kebun warga.

“Di tempat yang batu-batu itu ada ular. Sepertinya berada di lubang-lubang batu. Saya pernah lihat besar sekali. Saya paling takut lewat di situ, tapi itu cuma-cuma satu-satunya jalan,” terang Berta.

Beratnya medan ini kadang membuat Berta putus asa. Berta mengaku sempat terlintas di benaknya ingin berhenti mengajar dan fokus membantu suami menjual hasil kebun di pasar.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com