Kisah Pilu Uun, Suami dan 2 Anaknya Tertimbun di Lubang Tambang Emas, Satu Diketahui Meninggal

Kompas.com - 22/11/2020, 13:42 WIB
Keluarga dua bersaudara asal Salopa, Tasikmalaya yang tertimbun di lubang tambang emas Kalimantan Tengah sedang berdoa bersama dan menemani ibu korban, Jumat (20/11/2020). KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHAKeluarga dua bersaudara asal Salopa, Tasikmalaya yang tertimbun di lubang tambang emas Kalimantan Tengah sedang berdoa bersama dan menemani ibu korban, Jumat (20/11/2020).

KOMPAS.com- Uun (50) mendadak lemas saat menyaksikan berita pencarian penambang emas yang tertimbun longsor di televisi.

Pertambangan emas di kawasan Sungai Seribu, Kelurahan Pangkut, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah yang diberitakan itu adalah tempat kerja suami dan dua anak Uun.

Uun semakin syok ketika mengetahui seorang anaknya ditemukan meninggal dunia.

"Allahu Akbar," ucap Uun yang langsung pingsan.

Para saudara Uun yang kebetulan bersamanya kemudian membaringkan Uun dan berusaha tetap membuatnya sadar dengan mengusapkan minyak kayu putih.

Baca juga: Tiga dari 10 Penambang yang Tertibun dalam Lubang Tambang 60 Meter Ditemukan Tewas

Suami dan dua anak jadi korban

Ilustrasishutterstock Ilustrasi
Suami Uun, Mukadir dan dua anaknya, Yuda dan Reza, menjadi korban tertimbun longsoran tanah.

"Ini ibu dari dua bersaudara yang tertimbun itu yaitu Yuda dan Reza. Suaminya pun sama tertimbun atas nama Mukadir. Saya adiknya atau paman dua bersaudara," kata Obing (53), saat mendampingi Uun.

Namun baru salah satu anaknya yang ditemukan dalam kondisi tewas oleh tim SAR.

Sedangkan suami dan satu anaknya masih belum ditemukan.

Mereka berharap agar keluarganya bisa dipulangkan dan dimakamkan di Tasikmalaya.

Baca juga: Ibu Dua Bersaudara Penambang Emas Pingsan Saat Tahu Salah Satu Anaknya Tewas

Tim gabungan mengevakuasi jenazah penambang yang tertimbun longsor dalam lubang tambang sedalam 60 meter di Kelurahan Pangkut, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Jumat (20/11/2020).  KOMPAS.com/BASARNAS Tim gabungan mengevakuasi jenazah penambang yang tertimbun longsor dalam lubang tambang sedalam 60 meter di Kelurahan Pangkut, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, Jumat (20/11/2020).

Sudah pasrah

Dari tiga keluarganya itu, Yuda lebih dulu berangkat ke lokasi tambang, yaitu sekitar 6 bulan lalu.

Kemudian tiga bulan kemudian disusul anaknya, Reza.

Terakhir adalah suaminya, Mukadir yang berangkat ke Kalimantan.

"Kalau lamanya kerja tambang di Kalimantan sudah 1 tahunan. Cuma, mereka sudah tiga kali balik ke Tasik. Kalau yang kedua kali menambang sebelumnya sukses. Nah, baru mendapatkan kabar malam tadi bahwa anak-anak adik saya dan suaminya tertimbun di lubang sedalam 60 meter dan belum ditemukan," kata Obing.

Keluarga pun sebenarnya sudah pasrah karena memang pekerjaan itu memiliki risiko.

Baca juga: 10 Penambang Emas Asal Tasikmalaya Terjebak dalam Lubang Tambang di Kalteng

Lubang tambang tertutup longsoran

Dari 12 orang penambang emas, ada 10 yang dilaporkan hilang di kawasan tambang emas Sungai Seribu, Kelurahan Pangkut, Kecamatan Arut Utara, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah pada Rabu (18/11/2020).

Dua orang tersebut selamat karena terlambat turun ke area tambang.

Saat menuju lokasi, dua orang penambang menyadari bahwa lubang tambang tersebut sudah tertutup longsoran tanah karena hujan yang terjadi sejak beberapa hari sebelumnya.

Keduanya langsung mencari pertolongan agar rekan-rekannya bisa segera diselamatkan.

Baca juga: Kisah Wanda Anak Lereng Merapi,Tiap Hari Belajar Online di Tambang Pasir Kali Gendol Sleman

 

Ilustrasi jenazahKompas.com Ilustrasi jenazah
3 korban ditemukan tewas

Pencarian pun membuahkan hasil dengan temuan dua orang korban pada pukul 12.00 WIB.

Satu korban lagi ditemukan sekitar pukul 14.00 WIB.

"Semua korban sudah dibawa ke Pangkalan Bun untuk diidentifikasi di Rumah Sakit Sultan Imanuddin," kata Lurah Pangkut Atan, Jumat petang.

Sementara itu terlihat dari lubang tambang, ada lima orang korban lainnya.

Lubang tersebut dalamnya diperkirakan sampai 60 meter.

Koordinator Tim SAR Wilayah Pangkalan Bun M Ridwan masih mencari informasi kondisi di dalam lubang sebelum melakukan evakuasi.

"Kami masih menunggu keterangan dari dua korban selamat, tapi mereka masih ada di Polsek Aruta," kata Ridwan.

Kehabisan oksigen

Dokter ahli forensik RSSI Pangkalan Bun, Eryanto menyatakan ketiga korban meninggal karena tidak bisa bernapas.

Mereka kemudian lemas hingga akhirnya meninggal dunia.

"Ada tiga yang sudah saya identifikasi, penyebab mati lemas (asfiksia), karena terhalangnya udara masuk ke saluran pernapasan akibat tertimbun tanah longsor," kata Eryanto, kepada Kompas.com, melalui pesan singkat.

Sumber: Kompas.com (Penulis: Dewantara, Irwan Nugraha | Editor: Robertus Belarminus)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Penjelasan BMKG soal Penyebab Cuaca Ekstrem di Sulawesi Utara

Penjelasan BMKG soal Penyebab Cuaca Ekstrem di Sulawesi Utara

Regional
Sandiaga Uno: Batik Batam Layak Jadi Produk Unggulan

Sandiaga Uno: Batik Batam Layak Jadi Produk Unggulan

Regional
Sakit Hati Tak Dibayar, Pria Ini Tusuk Pasangan Sesama Jenis hingga Tewas

Sakit Hati Tak Dibayar, Pria Ini Tusuk Pasangan Sesama Jenis hingga Tewas

Regional
Dokter Ditemukan Tewas Sehari Setelah Disuntik Divaksin, Satgas Covid-19 Palembang: Dipastikan Bukan karena Divaksin, tapi...

Dokter Ditemukan Tewas Sehari Setelah Disuntik Divaksin, Satgas Covid-19 Palembang: Dipastikan Bukan karena Divaksin, tapi...

Regional
KPU Bukittinggi Tetapkan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Terpilih

KPU Bukittinggi Tetapkan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Terpilih

Regional
Data dan Identitas ABK yang Hilang Setelah Tabrakan Kapal di Perairan Surabaya

Data dan Identitas ABK yang Hilang Setelah Tabrakan Kapal di Perairan Surabaya

Regional
Bertambah 7 Orang yang Meninggal Dunia akibat Covid-19 di Riau

Bertambah 7 Orang yang Meninggal Dunia akibat Covid-19 di Riau

Regional
Seorang Remaja Tewas Setelah Jatuh dan Tertabrak Mobil Damkar di Pekanbaru

Seorang Remaja Tewas Setelah Jatuh dan Tertabrak Mobil Damkar di Pekanbaru

Regional
TPU di Manado Mengalami Longsor, Kerangka Muncul ke Permukaan

TPU di Manado Mengalami Longsor, Kerangka Muncul ke Permukaan

Regional
5 Terduga Teroris di Aceh Diduga Terlibat Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

5 Terduga Teroris di Aceh Diduga Terlibat Bom Bunuh Diri di Polrestabes Medan

Regional
Diduga Sakit Jantung, Seorang Dokter Ditemukan Tewas Sehari Usai Disuntik Vaksin Covid-19

Diduga Sakit Jantung, Seorang Dokter Ditemukan Tewas Sehari Usai Disuntik Vaksin Covid-19

Regional
Persoalan Wajib Jilbab di SMKN 2 Padang Selesai, Siswi Kembali Sekolah

Persoalan Wajib Jilbab di SMKN 2 Padang Selesai, Siswi Kembali Sekolah

Regional
Kronologi KM Tanto Bersinar Tabrak Kapal Tug Boat di Perairan Gresik, Petugas Cari ABK yang Hilang

Kronologi KM Tanto Bersinar Tabrak Kapal Tug Boat di Perairan Gresik, Petugas Cari ABK yang Hilang

Regional
Pratu Dedi Hamdani Gugur di Papua, Ayah: Sedih Sekali...

Pratu Dedi Hamdani Gugur di Papua, Ayah: Sedih Sekali...

Regional
Setelah Diprotes Warganet, KKN Lapangan Unila Ditunda

Setelah Diprotes Warganet, KKN Lapangan Unila Ditunda

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X