Cerita Musimin 20 Tahun Selamatkan Anggrek Hutan Gunung Merapi, Khawatir dengan Ancaman Erupsi

Kompas.com - 22/11/2020, 07:55 WIB
Anggrek Vanda tricolor atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai Anggrek Pandan, dulu mudah dijumpai di kawasan hutan Gunung Merapi. yaya marjanAnggrek Vanda tricolor atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai Anggrek Pandan, dulu mudah dijumpai di kawasan hutan Gunung Merapi.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Seorang lelaki paruh baya tampak sibuk menata tanaman-tanaman anggrek dalam pot dan batang-batang kayu jati di halaman rumahnya yang terletak di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Lelaki itu adalah Musimin, yang sudah lebih dari 20 tahun membudidayakan anggrek hutan Gunung Merapi.

Selama dua dekade berkiprah, Musimin telah menangkar sekitar 80 spesies anggrek yang beberapa di antaranya merupakan spesies khas kawasan Gunung Merapi.

Baca juga: Cegah Covid-19, Warga Diimbau Tak Sumbang Nasi Bungkus untuk Pengungsi Merapi

Musimin mengenang betapa dulu anggrek hutan masih mudah dijumpai. Orang-orang bisa mengambil dan menjualnya dengan mudah, tak banyak yang memperdulikan keberadaannya.

Tapi kondisi itu berubah setelah erupsi Merapi pada 1994 yang menghanguskan habitat asli anggrek-anggrek di lereng selatan bagian barat Gunung Merapi. Pun ditambah dengan kebakaran hutan di kawasan Turgo pada 2001.

Sebagai warga lereng Merapi yang sejak kecil melihat keanekaragaman anggrek, Musimin terpanggil untuk melestarikannya. Dia sedih karena anggrek sudah jarang dijumpai, dan ingin anggrek kembali lagi di habitatnya.

Baca juga: Merapi Siaga, 246 Warga Desa Jrakah Boyolali Dievakuasi ke Pengungsian Sementara

"1996, saya mulai mengembangbiakkan tujuh spesies anggrek," katanya kepada BBC News Indonesia.

Karena perannya, pada awal 2000-an, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) DIY, memberikan 50 batang Anggrek Pandan (Vanda tricolor) kepada Musimin untuk ditangkar.

Sejak itu Musimin rajin menangkar sampai mengikuti program pemerintahan bernama Gerakan Nasional Rehabiltiasi Hutan dan Lahan (GNRHL). pada 2003.

Dengan program itu, Musimin semakin giat menanami dan menghijaukan hutan yang rusak karena peristiwa erupsi Merapi, baik yang statusnya hutan negara atau hutan rakyat. Bersama warga lain, sekitar 100 hektare hutan negara dan 20 hektar hutan rakyat mereka tanami dan hijaukan kembali.

Baca juga: Pemilik Ternak Ikut Turun, Pengungsi Merapi di Sleman Bertambah Jadi 263 Orang

Belajar nama-nama latin spesies anggrek

Musimin sudah lebih dari 20 tahun membudidayakan anggrek hutan Gunung Merapi.yaya marjan Musimin sudah lebih dari 20 tahun membudidayakan anggrek hutan Gunung Merapi.
Pascaerupsi Merapi 2010, Musimin berkenalan dengan seorang peneliti yang melakukan riset soal anggrek. Namanya Sulistyono.

Selama tiga bulan Musimin ikut melakukan pendataan habitat anggrek di hutan Merapi.

Dari Sulistyono, Musimin belajar banyak tentang anggrek. Mulai dari nama-nama latinnya sampai cara pengembangbiakan di habitatnya agar anggrek tetap lestari di hutan.

Saat pendataan anggrek pada 2011, dia mendapati kenyataan bahwa spesies anggrek banyak yang berkurang lantaran erupsi Merapi.

Kala itu, hanya ditemukan sekitar 50-an spesies anggrek yang masih ada. Padahal sebelum erupsi 2010, ada sekitar 90-an spesies.

Baca juga: Update Terkini dan Mengenal Tipe-tipe Erupsi Gunung Merapi

"Saat pendataan kami menemukan sekitar 53 spesies anggrek," kata Musimin.

Dari pendataan itulah Musimin mulai mengenal spesies anggrek dan nama-nama latinnya. Seperti Vanda Tricolor untuk Anggrek Pandan, Denrobium Sagittatum untuk Anggrek Gergaji atau Anggrek Keris, Eria Retusa untuk Anggrek Gurem, Aerides Odoratus atau Anggrek Kolojengking.

Termasuk Coelogyne Speciosa untuk Anggrek Kupu, Paphiophedilum Javanicum untuk Anggrek Lorek, dan Arundina Graminifolia untuk Anggrek Bambu atau Anggrek Sempritan.

Musimin juga belajar bahwa anggrek banyak jenisnya, tergantung dari cara hidupnya.

Ada yang hidupnya epifit atau menempel pada tegakan atau pohon baik yang masih hidup atau sudah mati, terestrik atau anggrek yang hidup dalam tanah, saprofit atau anggrek yang hidup dalam humus atau bahan-bahan organik, dan lithofit atau anggrek yang hidup di bebatuan.

Baca juga: Belum Ada Perubahan Perilaku Satwa Setelah Status Merapi Siaga

Tumbuhnya spesies Anggrek Merapi

Saat pendataan anggrek pada 2011, Musimin mendapati kenyataan bahwa spesies anggrek banyak yang berkurang lantaran erupsi Merapi. Kala itu, hanya ditemukan sekitar 50-an spesies anggrek yang masih ada. Padahal sebelum erupsi 2010, ada sekitar 90-an spesies.yaya marjan Saat pendataan anggrek pada 2011, Musimin mendapati kenyataan bahwa spesies anggrek banyak yang berkurang lantaran erupsi Merapi. Kala itu, hanya ditemukan sekitar 50-an spesies anggrek yang masih ada. Padahal sebelum erupsi 2010, ada sekitar 90-an spesies.
Mendapat ilmu dan pengalaman beharga, Musimin semakin rajin membudidayakan dan menangkar anggrek di halaman depan rumahnya.

Seiring berjalannya waktu, dari 50-an spesies anggrek yang berhasil didata pada 2011, kini Musimin telah berhasil menambah koleksi dan mengumpulkan sekitar 110 spesies anggrek.

Dari 110 jumlah anggrek yang berhasil dia temukan, hanya sekitar 80-an spesies yang baru bisa dia tangkar.

"Yang kami budidayakan hanya sekitar 80 spesies," kata Musimin.

Secara terpisah, Sulistyono—peneliti dari Pusat Studi Lingkungan (PSL) Universias Sanata Dharma Yogyakarta, yang pernah mengajak Musimin mendata anggrek—mengaku berkurangnya habitat anggrek pascaerupsi Merapi 2010.

Baca juga: Bermodal Rp 25.000, Dedek Kini Miliki Kebun Anggrek Ribuan Meter hingga Dikenal di Jepang

Sejumlah anggrek seperti Vanda tricolor dan Trichotosia ferox jarang ditemukan dan hampir langka. Padahal, pada 1990-an, kedua spesies anggrek itu jamak dijumpai di kawasan Gunung Merapi.

"Sejak erupsi, habitat anggrek di Merapi menurun termasuk Vanda tricolor dan Trichotosia ferox. Selain terkena erupsi, juga karena diperjualbelikan," kata Sulistyono.

Keberhasilan Musimin membudidayakan dan menambah koleksi spesies anggrek di halaman depan rumahnya, tak membuat Sulistyono heran.

Karena sejak awal mengenal Musimin, Sulistyono menilai Musimin adalah sosok yang rajin dan mau bekerja keras untuk benar-benar melestarikan lingkungan, khususnya anggrek Merapi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Nikahkan Putrinya di Mushala Polsek, Tersangka Pencurian Tak Kuasa Menahan Tangis

Nikahkan Putrinya di Mushala Polsek, Tersangka Pencurian Tak Kuasa Menahan Tangis

Regional
Tertipu Modus Pulsa Gratis, Perempuan Ini Kehilangan Uang Ratusan Juta Rupiah

Tertipu Modus Pulsa Gratis, Perempuan Ini Kehilangan Uang Ratusan Juta Rupiah

Regional
Pukat UGM soal KPK Tangkap Menteri Edhy: Tangkapan yang Signifikan

Pukat UGM soal KPK Tangkap Menteri Edhy: Tangkapan yang Signifikan

Regional
Klaim 80 Persen SMA/SMK Siap Gelar Belajar Tatap Muka, Disdik Papua: Harus Banyak OPD Terlibat

Klaim 80 Persen SMA/SMK Siap Gelar Belajar Tatap Muka, Disdik Papua: Harus Banyak OPD Terlibat

Regional
Tercatat 74 Kasus Positif Covid-19 Baru di NTT, Paling Banyak di Kota Kupang

Tercatat 74 Kasus Positif Covid-19 Baru di NTT, Paling Banyak di Kota Kupang

Regional
Debat Pilkada Karawang Soal Atasi Kemiskinan, Ada Paslon yang Mau Bangun 'Silicon Valley' hingga Tawarkan Kartu Kewirausahaan

Debat Pilkada Karawang Soal Atasi Kemiskinan, Ada Paslon yang Mau Bangun "Silicon Valley" hingga Tawarkan Kartu Kewirausahaan

Regional
25 Petugas Sortir dan Lipat Surat Suara di Solo Diupah Rp 225.000

25 Petugas Sortir dan Lipat Surat Suara di Solo Diupah Rp 225.000

Regional
Kadisdik Jatim Belum Cuti meski Istrinya Maju Pilkada, Inspektorat: Gubernur Sudah Mengingatkan

Kadisdik Jatim Belum Cuti meski Istrinya Maju Pilkada, Inspektorat: Gubernur Sudah Mengingatkan

Regional
Ribuan Buruh Cianjur Unjuk Rasa Tuntut Kenaikan UMK 2021

Ribuan Buruh Cianjur Unjuk Rasa Tuntut Kenaikan UMK 2021

Regional
Nenek Rasiti Rela Serahkan Naskah hingga Tongkat Kuno Warisan Keluarganya ke Pemerintah

Nenek Rasiti Rela Serahkan Naskah hingga Tongkat Kuno Warisan Keluarganya ke Pemerintah

Regional
Hendak Melaut, 2 Nelayan Ini Tersambar Petir, Satu Tewas

Hendak Melaut, 2 Nelayan Ini Tersambar Petir, Satu Tewas

Regional
Cerita Guru Honorer di Bulukumba, Mengabdi 7 Tahun tapi Gaji Tak Cukup Beli Bensin

Cerita Guru Honorer di Bulukumba, Mengabdi 7 Tahun tapi Gaji Tak Cukup Beli Bensin

Regional
Diperiksa KPK Terkait Kasus Zumi Zola, Bupati Muaro Jambi Mengaku Cuma Jadi Saksi

Diperiksa KPK Terkait Kasus Zumi Zola, Bupati Muaro Jambi Mengaku Cuma Jadi Saksi

Regional
Polisi Bongkar Investasi Bodong Bermodus Jual Beli Uang Asing

Polisi Bongkar Investasi Bodong Bermodus Jual Beli Uang Asing

Regional
Viral Video Seorang Ibu Balik Marahi Polisi Saat Ditegur Tak Pakai Helm, lalu Kabur

Viral Video Seorang Ibu Balik Marahi Polisi Saat Ditegur Tak Pakai Helm, lalu Kabur

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X