Pengungsi Merapi di Sleman Bertambah Jadi 203 Orang

Kompas.com - 11/11/2020, 15:29 WIB
Pengungsi Merapi menempati barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Senin (9/11/2020). Warga Kalitengah Lor yang masuk dalam kategori kelompok rentan (lansia, ibu hamil, dan balita) mengungsi di barak pengungsian seiring peningkatan aktivitas Gunung Merapi. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOPengungsi Merapi menempati barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, Senin (9/11/2020). Warga Kalitengah Lor yang masuk dalam kategori kelompok rentan (lansia, ibu hamil, dan balita) mengungsi di barak pengungsian seiring peningkatan aktivitas Gunung Merapi.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah pengungsi di barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, kembali bertambah menjadi 203 orang.

Sebelumnya, jumlah pengungsi berdasarkan data tanggal 9 November 2020 sebanyak 198 orang.

"Jumlah pengungsi sampai tadi malam bertambah menjadi 203," ujar Camat Cangkringan Suparmono kepada wartawan, Rabu (11/11/2020).

Suparmono menyampaikan, dari jumlah tersebut rinciannya, bayi usia 2 tahun ke bawah sebanyak 19. Balita usia 3 tahun sampai 5 tahun ada 9 orang.

Baca juga: Status Siaga, Warga Lereng Merapi di Boyolali Masih Beraktivitas Normal

Kemudian, anak-anak usia 6 sampai 18 tahun ada 30 orang dan lansia 87 orang.

"Usia dewasa ada 58 orang. Jadi memang yang selalu bertambah adalah usia dewasa," ucapnya.

Menurutnya, lansia di Kalitengah Lor ada 95 orang. Sedangkan yang sudah dipengungsian ada 87 orang.

Sehingga masih ada lansia yang belum mengungsi.

"Mungkin lansianya batasnya umur 60 dan sebagainya ya. Saya akan minta teman-teman dari kelurahan untuk mengecek lagi karena yang turun baru 87 orang," urainya.

Orang-orang dewasa yang memutuskan untuk mengungsi ini, lanjutnya, karena masih ada trauma dengan peristiwa erupsi Gunung Merapi 2010.

"Tidak hanya di sini ada satu dua keluarga remaja yang kemudian mengungsi di Umbuharjo, karena mereka memang trauma. Dan mereka difasilitasi oleh teman-teman di Umbulharjo," tegasnya.

Baca juga: BPPTKG: Potensi Utama Bahaya Erupsi Merapi ke Arah Tenggara

Para pengungsi usia dewasa ini berada di pengungsian pada waktu malam hari.

Di pagi harinya mereka kembali naik untuk beraktivitas.

"Mereka kembali misalnya untuk mencari rumput. Mereka sore kembali ke sini, mereka sudah hafal jadi bisa antisipasi, kalau siang mereka berani disana, kalau malam mereka kembali ke sini (pengungsian)," ungkapnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Heboh Angin Puting Beliung di Wonogiri, Ini Penjelasan BPBD

Heboh Angin Puting Beliung di Wonogiri, Ini Penjelasan BPBD

Regional
Anak-anak Temukan Bagian Tubuh Diduga Korban Sriwijaya Air, Tersisa Beberapa Helai Rambut, Dikirim ke Tanjung Priok

Anak-anak Temukan Bagian Tubuh Diduga Korban Sriwijaya Air, Tersisa Beberapa Helai Rambut, Dikirim ke Tanjung Priok

Regional
Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, BPBD Pastikan Tak Ada Korban Jiwa

Puting Beliung di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri, BPBD Pastikan Tak Ada Korban Jiwa

Regional
Modus Karyawan BRI Alihkan Dana KUR untuk Beli Motor Bekas, Arahkan Nasabah hingga Negara Rugi Rp 1 M

Modus Karyawan BRI Alihkan Dana KUR untuk Beli Motor Bekas, Arahkan Nasabah hingga Negara Rugi Rp 1 M

Regional
Bermula Satu Pegawai Rumah Pemotongan Ayam Demam, Terbongkar 102 Karyawan Positif Covid-19

Bermula Satu Pegawai Rumah Pemotongan Ayam Demam, Terbongkar 102 Karyawan Positif Covid-19

Regional
Bioskop di Kota Tegal Kembali Dibuka 1 Februari 2021

Bioskop di Kota Tegal Kembali Dibuka 1 Februari 2021

Regional
'Pak Listyo Sangat Menghormati dan Melindungi Para Orangtua di Indonesia'

"Pak Listyo Sangat Menghormati dan Melindungi Para Orangtua di Indonesia"

Regional
Arahkan Nasabah untuk Beli Motor Bekas dengan Dana KUR, Karyawan BRI Jadi Tersangka, Ini Ceritanya

Arahkan Nasabah untuk Beli Motor Bekas dengan Dana KUR, Karyawan BRI Jadi Tersangka, Ini Ceritanya

Regional
Korban Banjir Kalsel Melahirkan di Perahu, Anaknya Diberi Nama Siti Noor Banjiriah

Korban Banjir Kalsel Melahirkan di Perahu, Anaknya Diberi Nama Siti Noor Banjiriah

Regional
'Kalau Warga Tidak Patuh, Kasus Terus Bertambah dan Ruang Isolasi Penuh, Apa Tidak Kasihan'

"Kalau Warga Tidak Patuh, Kasus Terus Bertambah dan Ruang Isolasi Penuh, Apa Tidak Kasihan"

Regional
Haji Permata Tewas Tertembak, Polda Riau Periksa Petugas Bea Cukai

Haji Permata Tewas Tertembak, Polda Riau Periksa Petugas Bea Cukai

Regional
Penjaga Masjid Cabuli 13 Anak, Terbongkar Saat Korban Curi 'Memory Card' Pelaku untuk Cari Barang Bukti

Penjaga Masjid Cabuli 13 Anak, Terbongkar Saat Korban Curi "Memory Card" Pelaku untuk Cari Barang Bukti

Regional
Sabtu, KPU Wonogiri Tetapkan Jekek-Setyo sebagai Paslon Terpilih

Sabtu, KPU Wonogiri Tetapkan Jekek-Setyo sebagai Paslon Terpilih

Regional
Pria Ini Nekat Bakar SPBU, Tubuhnya Ikut Terbakar

Pria Ini Nekat Bakar SPBU, Tubuhnya Ikut Terbakar

Regional
871 Penyintas Covid-19 di Jateng Donorkan Plasma Konvalesen

871 Penyintas Covid-19 di Jateng Donorkan Plasma Konvalesen

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X