Kompas.com - 29/10/2020, 09:39 WIB
Penganjung melihat pajangan kain tenun cual di Museum Cual Ishadi Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung. kompas.com/heru dahnurPenganjung melihat pajangan kain tenun cual di Museum Cual Ishadi Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung.

PANGKALPINANG, KOMPAS.com - Perang dunia pertama pecah pada 1914, menyebabkan sebagian besar aktivitas perdagangan terhenti.

Tidak hanya di Eropa, tapi juga berdampak pada daerah-daerah koloni.

Di Kota Muntok, Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung, suplai kain sutra dari daratan Tiongkok dan benang emas India ikut terhenti.

Baca juga: Mengenal Tenun Masalili, Cendera Mata yang Merambat hingga Luar Negeri

Kapal dagang tak berlayar karena adanya blokade dan kekhawatiran adanya sabotase.

Selain itu, industri sipil dan para pekerja banyak yang dialihkan untuk kepentingan militer.

"Selama perang dunia pertama, pengrajin di Muntok tak bisa lagi membuat tenun cual, karena ketika itu tenunan berasal dari bahan-bahan pilihan yang didatangkan dari luar," kata Isnawati, salah seorang pewaris tradisi tenun cual, saat berbincang dengan Kompas.com di Pangkalpinang, Rabu (28/10/2020).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Cendera Mata Lapik Koto Dian, dari Kursi Depati hingga Pelaminan

Setelah perang usai pada 1918, aktivitas tenun cual dibuka kembali.

Tenun ini mulanya hanya diperuntukan bagi kalangan tertentu saja.

Ini disebabkan bahan baku yang sulit didapat, serta proses pengerjaannya yang rumit.

Biasanya, tenun cual digunakan untuk upacara adat, upacara keagamaan atau acara pernikahan.

 

Pengrajin kain tenun cual di Museum Cual Ishadi Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung.kompas.com/heru dahnur Pengrajin kain tenun cual di Museum Cual Ishadi Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung.

Seiring perkembangan zaman, tenun cual mulai diminati banyak orang dan menjadi cendera mata bernilai.

Motifnya yang unik serta lembut saat dipakai, membuat masyarakat menggandrunginya.

Bangsa Belanda dan Inggris yang ketika itu mengauasai Tanah Air juga menaruh perhatian.

Tenun cual dipasarkan hingga akhirnya menyebar di negara-negara Eropa.

Baca juga: Badak Kayu Ujung Kulon yang Bertahan Diterpa Tsunami dan Pandemi

Di dalam negeri, tenun cual menyebar di Sumatera hingga ke Kalimantan.

Menurut Isnawati, tenun cual memiliki sejarah panjang.

Diperkirakan muncul sejak abad ke-17.

Akulturasi budaya

Palembang sebagai bandar dagang sejak zaman Sriwijaya memberi andil terhadap perdagangan masyarakat, termasuk tenun cual.

Secara geografis, Bangka dan Palembang dulunya merupakan satu kesatuan.

Bahkan, hingga zaman kemerdekaan tergabung dalam Provinsi Sumatera Selatan.

Barulah pada Era Reformasi, Bangka memisahkan diri menjadi Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.

"Akulturasi budaya melayu dan Tionghoa sangat terlihat dari tenun cual ini. Penggunaan warna merah marun begitu dominan. Kemudian banyak terdapat motif burung Hong dan naga bertarung," ujar Isnawati.

Tenun cual merujuk pada kata cual yang bermakna kain yang dicelup.

 

Proses pembuatan

Dalam proses tradisional, menurut Isnawati, benang kain cual dicelup menggunakan pewarna alami.

Pembuatan motif pun dilakukan saat proses pewarnaan benang.

Barulah benang-benang tersebut disusun atau ditenun, sehingga menjadi lembaran kain dan membentuk motif tertentu.

"Bisa dibayangkan betapa rumit dan lamanya untuk membuat selembar tenun cual itu. Para penenun harus bekerja dengan hati yang tenang agar susunan benang-benang tidak ada yang salah," kata dia.

Saat ini, hanya tinggal segelintir pengrajin yang memproduksi tenun cual di Muntok.

Peralatan terbuat dari kayu, masih sama seperti beberapa abad lampau.

Pengerjaan tenun dilakukan dengan sistem ungkit dan ikat.

Ini pula yang menjadi ciri khas Sumatera sebagai penghasil tenunan. Berbeda dengan Pulau Jawa yang kebanyakan dengan cara membatik.

"Ada juga tenun di Lombok, tapi mereka menggunakan katun dan tidak menggunakan benang emas. Kalau ciri khas cual adalah sutra dan benang emas," kata Isnawati.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Walkot Bobby Ajak HMI Sumut Berkolaborasi Dukung Program Pembangunan

Walkot Bobby Ajak HMI Sumut Berkolaborasi Dukung Program Pembangunan

Regional
Panen Raya, Pimpinan DPRD Kota Bogor Turun ke Sawah Bersama Petani

Panen Raya, Pimpinan DPRD Kota Bogor Turun ke Sawah Bersama Petani

Regional
Wonogiri Juara Satu IDSD, Bupati Jekek: Berkat Semangat Reformasi Pemangku Kepentingan

Wonogiri Juara Satu IDSD, Bupati Jekek: Berkat Semangat Reformasi Pemangku Kepentingan

Regional
Tunjukkan Kinerja Baik Bangun Kota Semarang, Walkot Hendi Dapat Penghargaan Pembangunan Daerah 2021

Tunjukkan Kinerja Baik Bangun Kota Semarang, Walkot Hendi Dapat Penghargaan Pembangunan Daerah 2021

Regional
Jabar Kerja Sama dengan Provinsi Chungcheongnam, Korsel, Kang Emil: Semoga Dongkrak Potensi Ekonomi

Jabar Kerja Sama dengan Provinsi Chungcheongnam, Korsel, Kang Emil: Semoga Dongkrak Potensi Ekonomi

Regional
Bupati Banjar Akui PAD Berkurang akibat UU Minerba

Bupati Banjar Akui PAD Berkurang akibat UU Minerba

Regional
Bobby Buka Balai Kota Medan untuk Warga, Dosen UINSU Berikan Apresiasi

Bobby Buka Balai Kota Medan untuk Warga, Dosen UINSU Berikan Apresiasi

Regional
Memahami Gaya Komunikasi 'Parkir Mobil' ala Gibran

Memahami Gaya Komunikasi "Parkir Mobil" ala Gibran

Regional
Tunjukkan Prestasi dalam Penanganan Pandemi, Kang Emil Raih 2 Penghargaan People of the Year 2021

Tunjukkan Prestasi dalam Penanganan Pandemi, Kang Emil Raih 2 Penghargaan People of the Year 2021

Regional
Berkat Ganjar, Gaji Guru Honorer yang Dahulu Rp 200.000 Kini Rp 2,3 Juta

Berkat Ganjar, Gaji Guru Honorer yang Dahulu Rp 200.000 Kini Rp 2,3 Juta

Regional
Dukung UMKM Jabar, Kang Emil Ikut Mendesain dan Pasarkan Produk di Medsos

Dukung UMKM Jabar, Kang Emil Ikut Mendesain dan Pasarkan Produk di Medsos

Regional
'Children of Heaven' dari Baubau, Sulawesi Tenggara

"Children of Heaven" dari Baubau, Sulawesi Tenggara

Regional
Peduli Kesejahteraan Petani, Bupati IDP Hibahkan Ratusan Alsintan untuk 81 Poktan di Luwu Utara

Peduli Kesejahteraan Petani, Bupati IDP Hibahkan Ratusan Alsintan untuk 81 Poktan di Luwu Utara

Regional
Luwu Utara Raih 3 Penghargaan dari BI, Bupati IDP: Awal Digitalisasi Keuangan

Luwu Utara Raih 3 Penghargaan dari BI, Bupati IDP: Awal Digitalisasi Keuangan

Regional
Jateng Jadi Provinsi Pelayanan Investasi Terbaik 2021, Ganjar Janji Perhatikan Pengusaha Kecil

Jateng Jadi Provinsi Pelayanan Investasi Terbaik 2021, Ganjar Janji Perhatikan Pengusaha Kecil

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.