Konversi Bahan Bakar Pompa Air dari Bensin ke Gas, Petani Garut Selatan Lebih Irit Saat Mengairi Sawah

Kompas.com - 27/10/2020, 12:58 WIB
Kepala Dinas Pertanian berfoto bersama staf ahli anggota DPR-RI Doni Maryadi Oekon setelah serah terima bantuan pompa air berbahan bakar gas dari Kementerian ESDM (Foto Dok :Doni Maryadi Oekon) KOMPAS.COM/ARI MAULANA KARANGKepala Dinas Pertanian berfoto bersama staf ahli anggota DPR-RI Doni Maryadi Oekon setelah serah terima bantuan pompa air berbahan bakar gas dari Kementerian ESDM (Foto Dok :Doni Maryadi Oekon)

GARUT, KOMPAS.com - Ratusan petani di wilayah Garut Selatan, mendapatkan bantuan pompa air berbahan bakar gas. Pompa air tersebut, akan digunakan petani untuk memompa air dari sungai ke lahan-lahan pertanian.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut, Beni Yoga mengungkapkan, ada 300 unit mesin pompa air berbahan bakar gas bantuan dari Kementerian ESDM yang dibagikan kepada para petani.

Bahan bakar gas untuk pompa air ini, menurut Beni bisa menggunakan tabung gas 3 kilogram. Sebelumnya, mesin pompa air biasanya menggunakan bahan bakar bensin.

"Biasanya kan berbahan bakar bensin, sekarang konversi ke gas," jelas Beni, Selasa (27/10/2020) di ruang kantor Dinas Pertanian Kabupaten Garut usai serah terima bantuan secara simbolis.

Baca juga: Mengolah Cacing Merah Jadi Pundi-pundi Rupiah, Kisah Petani Desa Rejosari Riau (1)

Bantuan pompa air berbahan bakar gas ini, menurut Beni difasilitasi oleh anggota DPR-RI Doni Maryadi Oekon yang melihat adanya masalah pengairan lahan-lahan pertanian di wilayah selatan Garut yang kebanyakan tadah hujan.

Doni saat itu menurut Beni memberikan solusi untuk membantu petani dengan menyediakan pompa air berbahan bakar gas yang tentunya biaya bahan bakarnya bisa lebih irit.

"Jadi kita ajukan bantuan ke kementerian ESDM lewat Pak Doni, Alhamdulillah sangat membantu petani," katanya.

Beni menuturkan, penggunaan pompa air di lahan-lahan pertanian tadah hujan di Garut Selatan, biasanya dilakukan saat musim kemarau. Pompa akan menyedot air dari sungai selama 8 hingga 10 jam per hari untuk mengairi lahan pertanian.

Baca juga: Mengolah Cacing Merah Jadi Pundi-pundi Rupiah, Kisah Petani Desa Rejosari Riau (2)

Dengan lama penggunaan itu, dalam satu hari biaya yang dikeluarkan petani untuk membeli bahan bakar mencapai Rp 80 hingga Rp 100 ribu. Sementara, dengan menggunakan gas, dari hasil ujicoba yang telah dilakukan, cukup satu tabung gas 3 kilogram mesin pompa bisa bekerja selama 8 hingga10 jam.

"Jadi sangat menguntungkan petani, jadi biayanya bisa lebih efisien,"katanya.

Beni melihat, Doni Maryadi Oekon sebagai anggota DPR-RI telah bisa membantu petani dalam mengatasi kesulitan air dengan biaya yang cukup murah dan terjangkau bagi petani.

"Kita patut berterimakasih, ini jadi solusi yang komprehensif, masalah air teratasi dengan biaya yang murah serta ramah lingkungan," katanya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Positif Covid-19 Setelah Pulang Takziah dari Jakarta, Guru TK Sempat ke Sekolah

Positif Covid-19 Setelah Pulang Takziah dari Jakarta, Guru TK Sempat ke Sekolah

Regional
Angka Covid-19 Jateng Tertinggi Nasional, Ganjar: Itu Karena Satgas Pusat Telat Input Data

Angka Covid-19 Jateng Tertinggi Nasional, Ganjar: Itu Karena Satgas Pusat Telat Input Data

Regional
Pemprov Jatim Siapkan 3 Jalan Penghubung dari Tol Trans Jawa ke Jalur Lintas Selatan

Pemprov Jatim Siapkan 3 Jalan Penghubung dari Tol Trans Jawa ke Jalur Lintas Selatan

Regional
Dua Pegawai KAI Positif Covid-19, Salah Satunya Masinis

Dua Pegawai KAI Positif Covid-19, Salah Satunya Masinis

Regional
3 Guru dan 2 Murid di Yogyakarta Positif Covid-19, Diduga Tertular di Sekolah

3 Guru dan 2 Murid di Yogyakarta Positif Covid-19, Diduga Tertular di Sekolah

Regional
Pemkot Probolinggo: Pesan Berantai Wakil Wali Kota Meninggal Hoaks

Pemkot Probolinggo: Pesan Berantai Wakil Wali Kota Meninggal Hoaks

Regional
Gara-gara Menangis Ditinggal Masak Ibunya, Bocah 2 Tahun Dianiaya Ayah hingga Tangannya Patah

Gara-gara Menangis Ditinggal Masak Ibunya, Bocah 2 Tahun Dianiaya Ayah hingga Tangannya Patah

Regional
Libur Panjang Akhir Oktober Dituding Jadi Penyebab Lonjakan Kasus Covid-19 di Jateng

Libur Panjang Akhir Oktober Dituding Jadi Penyebab Lonjakan Kasus Covid-19 di Jateng

Regional
Gigi Bangkai Paus yang Terdampar di Bali Hilang, KKP: Seluruh Tubuh Paus Tak Boleh Dimanfaatkan

Gigi Bangkai Paus yang Terdampar di Bali Hilang, KKP: Seluruh Tubuh Paus Tak Boleh Dimanfaatkan

Regional
Ketua FPI Pekanbaru dan Satu Anggotanya Diperiksa Polisi, Ini Penyebabnya

Ketua FPI Pekanbaru dan Satu Anggotanya Diperiksa Polisi, Ini Penyebabnya

Regional
UMK 2021 Kepri Ditetapkan, Tertinggi di Batam, Terendah di Tanjungpinang

UMK 2021 Kepri Ditetapkan, Tertinggi di Batam, Terendah di Tanjungpinang

Regional
Usai Acara Tur ke Bromo, 36 Pegawai Pemkab Brebes Positif Covid-19

Usai Acara Tur ke Bromo, 36 Pegawai Pemkab Brebes Positif Covid-19

Regional
KPK Ajukan 600 Izin Penyadapan, buat Pantau Pilkada hingga Anggaran Covid-19

KPK Ajukan 600 Izin Penyadapan, buat Pantau Pilkada hingga Anggaran Covid-19

Regional
Dipanggil Polda Jabar soal Rizieq Shihab, Bupati Bogor Ade Yasin: Saya Sakit...

Dipanggil Polda Jabar soal Rizieq Shihab, Bupati Bogor Ade Yasin: Saya Sakit...

Regional
Dinkes Salatiga Sebut Penambahan Kasus Covid-19 karena Gencar Tracing Kontak

Dinkes Salatiga Sebut Penambahan Kasus Covid-19 karena Gencar Tracing Kontak

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X