Kisah Sebuah Desa yang Larang Warganya Merokok, 2 Sanksi Menanti Jika Melanggar

Kompas.com - 17/10/2020, 07:23 WIB
Sosialisasi perdes larangan merokok di dinding kantor kepala desa Maro Sebo, pada Selasa (29/10/2020). KOMPAS.COM/JAKA HBSosialisasi perdes larangan merokok di dinding kantor kepala desa Maro Sebo, pada Selasa (29/10/2020).

 

Awal mula terbitnya perdes

Peraturan Desa Nomor 03 Tahun 2018 mengubah perilaku merokok masyarakatnya. Desa ini adalah Desa Maro Sebo di Jambi.

Dalam Perdes yang berlaku, mereka yang biasanya merokok dalam ruangan, jika terpaksa merokok mereka harus keluar ruangan.

Kepala Desa Maro Sebo Muhammad Rusli mengatakan gagasan ini sebenarnya bermula dari tahun 2009 saat ikut lomba Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

“Desa Maro Sebo juara satu PHBS nasional waktu itu,” katanya.

Seusai PHBS pelaksanaan larangan merokok itu jadi berkurang.

Baca juga: Paidi, Pemulung Beromzet Miliaran berkat Porang, Kini Didatangi Banyak Orang yang Ingin Belajar (1)

Semua ruangan tertutup bebas asap rokok, termasuk rumah

“Kami melihat dari masyarakat setiap rapat dan pertemuan di ruangan selalu penuh asap rokok. Sehingga kami berinisiatif mengangkat kembali peraturan desa asap rokok. Sehingga terbitlah perdes,” katanya.

Tempat-tempat yang diatur oleh peraturan desa ini adalah ruangan tertutup.

“Seperti kantor-kantor khususnya dalam ruangan, tempat ibadah, tempat kesehatan, tempat permainan anak, sekolah. Termasuk juga ruangan pesta jika tertutup,” katanya.

Warga juga dilarang merokok dalam rumahnya sendiri. “Apalagi kalau ada tamu datang. Dia sudah mengerti bahwa di rumah kita kemungkinan seluruhnya tidak menyediakan asbak rokok,” katanya.

Baca juga: Kisah Abdussalam, Sarjana Fisika yang Sukses Membangun Desanya Jadi Desa Digital

Dua sanksi bagi pelanggar

Peraturan desa ini memuat dua sanksi. Sanksi administrasi sebanyak Rp 100.000 dan kedua memberikan sanksi sosial.

“Seperti membersihkan tempat ibadah dimana pelanggar tinggal. Alhamdulillah selama ini tidak ada pelanggaran karena masyarakat menyadari pentingnya aturan ini,” katanya.

Peraturan desa ini juga berpengaruh pada pengeluaran konsumsi rokok. Rusli mencontohkan saat-saat rapat dalam ruangan.

“Sebelum perdes ini ada, di ruangan rapat, katakanlah kita melakukan rapat 2 jam. Dalam 2 jam itu paling tidak 4 batang rokok. Apalagi di tahlilan itu,” katanya.

“Kalau 1.000 sebatang sudah hemat 4.000 sekarang setiap rapat 2 jam,” tambah Rusli.

Rusli mengatakan perdes ini juga disenangi ibu-ibu. “Karena dengan adanya perdes rokok terus terang suasananya nyaman. Apalagi aman untuk ibu hamil,” katanya.

Rusli mengatakan perokok pasif juga jadi korban. “Karena perokok pasif lebih berbahaya ketika terdampak asap rokok daripada perokok aktif,” ungkap kepala desa ini.

Baca juga: Mengintip Desa Literasi di Lebak Banten, Surga Buku di Setiap Sudut, dari Posyandu hingga di Kandang Kambing

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Was-was Longsor Susulan, 50 Santriwati Ponpes di Pamekasan Dipulangkan

Was-was Longsor Susulan, 50 Santriwati Ponpes di Pamekasan Dipulangkan

Regional
Heboh Hiu Berwajah Mirip Manusia, BKKPN Kupang: Itu Normal, Fisiknya Belum Sempurna

Heboh Hiu Berwajah Mirip Manusia, BKKPN Kupang: Itu Normal, Fisiknya Belum Sempurna

Regional
Tenaga Ahli Menkes Temui Sultan HB X, Bicara soal PPKM hingga Vaksinasi Pedagang

Tenaga Ahli Menkes Temui Sultan HB X, Bicara soal PPKM hingga Vaksinasi Pedagang

Regional
Kisah Risalianus, Ayah Ibunya Lumpuh, Sepulang Sekolah Dia Berkebun untuk Hidupi Keluarga

Kisah Risalianus, Ayah Ibunya Lumpuh, Sepulang Sekolah Dia Berkebun untuk Hidupi Keluarga

Regional
Cerita Mantan Kades di Cianjur, Gelapkan Dana Desa 332 Juta untuk Bayar Utang Pribadi

Cerita Mantan Kades di Cianjur, Gelapkan Dana Desa 332 Juta untuk Bayar Utang Pribadi

Regional
Diduga Cemburu, Seorang Mahasiswa Gantung Diri Pakai Jilbab di Kos, Ini Ceritanya

Diduga Cemburu, Seorang Mahasiswa Gantung Diri Pakai Jilbab di Kos, Ini Ceritanya

Regional
Jumat Ini, Cellica dan Aep Dilantik Langsung oleh Ridwan Kamil

Jumat Ini, Cellica dan Aep Dilantik Langsung oleh Ridwan Kamil

Regional
Bupati dan Wakil Bupati Semarang Terpilih Dilantik Besok, Undangan Terbatas

Bupati dan Wakil Bupati Semarang Terpilih Dilantik Besok, Undangan Terbatas

Regional
Prokes Super Ketat Pelantikan Kepala Daerah di Jatim, Wajib Tinggal di Surabaya

Prokes Super Ketat Pelantikan Kepala Daerah di Jatim, Wajib Tinggal di Surabaya

Regional
Sekda Samarinda: Kami Tidak Keluarkan Izin Kerumunan, Perkawinan dan Lainnya

Sekda Samarinda: Kami Tidak Keluarkan Izin Kerumunan, Perkawinan dan Lainnya

Regional
Tragedi Longsor di Tambang Emas Ilegal Parigi Moutong, Ini Faktanya

Tragedi Longsor di Tambang Emas Ilegal Parigi Moutong, Ini Faktanya

Regional
Hari Tanpa Bayangan di Bali Terjadi 26 dan 27 Februari, Ini Penjelasan BMKG

Hari Tanpa Bayangan di Bali Terjadi 26 dan 27 Februari, Ini Penjelasan BMKG

Regional
Suami Curi Ponsel Istri karena Korban Sering Rebutan dengan Anaknya, Rancang Skenario Maling

Suami Curi Ponsel Istri karena Korban Sering Rebutan dengan Anaknya, Rancang Skenario Maling

Regional
Pelantikan 3 Kepala Daerah di Bangka Belitung Akan Digelar secara Tatap Muka

Pelantikan 3 Kepala Daerah di Bangka Belitung Akan Digelar secara Tatap Muka

Regional
Mobil Mewah Dedi Mulyadi Rusak Parah karena Ditenggelamkan, Direparasi oleh Montir Lulusan SD

Mobil Mewah Dedi Mulyadi Rusak Parah karena Ditenggelamkan, Direparasi oleh Montir Lulusan SD

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X