Cerita Para Petani Masih Gunakan Jebakan Tikus Beraliran Listrik meski Sudah 24 Nyawa Melayang

Kompas.com - 13/10/2020, 12:21 WIB
Ilustrasi tikus Francisco MartinsIlustrasi tikus

MAGETAN, KOMPAS.com – Bola lampu masih terpasang di setiap sudut perbatasan petak sawah milik warga di Desa Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.

Jika malam hari, lampu-lampu tersebut akan menyala untuk memberi tanda bahwa di sawah tersebut terdapat jebakan tikus yang dialiri listrik. Hal itu juga menandakan warga harus berhati-hati.

Kurang lebih setengah meter dari pinggiran sawah terdapat batang bambu seukuran jempol orang dewasa. Panjangnya kurang lebih 20 cm dan ditanam di antara tanaman padi.

Baca juga: Sudah 24 Warga Tewas Tersengat Jebakan Tikus Beraliran Listrik, 4 Orang Jadi Tersangka

 

Di bagian bawah bilah bambu tersebut terikat kawat yang dipasang membentang sepanjang petak sawah yang terhubung dengan bola lampu.

Melalui bentangan kawat tersebut aliran listrik dari PLN maupun dari mesin diesel warga akan menyalakan lampu penanda.

Tikus dipastikan tidak selamat jika melewati kawat tersebut karena langsung tersengat aliran listrik bertegangan tinggi.

Namun, hal serupa juga akan terjadi jika ada orang yang menyentuh kawat tersebut.

Baca juga: Terdengar Suara Teriakan dari Ladang Cabai, Saat Diperiksa Ternyata Satu Keluarga Telah Tewas

Rangkaian listrik sederhana tersebut menurut sejumlah petani di Desa Kasreman dan Desa Sidorejo merupakan cara paling efektif untuk membasmi hama tikus yang  beberapa tahun terakhir terus menyerang padi mereka.

Tidak ada yang tahu siapa yang pertama kali merangkai bentangan kawat tersebut menjadi jebakan tikus yang mematikan.

“Tahunya dari petani lain, getok tular. Satu malam bisa puluhan sampai ratusan tikus bisa mati. Tapi kalau sudah agak lama pasangnya, biasanya jumlah tikus yang mati akan menurun,” ujar Sugito, salah satu petani di Desa Sidorejo, Minggu (11/10/2020).

Baca juga: Suami, Istri, dan 2 Anaknya Tewas Tersengat Listrik Jebakan Tikus di Ladang Cabai

Sugito mengakui bahwa memasang jebakan tikus beraliran listrik di desanya sangat berbahaya.

Namun, cara tersebut merupakan cara paling efektif mengurangi jumlah tikus yang memangsa padi.

Dia menilai bantuan pemberantasan hama tikus dari  Dinas Pertanian Kabupaten Ngawi tidak efektif mengatasi hama tikus.

“Bantuan semacam racun seperti makanan tikus tidak efektif. Tikus tidak mau makan racun itu. Masih efektif jebakan pakai listrik,” ujar dia.

Cara lain tak efektif

Selain memasang jebakan beraliran listrik, sejumlah petani di Desa Baderan juga mencoba memberantas hama tikus dengan cara diracun. Namun, cara itu dinilai tidak efektif.

Cara lain yang sempat dilakukan yaitu gropyok . Gropyok adalah sistem berburu tikus pada siang hari dengan cara membakar belerang di lubang sarang tikus.

 

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pria Ini Jadikan Istri Siri PSK, Ditawarkan Via Twitter, Motifnya Tak Kuat Layani Hasrat

Pria Ini Jadikan Istri Siri PSK, Ditawarkan Via Twitter, Motifnya Tak Kuat Layani Hasrat

Regional
Kepala Dusun Diduga Gelapkan Bantuan Covid-19, Buat Surat Kuasa Palsu

Kepala Dusun Diduga Gelapkan Bantuan Covid-19, Buat Surat Kuasa Palsu

Regional
2 Warga Tewas akibat Longsor di Pangandaran

2 Warga Tewas akibat Longsor di Pangandaran

Regional
UMP 2021 Tidak Naik, Ini Kata Gubernur Banten

UMP 2021 Tidak Naik, Ini Kata Gubernur Banten

Regional
Sakit, Status Penahanan Mantan Wali Kota Kupang Dialihkan Jadi Tahanan Kota

Sakit, Status Penahanan Mantan Wali Kota Kupang Dialihkan Jadi Tahanan Kota

Regional
Komnas PA Bentuk Tim Advokasi atas Penganiayaan Sadis Balita di Medan

Komnas PA Bentuk Tim Advokasi atas Penganiayaan Sadis Balita di Medan

Regional
Bahar bin Smith Kembali Jadi Tersangka, Pengacara Siapkan Praperadilan

Bahar bin Smith Kembali Jadi Tersangka, Pengacara Siapkan Praperadilan

Regional
Libur Panjang, ASN Madiun Tak Dilarang ke Luar Kota, Harus Rapid Test Saat Kembali

Libur Panjang, ASN Madiun Tak Dilarang ke Luar Kota, Harus Rapid Test Saat Kembali

Regional
1,9 Juta KRTS di Jabar Mulai Terima Bansos Tahap Ketiga

1,9 Juta KRTS di Jabar Mulai Terima Bansos Tahap Ketiga

Regional
Pemprov DIY Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat Covid-19

Pemprov DIY Kembali Perpanjang Status Tanggap Darurat Covid-19

Regional
Bahar bin Smith Ditetapkan Tersangka atas Kasus Penganiayaan, Dilaporkan Korban Tahun 2018

Bahar bin Smith Ditetapkan Tersangka atas Kasus Penganiayaan, Dilaporkan Korban Tahun 2018

Regional
Penyesalan Kiswanto Usai Bunuh Teman SD yang Juga Selingkuhannya, Tunggui Jasad Korban Berjam-jam

Penyesalan Kiswanto Usai Bunuh Teman SD yang Juga Selingkuhannya, Tunggui Jasad Korban Berjam-jam

Regional
Pilkada Surabaya 2020, 2 Paslon Saling Klaim Unggul Berdasarkan Survei

Pilkada Surabaya 2020, 2 Paslon Saling Klaim Unggul Berdasarkan Survei

Regional
Yaidah Urus Akta Kematian Anak sampai ke Jakarta, Pemkot Surabaya: Petugas Tak Punya Kapabilitas

Yaidah Urus Akta Kematian Anak sampai ke Jakarta, Pemkot Surabaya: Petugas Tak Punya Kapabilitas

Regional
Perjuangan Warga Kampung Long Isun Lawan Alih Fungsi Lahan demi Lestarinya Hutan Adat

Perjuangan Warga Kampung Long Isun Lawan Alih Fungsi Lahan demi Lestarinya Hutan Adat

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X