Kisah Guru yang Mengajar di Desa Tanpa Daratan, Pernah 9 Bulan Tak Digaji

Kompas.com - 08/10/2020, 09:00 WIB
Dua murid SDN 011 Muara Wis menggunakan perahu kecil saat menuju sekolah di Desa Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim. HO/Hery CahyadiDua murid SDN 011 Muara Wis menggunakan perahu kecil saat menuju sekolah di Desa Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim.

SAMARINDA, KOMPAS.com – Perjuangan Hery Cahyadi sebagai tenaga pendidik di desa terisolir menemui jalan berliku.

Ia bertahan mengajar di sebuah desa tanpa daratan yakni Desa Muara Enggelam, Kecamatan Muara Wis, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur.

“Saya awal ke sini tidak betah, tidak ada daratan. Mau ke sana kemari naik perahu. Satu tahun belum tentu lihat daratan. Hidup di atas air,” ungkap Hery saat dihubungi Kompas.com, Rabu (7/10/2020).

Baca juga: Kisah Guru Honorer di Daerah Terpencil, Jalan 10 Km Lewat Jembatan Bambu Demi Mengajar

Letak Desa Muara Enggelam berada di pesisir Danau Melintang.

Rumah warga dibangun di atas danau tersebut. Desa ini memang tak punya daratan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Danau Melintang menjadi satu-satunya akses masyarakat karena tak ada akses darat menuju desa ini.

Masyarakat setempat menggunakan perahu kecil bermesin tunggal sebagai alat transportasi untuk mengantar anak ke sekolah dan keperluannya di desa.

“Anak-anak olahraga dalam gedung dibangun di atas air. Di situ kadang anak-anak main futsal. Rata-rata di sini rumah panggung,” terang pria kelahiran 28 Agustus 1976 ini.

Tidak ada jaringan internet 

Selain tak punya daratan, desa ini juga jarang punya jaringan internet yang stabil. Hanya di titik tertentu.

“Begitu geser sedikit sinyal langsung hilang,” tutur Hery.

Baca juga: Kisah Guru Honorer yang Rela Gaji Minus untuk Berdayakan Lansia

Selama pandemi Covid-19, dia bersama delapan rekan guru lainnya yang mengajar di SDN 011 Muara Wis terpaksa mendatangi rumah para siswa.

Pasalnya, jaringan internet tak memungkinkan mereka untuk belajar daring.

“Kami keliling beri pelajar dan beri soal di rumah siswa didampingi orangtua. Begitu seterusnya selama Covid-19 ini,” kata dia.

Tak digaji 9 bulan 

Perjalanan Hery menjadi guru di desa ini berliku. Ia masuk ke desa tanpa daratan ini pada tahun 1997.

Hery hanya seorang santri lulusan pasantren di Muara Muntai, Kutai Kertenagara.

“Setelah lulus ustaz saya minta mengajar ngaji di sini. Saya ikut saja,” kenangnya.

Saat itu, lanjutnya, Desa Muara Enggelam masih dusun belum menjadi desa.

“Awal datang tidak betah. Tapi coba bertahan saja. Setelah satu tahun ternyata dapat istri di sini,” cerita dia.

Setahun setelah menikah, Hery ikut tes pembukaan guru honorer kontrak oleh Pemkab Kutai Kertanegara.

Ia terpilih dan ditempatkan di Dusun Kuyung, Desa Sebemban, Kecamatan Muara.

“Di sana tidak ada listrik. Hanya pakai genset. Malam pukul 9 sudah mati,” kenang dia.

Di Dusun Kuyung, Hery dipinjamkan rumah oleh seorang tokoh masyarakat setempat.

Di rumah itu Hery tinggal bersama sang istri.

“Waktu itu gaji saya Rp 200.000,” ungkap Hery.

Setahun lebih mengajar di dusun tanpa listrik, Hery minta pindah kembali ke desa semula tanpa daratan.

Sekitar tahun 2000, ia bersama istri pindah ke Desa Muara Enggelam.

Dua tahun setelah di Desa Enggelam, gaji Hery naik menjadi Rp 325.000.

Untuk memenuhi keluarga, Hery dibantu istri bekerja membersihkan ikan.

Tahun 2004 kembali gajinya naik menjadi Rp 480.000.

“Tapi di tahun itu juga gaji mulai mandek. Kadang tidak gajian 7 bulan. Bahkan pernah sampai 9 bulan tidak gajian. Saya mau menyerah jadi guru,” kenang Hery.

Saat itu, kata Hery, ada banyak guru yang ditempat di SDN 011 Muara Wis Desa Enggelam namun kebanyakan tidak betah.

Beberapa bulan mengajar mereka minta pindah, begitu seterusnya.

Selain karena desa tanpa daratan, akses jauh dari pusat kota dan tanpa jaringan internet.

Namun di tengah keterbatasan tersebut, Hery tetap bertahan.

Hingga tahun 2009 dirinya ikut tes CPNS dan dinyatakan lulus.

Kemudian, dia diangkat jadi Plt Kepala SDN 011 Muara Wis, Desa Enggelam tahun 2013 hingga sampai saat ini.

“Mau pelantikan tapi Covid-19 jadi belum dilantik jadi kepala sekolah defenitif,” pungkas dia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lewat Care Visit, Dompet Dhuafa Pererat Hubungan Mustahik dan Muzakki

Lewat Care Visit, Dompet Dhuafa Pererat Hubungan Mustahik dan Muzakki

Regional
Wujudkan Kesetaraan Gender, Pemkab Dharmasraya Raih Anugerah Parahita Ekapraya

Wujudkan Kesetaraan Gender, Pemkab Dharmasraya Raih Anugerah Parahita Ekapraya

Regional
Peringati WCD, Dompet Dhuafa Bersama Tabur BankSa Tanam 1.000 Pohon Bakau

Peringati WCD, Dompet Dhuafa Bersama Tabur BankSa Tanam 1.000 Pohon Bakau

Regional
Jelang PON XX Papua, Kodam Cenderawasih Gencar 'Jemput Bola' Vaksinasi Warga

Jelang PON XX Papua, Kodam Cenderawasih Gencar "Jemput Bola" Vaksinasi Warga

Regional
Tangsel Raih Anugerah Parahita Ekapraya, Walkot Benyamin: Ini Bentuk Komitmen Wujudkan Kesetaraan Gender

Tangsel Raih Anugerah Parahita Ekapraya, Walkot Benyamin: Ini Bentuk Komitmen Wujudkan Kesetaraan Gender

Regional
Lewat '1000 Baju Baru', Dompet Dhuafa Penuhi Kebutuhan Pakaian Muslim Yatim Piatu

Lewat "1000 Baju Baru", Dompet Dhuafa Penuhi Kebutuhan Pakaian Muslim Yatim Piatu

Regional
Dukung Penanggulangan Covid-19, YPMAK Serahkan Bantuan kepada PMI Pusat

Dukung Penanggulangan Covid-19, YPMAK Serahkan Bantuan kepada PMI Pusat

Regional
Bertemu Ganjar, Dubes Denmark: Kami Tertarik Investasi di Jateng

Bertemu Ganjar, Dubes Denmark: Kami Tertarik Investasi di Jateng

Regional
Bersihkan Pesisir Mattiro Sompe, Sulsel, Dompet Dhuafa Kumpulkan 1,2 Ton Sampah

Bersihkan Pesisir Mattiro Sompe, Sulsel, Dompet Dhuafa Kumpulkan 1,2 Ton Sampah

Regional
Kiat Bupati Dharmasraya Turunkan PPKM ke Level 2, dari Vaksinasi Door-to-Door hingga Gerakan 3T

Kiat Bupati Dharmasraya Turunkan PPKM ke Level 2, dari Vaksinasi Door-to-Door hingga Gerakan 3T

Regional
Pemkot Madiun Gelar Vaksinasi untuk 750 Narapidana

Pemkot Madiun Gelar Vaksinasi untuk 750 Narapidana

Regional
Rumah Jagal Anjing di Bantul Digerebek Polisi, 18 Ekor Dievakuasi, Ini Kronologinya

Rumah Jagal Anjing di Bantul Digerebek Polisi, 18 Ekor Dievakuasi, Ini Kronologinya

Regional
Orasi di STIM Budi Bakti, Ketua Dompet Dhuafa Minta Mahasiswa Punya 4 Karakter Profetik

Orasi di STIM Budi Bakti, Ketua Dompet Dhuafa Minta Mahasiswa Punya 4 Karakter Profetik

Regional
Dijadikan Syarat PTM, Vaksinasi Pelajar di Kota Madiun Sudah Capai 90 Persen

Dijadikan Syarat PTM, Vaksinasi Pelajar di Kota Madiun Sudah Capai 90 Persen

Regional
Kisah Kuli Bangunan di Lampung Utara yang Wakafkan Upahnya untuk Bangun Masjid

Kisah Kuli Bangunan di Lampung Utara yang Wakafkan Upahnya untuk Bangun Masjid

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.