Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Saat Jenazah Covid-19 Kami Angkat, Saya Meneteskan Air Mata Melihat Keluarga Mereka"

Kompas.com - 01/10/2020, 11:18 WIB
Pythag Kurniati

Editor

Keringat tertampung di sepatu dan sarung tangan

Selain menahan pilu melihat keluarga jenazah pasien Covid-19, para pengubur jenazah juga harus menahan panas ketika mengenakan APD.

Bahkan, seringkali keringat yang mengucur terakumulasi di sepatu hingga sarung tangan yang mereka kenakan.

"Keringat biasanya tertampung di sepatu bot dan sarung tangan. Jadi gerah sekali," kata Nusa Indah (43), petugas pengubur jenazah Covid-19 lainnya.

Kesulitan tersebut semakin menjadi-jadi jika ada keluarga yang menolak pemakaman.

Para petugas harus bertahan berjam-jam menahan panas.

"Satu jenazah butuh waktu kurang lebih satu jam sampai selesai penguburan. Itu kalau keluarganya enggak permasalahkan. Kalau keluarga tolak, tarik ulur, kami tunggu kadang sampai tiga-empat jam bertahan panasnya APD,” terang dia.

Nusa mengatakan, mereka sangat lega ketika tugas memakamkan jenazah usai dan diperkenankan melepas APD.

"Begitu kami lepas APD itu rasanya lega minta ampun. Kadang teman-teman tiduran di aspal saking leganya,” tandas dia.

Baca juga: Kisah-kisah Perawat Melawan Aniaya dan Stigma di Tengah Pandemi Corona, Diancam Pecahan Kaca dan Jenazah Ditolak Warga

Kerjakan dengan tulus

Ilustrasi makam.Shutterstock Ilustrasi makam.
Jika dalam sehari ada sembilan jenazah yang dimakamkan, maka pengubur jenazah harus bertahan dengan APD selama sembilan hingga sepuluh jam.

Meski menjadi petugas pemakaman jenazah Covid-19 tak mudah, namun Nusa dan kawan-kawannya mengaku ikhlas.

Semangat mereka memikul tugas mulia tersebut tak pernah luntur.

Tim pengubur jenazah memilih melakukan semua tugas dengan penuh rasa tanggung jawab.

"Kami nikmati. Siapa lagi yang mau berbuat," pungkasnya.

Adapun hingga Rabu (30/9/2020) kasus kematian karena Covid-19 di Samarinda mencapai 104 orang.

Angka itu merupakan urutan terbesar kedua setelah Balikpapan dengan jumlah kematian 175 orang.

Sumber: Kompas.com (Penulis : Kontributor Samarinda, Zakarias Demon Daton | Editor : Teuku Muhammad Valdy Arief)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com