Desa Hargobinangun Sleman Lahirkan Petani Muda

Kompas.com - 30/09/2020, 23:39 WIB
petani muda Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Nur Ahmad Wasnan (32) saat menunjukan area sawah yang terdampak aliran abu vulkanik yang masuk ke irigasi. Diduga, aliran abu vulkanik yang masuk ke irigasi ini akibat dari pertambangan. KOMPAS.COM/YUSTINUS WIJAYA KUSUMApetani muda Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Nur Ahmad Wasnan (32) saat menunjukan area sawah yang terdampak aliran abu vulkanik yang masuk ke irigasi. Diduga, aliran abu vulkanik yang masuk ke irigasi ini akibat dari pertambangan.

YOGYAKARTA,KOMPAS.com - Menjadi petani mungkin saat ini belum menjadi cita-cita sebagian besar para pemuda.

Kesan, kotor dan anggapan penghasilan yang pas-pasan membuat para pemuda masih sedikit yang ingin menjadi seorang petani.

Namun, justru di Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman para anak-anak muda banyak yang memilih menekuni pertanian.

Bahkan, hampir sebagian besar petani di Hargobinangun adalah para anak-anak muda.

"Di sini memang banyak petani-petani usia muda," ujar Siswiyanto (47), Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Hargobinangun, Jumat (11/9/2020).

Baca juga: Di Tangan Petani Muda Asal Cilacap, Benih Gendot Jadi Laris Manis

Di Desa Hargobinangun memang sudah turun-temurun menjadi petani. Namun memang mengalami pasang surut.

Sebab, ada suatu waktu saat generasi muda meninggalkan pertanian.

Mereka kebanyakan mencari pekerjaan di luar sebagai petani.

"Dalam kurun waktu tidak banyak generasi muda yang mau turun ke sawah. Mereka kan kebanyakan terus cari pekerjaan ke luar kota," ucapnya.

Namun, pada sekitar tahun 2000, kondisi berubah.

Anak-anak muda di Desa Hargobinangun dengan sendirinya mulai bertani.

Ketertarikan ke pertanian ini karena hasilnya yang menjanjikan.

Baca juga: Berkat Petani Milenial, Ekspor Hasil Pertanian Jateng Capai Rp 2,51 Triliun

Meskipun memang ada campur tangan dari Gapoktan dengan memberi edukasi agar generasi muda kembali tertarik sebagai petani.

"Ya edukasinya, kan anak muda gambaranya kerja enak penghasilanya gede, nah kalau temen-temen edukasinya sudah lihatin hasilnya saja. Ke sawah itu sekarang tidak ada yang jalan kaki tapi pakai kendaraan, itu bisa menjadi daya tarik," tuturnya.

Setelah anak-anak muda tertarik menjadi petani, Gapoktan tidak lantas lepas tangan.

Gapoktan tetap memberikan pendampingan dan edukasi terkait komoditas yang mempunyai nilai jual tinggi.

"Kelompok mengarahkan ini yang nilai jualnya tinggi, nilai jualnya seperti ini. Nanti kalau ada permasalahan dibicarakan bersama-sama di kelompok," ungkapnya.

Saat ini, jumlah petani muda di Hargobinangun hampir setengah dari jumlah petani yang ada.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jalan Tol Trans Lampung Ditemukan Banyak Lubang dan Bergelombang

Jalan Tol Trans Lampung Ditemukan Banyak Lubang dan Bergelombang

Regional
Eks TKI Alami Gangguan Jiwa, Hidup dengan 4 Anaknya yang Kurang Gizi, Popok Sampai Berulat

Eks TKI Alami Gangguan Jiwa, Hidup dengan 4 Anaknya yang Kurang Gizi, Popok Sampai Berulat

Regional
Perahu Wisata Terbalik di Bendungan Cikoncang, Banten, 3 Orang Tewas

Perahu Wisata Terbalik di Bendungan Cikoncang, Banten, 3 Orang Tewas

Regional
Oknum Polisi yang Todongkan Pistol ke Pengunjung Saat Ribut di Warung Tuak Diperiksa Propam

Oknum Polisi yang Todongkan Pistol ke Pengunjung Saat Ribut di Warung Tuak Diperiksa Propam

Regional
Perwira Polisi Bawa 16 Kg Sabu, Kapolda: Kita Harap Hakim Beri Hukuman Layak ke Pengkhianat Bangsa Ini

Perwira Polisi Bawa 16 Kg Sabu, Kapolda: Kita Harap Hakim Beri Hukuman Layak ke Pengkhianat Bangsa Ini

Regional
'Fun Bike' Diwarnai Joget, Ada Peserta Tak Bermasker, Polisi: Acara Tak Berizin, Kami Minta Bubarkan Diri

"Fun Bike" Diwarnai Joget, Ada Peserta Tak Bermasker, Polisi: Acara Tak Berizin, Kami Minta Bubarkan Diri

Regional
Adu Jotos di Warung Tuak, Polisi Todongkan Pistol ke Pengunjung, Ini Kronologinya

Adu Jotos di Warung Tuak, Polisi Todongkan Pistol ke Pengunjung, Ini Kronologinya

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 24 Oktober 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 24 Oktober 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 25 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 25 Oktober 2020

Regional
Kronologi 2 Satpam Divonis Bersalah atas Kasus Pembunuhan, Gegara Membela Diri Saat Diserang dengan Sajam

Kronologi 2 Satpam Divonis Bersalah atas Kasus Pembunuhan, Gegara Membela Diri Saat Diserang dengan Sajam

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 25 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 25 Oktober 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 25 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 25 Oktober 2020

Regional
Terlibat Perjudian, Oknum Kades di Grobogan Terancam 10 Tahun Penjara

Terlibat Perjudian, Oknum Kades di Grobogan Terancam 10 Tahun Penjara

Regional
Gerakan 'Rakyat Bantu Rakyat' di Yogyakarta, Siapkan Makanan untuk Buruh Gendong di Masa Pandemi

Gerakan "Rakyat Bantu Rakyat" di Yogyakarta, Siapkan Makanan untuk Buruh Gendong di Masa Pandemi

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 25 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 25 Oktober 2020

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X