Pupuk Organik, Solusi Petani Hemat Biaya Produksi di Masa Pandemi

Kompas.com - 28/09/2020, 13:08 WIB
Pembuatan pupuk organik yang dilakukan oleh Gapoktan Saluyu di Cilamaya, Jabar, mitra binaan Pertagas. Dengan pupuk organik ini petani bisa hemat biaya produksi sekitar 50 persen. Dok. ISTIMEWAPembuatan pupuk organik yang dilakukan oleh Gapoktan Saluyu di Cilamaya, Jabar, mitra binaan Pertagas. Dengan pupuk organik ini petani bisa hemat biaya produksi sekitar 50 persen.

KARAWANG, KOMPAS.com - Petani di masa pandemi Covid-19 dihadapkan pada biaya produksi sawah yang mahal. Padahal, saat pandemi perekonomian pun serba terdampak, apalagi bayang-bayang resesi akan membuat daya beli masyarakat turun sementara harga barang dan jasa melambung.

Namun sekelompok petani padi di Cilamaya, Jawa Barat, masih melihat adanya secercah harapan di tengah keterpurukan ekonomi masa pandemi. Bangkit berjuang, mereka memulai sebuah usaha yang membuahkan hasil manis saat pandemi. Dibina oleh Pertagas, mereka membentuk kelompok tani Gapoktan Saluyu, memproduksi pupuk organik granule dan cair untuk lahan sawahnya.

Aep Endang Sudrajat, Ketua Gapoktan Saluyu, tampak bersemangat membeberkan kisah kelompok taninya saat Zoom meeting yang diadakan oleh Pertagas, beberapa waktu lalu.

Baca juga: Petani di Sleman Menjerit, Sawah Terendam Abu Vulkanik Diduga akibat Tambang

"Dengan program tanam padi sehat ini, biaya produksi tidak bengkak. Jika tidak pakai pupuk organik, satu hektar sawah butuh biaya Rp 10 juta-Rp 11 juta. Tapi kalau pakai pupuk organik hanya Rp 5,5 juta-Rp 6 juta. Hasil padinya sekitar 6,2 ton rata-rata, sementara yang pakai pupuk kimia malah hanya 5 ton rata-rata," kata pria kelahiran Cilamaya tahun 1960 itu.

Menurut dia, besarnya pengeluaran untuk pupuk kimia lantaran tanah pertanian jadi kurang subur jika terus menerus diberi pupuk kimia. Akibatnya, petani harus menambah biaya untuk mengurangi hama.

Jika pakai pupuk organik, walaupun kondisi sering hujan seperti tahun lalu pun, panen tetap bagus. Pekerjaan petani, katanya, menjadi ringan karena tidak terlalu banyak melakukan penyemprotan.

Baca juga: Rayakan Panen Raya Hidroponik, Petani di Sigi Bangkit dari Bencana

"Karena keberhasilan itu, banyak petani yang mau ikut gabung ke Gapoktan Saluyu lantaran pendapatan petani lebih tinggi. Target kami musim panen tahun depan bisa sampai 7 ton per hektar," lanjutnya.

Gapoktan Saluyu sendiri sudah berdiri sejak 2002 dan beranggotakan 374 petani. Awalnya, Gapoktan ini membawahi 7 kelompok tani, yang masing-masing menyetor lahan 1 hektar untuk jadi percobaan.

Saat ini, jumlah lahan percobaan sudah bertambah jadi 14 hektar, dengan target nantinya per kelompok tani bisa menggunakan pupuk organik untuk 4 hektar lahannya.

Kelompok tani ini mengaku secara bertahap diberi binaan utnuk mengurangi pupuk kimia sejak awal 2019. Awalnya, pupuk kimia dikurangi 50 persen, kini hingga 85 persen.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hak Remisi Napi Penyebar Hoaks Mayor Sugeng Dicabut, Tak Bisa Urus Pembebasan Bersyarat

Hak Remisi Napi Penyebar Hoaks Mayor Sugeng Dicabut, Tak Bisa Urus Pembebasan Bersyarat

Regional
Ditangkap, Bandar Narkoba Lompat ke Danau dengan Tangan Diborgol, Sempat Dikira Tenggelam, Kini Dalam Pelarian

Ditangkap, Bandar Narkoba Lompat ke Danau dengan Tangan Diborgol, Sempat Dikira Tenggelam, Kini Dalam Pelarian

Regional
Janji Bertemu Kenalan Baru, Pemuda Ini Malah Dianiaya, Tangannya Ditebas hingga Putus

Janji Bertemu Kenalan Baru, Pemuda Ini Malah Dianiaya, Tangannya Ditebas hingga Putus

Regional
'Hanya 1 Siswi yang Protes, Kakak Kelasnya Non-Muslim Pakai Kerudung Tak Protes'

"Hanya 1 Siswi yang Protes, Kakak Kelasnya Non-Muslim Pakai Kerudung Tak Protes"

Regional
Hasil Rapid Reaktif, Oknum Polisi Pasien Covid-19 Terekam Mesum di Ruang Isolasi, 2 Pegawai RS Jadi Tersangka

Hasil Rapid Reaktif, Oknum Polisi Pasien Covid-19 Terekam Mesum di Ruang Isolasi, 2 Pegawai RS Jadi Tersangka

Regional
Wagub Jabar Bikin Kampung Santri, Muslimah Harus Berkerudung dan Pasar Tutup Jelang Shalat Jumat

Wagub Jabar Bikin Kampung Santri, Muslimah Harus Berkerudung dan Pasar Tutup Jelang Shalat Jumat

Regional
Dedi Mulyadi: Menteri LHK Bertugas Rawat Alam, Bukan Salahkan Hujan

Dedi Mulyadi: Menteri LHK Bertugas Rawat Alam, Bukan Salahkan Hujan

Regional
Keluhan Petani di Depan Kapolres: Tak Harus Ada Pupuk Bersubsidi, yang Penting Mudah Mendapatkannya

Keluhan Petani di Depan Kapolres: Tak Harus Ada Pupuk Bersubsidi, yang Penting Mudah Mendapatkannya

Regional
Fakta Paman Cekoki Bayi 4 Bulan dengan Miras, Viral di Medsos hingga Pelaku Ditangkap

Fakta Paman Cekoki Bayi 4 Bulan dengan Miras, Viral di Medsos hingga Pelaku Ditangkap

Regional
Penjelasan Polisi soal Aksi Pengejaran Truk di Tol Pasuruan yang Viral

Penjelasan Polisi soal Aksi Pengejaran Truk di Tol Pasuruan yang Viral

Regional
Kondisi Gunung Merapi Sepekan Terakhir, Terjadi 282 Kali Guguran Lava Pijar

Kondisi Gunung Merapi Sepekan Terakhir, Terjadi 282 Kali Guguran Lava Pijar

Regional
'Saya Dipanggil karena Anak Saya Tidak Pakai Jilbab'

"Saya Dipanggil karena Anak Saya Tidak Pakai Jilbab"

Regional
Sebelum Terkonfirmasi Positif Covid-19, Bupati Sleman Sempat Bertemu Sri Sultan HB X dan Menteri KP

Sebelum Terkonfirmasi Positif Covid-19, Bupati Sleman Sempat Bertemu Sri Sultan HB X dan Menteri KP

Regional
Paman yang Cekoki Miras ke Bayi 4 Bulan Terancam 10 Tahun Penjara

Paman yang Cekoki Miras ke Bayi 4 Bulan Terancam 10 Tahun Penjara

Regional
[POPULER NUSANTARA] Bule Asal Belanda Jualan Mi Ayam di Yogya | Ini Rahasia Suku Baduy Setahun Pandemi Nol Kasus Covid-19

[POPULER NUSANTARA] Bule Asal Belanda Jualan Mi Ayam di Yogya | Ini Rahasia Suku Baduy Setahun Pandemi Nol Kasus Covid-19

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X