Detik-detik Siswa SMA Tewas Tertimbun di Tambang Emas Ilegal, Korban Disuruh Menyelam di Air Keruh

Kompas.com - 28/09/2020, 06:20 WIB
Ini situasi lokasi tambang emas ilegal yang mengakibatkan seorang siswa SMA tewas tertimbun tanah longsor saat menyedot pasir di  Desa Sungai Alah, Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, Minggu (27/9/2020). Dok. Polda RiauIni situasi lokasi tambang emas ilegal yang mengakibatkan seorang siswa SMA tewas tertimbun tanah longsor saat menyedot pasir di Desa Sungai Alah, Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, Minggu (27/9/2020).

PEKANBARU, KOMPAS.com - R (17) seorang siswa kelas tiga sekolah menengah atas (SMA) tewas akibat tertimbun tanah di lokasi tambang emas tanpa izin (Peti) di Desa Sungai Alah, Kecamatan Hulu Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, Minggu (27/9/2020).

Berdasarkan data yang diterima Kompas.com dari Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto, korban memang ikut bekerja di lokasi peti.

Kejadian bermula pada pukul 07.30 WIB, pemilik peti berinisial PE bersama dengan pekerja lainnya memulai aktivitas.

Baca juga: 6 Pekerja Tewas Tertimbun, Bos Tambang Emas Ilegal Jadi Tersangka

Sekitar pukul 08.30 WIB, korban disuruh untuk menyelam ke dasar kolam dengan kedalaman sekitar satu setengah meter dengan kondisi air keruh berwarna kuning.

"Korban menyelam dilengkapi selang oksigen untuk membawa alat yang bernama spiral yang akan menyedot pasir, yaitu bahan yang diharapkan ada campuran emas di dasar kolam," kata Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Sunarto pada wartawan melalui keterangan tertulis, Minggu malam.

Pada saat dimulainya penyedotan pasir, lanjut dia, dinding kolam yang materialnya berupa campuran tanah dan pasir tiba-tiba longsor dan korban ikut tertimbun.

Baca juga: Detik-detik 9 Penambang Emas Ilegal Tewas Tertimbun Reruntuhan Tambang

Atas kejadian itu, kepala desa setempat mendapat laporan adanya salah seorang warga Desa Sungai Alah tertimbun akibat menambang emas illegal.

"Kepala desa bersama warga datang ke lokasi  peti (penambangan emas ilegal) untuk mencari korban," kata Sunarto.

Sekitar pukul 11.30 WIB, sebut dia, korban berhasil ditemukan dalam kondisi sudah tewas dan dilakukan evakuasi.

Pemilik dan pekerja lain kabur

Namun, pemilik peti dan pekerja lainnya sudah kabur dari tempat kejadian perkara (TKP).

"Tiga orang kabur dari TKP, yaitu PE (38) pemilik sekaligus pekerja. Kemudian, dua orang pekerja TO (37) dan EP (37)," kata Sunarto.

Sementara itu, Sunarto juga mengatakan bahwa pemilik peti di Desa Sungai Alah sudah beroperasi lebih kurang tiga bulang.

Untuk korban sendiri sudah ikut bekerja lebih kurang dua minggu.

"Berdasarkan keterangan dari orang tua korban, tahu anaknya bekerja di peti sejak dua minggu yang lalu," pungkas Sunarto.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Lokasi Budidaya Ganja di Polybag Ternyata Rumah Orangtua Mantan Wali Kota Serang

Lokasi Budidaya Ganja di Polybag Ternyata Rumah Orangtua Mantan Wali Kota Serang

Regional
Menengok Belajar Tatap Muka di Cianjur, Protokol Covid-19 Diberlakukan Ketat

Menengok Belajar Tatap Muka di Cianjur, Protokol Covid-19 Diberlakukan Ketat

Regional
Tips Nyaman Pakai Masker dalam Waktu Lama dan Bebas Bau Mulut

Tips Nyaman Pakai Masker dalam Waktu Lama dan Bebas Bau Mulut

Regional
Budidaya 45 Batang Ganja di Polybag Bertahun-tahun, Pria Ini Berdalih untuk Penelitian

Budidaya 45 Batang Ganja di Polybag Bertahun-tahun, Pria Ini Berdalih untuk Penelitian

Regional
Kebakaran Hanguskan 158 Rumah di Jayapura, Kerugian Ditaksir Capai Rp 20 Miliar

Kebakaran Hanguskan 158 Rumah di Jayapura, Kerugian Ditaksir Capai Rp 20 Miliar

Regional
Banjir dan Longsor di Cianjur, 5 Rumah Terendam, Akses Jalan Tertutup

Banjir dan Longsor di Cianjur, 5 Rumah Terendam, Akses Jalan Tertutup

Regional
2 Pejabat di UNS Meninggal karena Covid-19, Punya Riwayat ke Ubud Bali, Kampus 'Lockdown'

2 Pejabat di UNS Meninggal karena Covid-19, Punya Riwayat ke Ubud Bali, Kampus "Lockdown"

Regional
Sekolah Gratis di Bantaran Kali Gajahwong Yogya, Kurikulumnya Diteliti Mahasiswa Berbagai Negara

Sekolah Gratis di Bantaran Kali Gajahwong Yogya, Kurikulumnya Diteliti Mahasiswa Berbagai Negara

Regional
Nyanyikan Lagu yang Menyinggung Polisi Saat Demo, Seorang Mahasiswa Ditangkap

Nyanyikan Lagu yang Menyinggung Polisi Saat Demo, Seorang Mahasiswa Ditangkap

Regional
'Tak Salah Apa-apa Kena Gas Air Mata, Aku Tuntut Kalian, Polisi'

"Tak Salah Apa-apa Kena Gas Air Mata, Aku Tuntut Kalian, Polisi"

Regional
[POPULER NUSANTARA] Diyakini Meninggal jika Bersatu, Kembar Trena Treni Terpisah 20 Tahun | Pria Tanam Ganja Pakai Polybag di Rumah

[POPULER NUSANTARA] Diyakini Meninggal jika Bersatu, Kembar Trena Treni Terpisah 20 Tahun | Pria Tanam Ganja Pakai Polybag di Rumah

Regional
Perjuangan Hidup WNI Eks Kombatan di Filipina Setelah Keluar dari Penjara

Perjuangan Hidup WNI Eks Kombatan di Filipina Setelah Keluar dari Penjara

Regional
Bawaslu Catat 291 Pertemuan Dilakukan Paslon Pilkada Gunungkidul

Bawaslu Catat 291 Pertemuan Dilakukan Paslon Pilkada Gunungkidul

Regional
Inovatif, Mahasiswa di Semarang Ciptakan Alat Pendeteksi Suhu dan Masker

Inovatif, Mahasiswa di Semarang Ciptakan Alat Pendeteksi Suhu dan Masker

Regional
Kronologi Demo Berujung Ricuh, Gas Air Mata ke Permukiman Membuat Warga Marah

Kronologi Demo Berujung Ricuh, Gas Air Mata ke Permukiman Membuat Warga Marah

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X