Kriminolog Soroti Kasus Warga Semarang Ingin Tularkan Covid-19

Kompas.com - 25/09/2020, 16:33 WIB
Ilustrasi virus corona (Covid-19) KOMPAS.com/NURWAHIDAHIlustrasi virus corona (Covid-19)

SEMARANG, KOMPAS.com - Kasus mencuatnya isi percakapan antara dua warga terkonfirmasi positif Covid-19 yang sempat viral di media sosial mendapat sorotan dari kriminolog.

Pasalnya, salah satu warga F diduga memprovokasi dengan mengajak L untuk menularkan Covid 19.

Kriminolog Universitas Diponegoro (Undip) Nur Rochaeti mengatakan, dalam kasus ini perlu ada keseimbangan dalam penerapan kebijakan dan akses terhadap keadilan bagi para pihak.

"Hal tersebut merupakan tanggung jawab pemerintah dalam memenuhi hak warga negara. Sementara masyarakat berkewajiban melaksanakan peraturan pemerintah dalam kondisi saat ini yang begitu rumit," jelasnya saat dihubungi, Jumat (25/9/2020).

Baca juga: Pelanggar Protokol Kesehatan di Semarang Bakal Dihukum Menyapu Kuburan

Dia menjelaskan, penanganan yang tepat tentunya diawali dengan mendengarkan keterangan dari berbagai pihak.

"Bisa dilacak kebenaran dalam pembicaraan tentang lokasi yang menjadi obyek pembicaraan. Kebenaran suatu kasus tidak bisa hanya berdasarkan pembicaraan yang viral di media sosial. Perlu dilakukan penilaian secara obyektif," ucapnya.

Selain itu, kata dia, dalam kasus tersebut perlu dipelajari aspek kejiwaan yang memengaruhi perilaku.

"Apakah karena ada faktor kelabilan psikologis atau adanya pemicu maupun akumulasi kekecewaan yang beruntun sehingga berakibat pada perilaku kriminal," katanya.

Baca juga: Positif Covid-19 dari Klaster Rumah Makan di Semarang Jadi 22 Kasus

Menurutnya, upaya yang dilakukan bisa berdasarkan kajian kebijakan dalam hukum pidana yang dikenal dengan “penal policy” yakni sebagai usaha yang rasional untuk mengendalikan atau menanggulangi kejahatan.

"Artinya bahwa dalam penegakan hukum bukan hanya dengan menerapkan undang-undang melalui peraturan-peraturan hukum pidana yang terdapat unsur substantif, struktur dan kultur masyarakat, namun juga sarana non penal (tindakan)," ungkapnya.

Perspektif positivis, kata dia, akan memengaruhi cara pandang tentang penyelesaian kejahatan maupun pelanggaran dengan sarana hukum.

Kendati demikian, perlu adanya keseimbangan pemikiran yang bukan sekadar hukum untuk mencari kebenaran dengan mengedepankan keadilan bagi semua.

Kuasa hukum F Arief Wiranata menegaskan, sejak beredarnya tangkapan layar percakapan itu kliennya merasa dirugikan.

Selain itu, tangkapan layar percakapan yang tersebar tidak utuh sehingga terbentuk opini bahwa F memprovokasi menyebarkan Covid-19 karena sudah jalan-jalan yang posisinya saat itu positif.

Karena itu, pihaknya akan melaporkan hal tersebut ke Polda Jateng.

"Kalau yang sebarkan ada beberapa nama, kita belum tahu siapa duluan, kita akan lakukan upaya hukum," tandasnya.

Hingga saat ini, F sedang menjalani karantina mandiri di rumahnya di Boja, Kendal.

Sementara L sedang menjalani karantina di Rumah Dinas Wali Kota Semarang.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cerita Guru Honorer David Berdayakan Lansia untuk Buat Pot Sabut Kelapa: Gaji Minus Tak Masalah

Cerita Guru Honorer David Berdayakan Lansia untuk Buat Pot Sabut Kelapa: Gaji Minus Tak Masalah

Regional
Bahar bin Smith Menolak Diperiksa Polisi, Ini Kata Pengacara

Bahar bin Smith Menolak Diperiksa Polisi, Ini Kata Pengacara

Regional
Seorang Pria Tembak Kepala Ayah Teman Anaknya hingga Tewas

Seorang Pria Tembak Kepala Ayah Teman Anaknya hingga Tewas

Regional
5 Fakta Bocah 8 Tahun Kleptomania di Nunukan, Dicekoki Susu Campur Sabu hingga Ibu Pernah Ditahan di Malaysia

5 Fakta Bocah 8 Tahun Kleptomania di Nunukan, Dicekoki Susu Campur Sabu hingga Ibu Pernah Ditahan di Malaysia

Regional
Kabupaten Cianjur Terancam Zona Merah Covid-19

Kabupaten Cianjur Terancam Zona Merah Covid-19

Regional
Gara-gara Pasien Covid-19 Menolak Diisolasi, Satu Kawasan Dikarantina

Gara-gara Pasien Covid-19 Menolak Diisolasi, Satu Kawasan Dikarantina

Regional
Ketua FPI Pekanbaru dan Seorang Anggotanya Jadi Tersangka

Ketua FPI Pekanbaru dan Seorang Anggotanya Jadi Tersangka

Regional
Suami Bupati dan 36 Pegawai Pemkab Brebes Positif Covid-19 Usai Tur ke Bromo, Ganjar: Kurangi Piknik

Suami Bupati dan 36 Pegawai Pemkab Brebes Positif Covid-19 Usai Tur ke Bromo, Ganjar: Kurangi Piknik

Regional
Gentar, Guru Asli Orang Rimba yang Tak Ingin Lagi Warga Pedalaman Ditipu

Gentar, Guru Asli Orang Rimba yang Tak Ingin Lagi Warga Pedalaman Ditipu

Regional
Ayah Angkat Ceritakan Kelamnya Masa Kecil Bocah Diduga Kleptomania

Ayah Angkat Ceritakan Kelamnya Masa Kecil Bocah Diduga Kleptomania

Regional
Aksara Bali di Proyek Rp 22 Miliar Alun-alun Gianyar Keliru

Aksara Bali di Proyek Rp 22 Miliar Alun-alun Gianyar Keliru

Regional
Cerita Dimas, Sukses Kembangkan Budidaya Tanaman Bonsai Kelapa Beromzet Jutaan Rupiah

Cerita Dimas, Sukses Kembangkan Budidaya Tanaman Bonsai Kelapa Beromzet Jutaan Rupiah

Regional
Menyoal Penularan Covid-19 Saat Sekolah Tatap Muka di Gunungkidul, Siswa Terpapar dari Guru Positif Corona

Menyoal Penularan Covid-19 Saat Sekolah Tatap Muka di Gunungkidul, Siswa Terpapar dari Guru Positif Corona

Regional
Ganjar Pertimbangkan Sekolah Tatap Muka Tak Digelar Serentak

Ganjar Pertimbangkan Sekolah Tatap Muka Tak Digelar Serentak

Regional
Fotonya Bersama Ganjar Disalahgunakan untuk Kampanye Calon Bupati Purbalingga, Kader PDI P Lapor Bawaslu

Fotonya Bersama Ganjar Disalahgunakan untuk Kampanye Calon Bupati Purbalingga, Kader PDI P Lapor Bawaslu

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X