Petani di Sleman Menjerit, Sawah Terendam Abu Vulkanik Diduga akibat Tambang

Kompas.com - 22/09/2020, 16:26 WIB
petani muda Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Nur Ahmad Wasnan (32) saat menunjukan area sawah yang terdampak aliran abu vulkanik yang masuk ke irigasi. Diduga, aliran abu vulkanik yang masuk ke irigasi ini akibat dari pertambangan. KOMPAS.COM/YUSTINUS WIJAYA KUSUMApetani muda Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Nur Ahmad Wasnan (32) saat menunjukan area sawah yang terdampak aliran abu vulkanik yang masuk ke irigasi. Diduga, aliran abu vulkanik yang masuk ke irigasi ini akibat dari pertambangan.

YOGYAKARTA,KOMPAS.com - Tanaman padi di area persawahan Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, tampak hijau.

Beberapa petani tampak beraktivitas di sawah untuk merawat padi mereka.

Hanya saja, tanah yang ditumbuhi padi di area persawahan mereka tampak berbeda. Tanah yang biasanya coklat, terlihat abu-abu.

Di pinggir jalan yang dekat dengan area persawahan terlihat ada tumpukan material lumpur halus abu-abu yang sudah kering.

Lumpur yang mengering tersebut merupakan endapan abu vulkanik yang terbawa air dan masuk ke saluran irigasi pertanian.

Baca juga: Semburan Air Campur Lumpur Tak Berhenti, Sumur di Bekasi Kini Ditutup

Endapan abu vulkanik yang terbawa air dan menjadi seperti lumpur tersebut sempat mengendap di saluran irigasi.

Kemudian oleh petani saluran irigasi dibersihkan karena menyebabkan pendangkalan dan membuat aliran air tidak lancar.

Lumpur yang mengendap tersebut diangkat dari dalam saluran irigasi dan dikumpulkan di pinggir jalan oleh petani.

"Blotong atau lumpur itu mamang masuk ke irigasi, lalu masuk ke lahan pertanian. Itu kan kandungan abu vulkanik, sisa dari Merapi," ujar Siswiyanto (47), Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Desa Hargobinangun, Jumat (11/09/2020).

Peristiwa air bercampur material vulkanik halus masuk ke saluran irigasi terjadi pada awal Agustus 2020.

Setiap hari selama sepekan, air di saluran irigasi daerah Hargobinangun terlihat keruh dan kental.

"Jadi seminggu itu keruh terus, setiap hari. Warnanya kalau dulu itu seperti yang saat banjir lahar dingin itu, coklat seperti kopi susu dan kental, seperti itu," ungkapnya.

Baca juga: Petani Sayur Merapi: Daripada Busuk Sia-sia, Lebih Baik Disedekahkan

Menurutnya, air irigasi yang keruh karena bercampur material abu vulkanik tersebut jelas berdampak luar biasa bagi pertanian.

Sebab air irigasi digunakan para petani untuk kebutuhan mengairi pertanian mereka.

"Waktu itu kalau air pas keruh ya tidak dialirkan ke lahan. Cuman kan teman-teman (para petani) tidak tahu, soalnya datangnya tiba-tiba, pagi-pagi mau ke sawah airnya sudah masuk semua (ke lahan pertanian)," ucapnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jelang Pelantikan, Bupati dan Wabup Terpilih Gunungkidul Jalani Swab Antigen

Jelang Pelantikan, Bupati dan Wabup Terpilih Gunungkidul Jalani Swab Antigen

Regional
Jelang Pelantikan, Gibran: Siapa Bilang Hari Pertama Senin, Besok Langsung Gas

Jelang Pelantikan, Gibran: Siapa Bilang Hari Pertama Senin, Besok Langsung Gas

Regional
Vaksinasi Covid-19 untuk Guru, Ganjar: Bagaimana Siswanya, Ikut Divaksin Tidak?

Vaksinasi Covid-19 untuk Guru, Ganjar: Bagaimana Siswanya, Ikut Divaksin Tidak?

Regional
Pakai APBD Senilai Rp 1,8 M, Pemkot Denpasar Lanjutkan Sewa Hotel untuk Pusat Karantina

Pakai APBD Senilai Rp 1,8 M, Pemkot Denpasar Lanjutkan Sewa Hotel untuk Pusat Karantina

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 25 Februari 2021

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 25 Februari 2021

Regional
Demi Tutupi Hubungan Terlarang, Bayi 9 Bulan Dibunuh Ibu dan Selingkuhan

Demi Tutupi Hubungan Terlarang, Bayi 9 Bulan Dibunuh Ibu dan Selingkuhan

Regional
Ini Kegiatan yang Dilakukan Eri Cahyadi Jelang Dilantik Jadi Wali Kota Surabaya

Ini Kegiatan yang Dilakukan Eri Cahyadi Jelang Dilantik Jadi Wali Kota Surabaya

Regional
Geledah Rumah Tersangka Korupsi Migas Blok Mahakam, Kejati Kaltim Sita 3 Mobil Mewah

Geledah Rumah Tersangka Korupsi Migas Blok Mahakam, Kejati Kaltim Sita 3 Mobil Mewah

Regional
Seusai Mengantar Pacar, Pria di Palembang Ini Ditodong Pistol Mainan

Seusai Mengantar Pacar, Pria di Palembang Ini Ditodong Pistol Mainan

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 25 Februari 2021

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 25 Februari 2021

Regional
Takut Temukan Hiu Berwajah Manusia, Nelayan Ini Sempat Membuangnya, Begini Kronologi dan Penjelasan Ahli

Takut Temukan Hiu Berwajah Manusia, Nelayan Ini Sempat Membuangnya, Begini Kronologi dan Penjelasan Ahli

Regional
Salatiga Ditetapkan sebagai Kota Paling Toleran 2020 versi Setara Institute

Salatiga Ditetapkan sebagai Kota Paling Toleran 2020 versi Setara Institute

Regional
Ini Daftar Daerah di Jatim Berstatus Siaga dan Waspada Banjir, Surabaya Salah Satunya

Ini Daftar Daerah di Jatim Berstatus Siaga dan Waspada Banjir, Surabaya Salah Satunya

Regional
Anggota DPR Ditampar 2 Kali oleh Pria yang Anaknya Hendak Diselamatkan

Anggota DPR Ditampar 2 Kali oleh Pria yang Anaknya Hendak Diselamatkan

Regional
Polda Sulut Akan Berlakukan Tilang Elektronik di Manado, Ini Lokasinya

Polda Sulut Akan Berlakukan Tilang Elektronik di Manado, Ini Lokasinya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X