Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 17/09/2020, 10:22 WIB
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Ketika pariwisata Bali sedang terpuruk akibat pandemi Covid-19, siapa sangka rumput laut bisa menjadi penyelamat perekonomian warga Nusa Lembongan, sebuah pulau sebelah tenggara Denpasar.

Di tengah terik matahari yang menyengat, Luh Widiani menjemur rumput laut. Sambil berjongkok, perempuan berusia 38 tahun itu menaruh rumput laut basah pada terpal lalu membolak-balik sebagian lainnya agar tersebar merata.

Bersama suaminya, Widiani membudidayakan rumput laut di teluk yang memisahkan Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan, dua pulau di sebelah tenggara Denpasar yang dapat dijangkau menggunakan kapal cepat (speed boat) sekitar 30 menit dari Sanur.

Baca juga: Biaya Rapid Test di Bandara Ngurah Rai Bali Turun Jadi Rp 85.000

Widiani adalah pekerja vila, suaminya juga bekerja di sektor pariwisata. Namun, tanpa ada turis datang ke Bali akibat pandemi Covid-19, mereka dirumahkan pada Maret lalu.

Sejak akhir Mei, Widiani dan suaminya kembali menggeluti komoditas yang sekian lama mereka tinggalkan.

"Capeknya luar biasa, tetapi keadaan yang memaksa saya begini. Keadaan ekonomi yang membuat saya memilih pekerjaan ini," kata Widiani pada awal September lalu, sambil tetap jongkok dan meratakan rumput laut.

Baca juga: Rekor Baru Covid-19, Berikut 41 Kabupaten/Kota Zona Merah di Indonesia, Bali Masih Memimpin

Saat masih bekerja di sektor pariwisata, Widiani dan suaminya mendapatkan gaji setidaknya Rp5 juta masing-masing. Kini, mereka berdua mendapat sekitar Rp 4 juta per bulan untuk semua rumput laut yang dikelola.

Jumlah itu lebih kecil. Namun, menurut Widiani, itu tetap lebih baik daripada tidak ada pendapatan sama sekali.
bali

Andalan warga Nusa Lembongan

Luh Widiani kembali menggeluti rumput laut yang sekian lama mereka tinggalkan, setelah pariwisata Bali terpuruk akibat pandemi Covid-19.Anton Muhajir Luh Widiani kembali menggeluti rumput laut yang sekian lama mereka tinggalkan, setelah pariwisata Bali terpuruk akibat pandemi Covid-19.
Rumput laut tadinya merupakan andalan warga Nusa Lembongan untuk keperluan hidup sehari-hari. Namun, seiring dengan melesatnya pariwisata sejak 2008 ketika penyeberangan ke pulau ini semakin sering, warga banyak yang beralih ke turisme.

I Nyoman Sulitra, salah satu perintis pariwisata di Nusa Lembongan, adalah saksinya.

"Mulai 2008 masyarakat lokal membangun vila. Orang-orang Lembongan berduyun-duyun bikin vila. Kalau punya uang, pasti bikin vila," kata Sulitra kepada wartawan BBC News Indonesia di Bali.

Baca juga: 7 Prajurit TNI AD Positif Covid-19 Setelah Pulang Pendidikan dari Bali

Bangkitnya pariwisata dibarengi dengan kerugian yang diderita petani rumput laut. Hal ini membuat semakin banyak warga yang meninggalkan komoditas tersebut.

"Rumput lautnya murah, harganya sampai Rp 3.000-Rp 4.000. Kalau dihitung antara pekerjaan dan hasilnya kan tidak match ya. Lebih baik dia lari ke pariwisata mumpung pariwisata berkembang pesat. Mulai itulah pelan-pelan ditinggalkan rumput laut," paparnya.

Baca juga: Pulang dari Pendidikan di Bali, 19 Anggota TNI Positif Covid-19

Pendapatan nol, kembali ke rumput laut

Warga melewati penjemuran rumput laut di depan kafe yang kosong tanpa pengunjung.Anton Muhajir Warga melewati penjemuran rumput laut di depan kafe yang kosong tanpa pengunjung.
Mantan pembantu juru masak di Bali daratan ini juga yang termasuk pulang ke Nusa Lembongan untuk membuka usaha di bidang pariwisata.

Selain vila yang dikelola bersama keluarganya, Sulitra mengelola restoran dan vila bersama teman karibnya yang kini jadi pemodal.

Mengandalkan tamu dari Eropa, terutama Belanda, uang mengalir lancar ke rekening Sulitra dan para pemilik usaha pariwisata lainnya di Nusa Lembongan.

Namun, ketika pandemi Covid-19 menghantam Bali, aliran pendapatan terhenti sama sekali.

Baca juga: Petani Rumput Laut di NTT Merugi Ratusan Juta akibat Proyek Dermaga PLTU Timor 1

Laut yang biasanya riuh dengan para penyelam dan penikmat snorkling, kini hanya berisi tongkang kosong. Restoran dan kafe tiada pengunjung.

Deretan sepeda motor teronggok berdebu di tempat-tempat penyewaan.

"Sekarang penghasilan tidak ada sama sekali. Susah sekarang, Pak. Aduuh. Benar-benar susah," kata Sulitra.

Siang itu dia sekadar memeriksa restoran dan vilanya. Satu staf yang masih masuk baru saja pamit untuk pulang. Tanpa turis sama sekali, tak banyak pekerjaan bisa dilakukan.

Baca juga: 9 Manfaat Rumput Laut, Dukung Kecerdasan hingga Cegah Kanker

Sebagai wakil pemilik sekaligus manajer LGood Villa dan Restaurant, Sulitra sudah merumahkan karyawannya.

Sembilan kamar di vila milik Sulitra yang bertarif paling murah Rp 1 juta per malam, kosong tanpa tamu sejak Maret lalu.

Nihil pekerjaan, Sulitra yang sebelum pandemi bisa mendulang sampai ratusan juta rupiah per bulan itu pun kembali membudidayakan rumput laut.

Baca juga: Tak Terpengaruh Corona, Pengusaha Batam Ekspor 53 Ton Rumput Laut ke China

I Nyoman Sulitra Sulitra yang sebelum pandemi bisa mendulang sampai ratusan juta rupiah per bulan, kembali membudidayakan rumput laut.Anton Muhajir I Nyoman Sulitra Sulitra yang sebelum pandemi bisa mendulang sampai ratusan juta rupiah per bulan, kembali membudidayakan rumput laut.
Padahal dia sudah meninggalkan komoditas ini lebih dari 20 tahun sejak memilih fokus bekerja di pariwisata.

"Saya tidak malu. Penghasilan sekarang nol. Akan nol sama sekali kalau tidak ada rumput laut. Untungnya ada rumput laut," kata Sulitra.

Dengan modal Rp 15 juta, dia membeli 450 tali bibit rumput laut dan patok.

Bersama istri dan buruh dia terjun ke laut menanam, merawat, dan memanen rumput laut jenis katoni (Kappaphycus alvarezii) dan sakul (Eucheuma spinosum) itu. Dia sudah sekali panen dengan hasil Rp 3,3 juta.

Baca juga: Begini Cara Kepulauan Seribu Jadi Produsen Rumput Laut Kelas Dunia

Ketika ditanya apa artinya nilai itu dibandingkan pendapatannya dari pariwisata, Sulitra menjawab dengan tertawa, "Jauh, Pak. Jauuuh..."

Dia mengaku tetap berharap pariwisata akan kembali pulih di Bali.

"Kalau disuruh memilih antara pariwisata dan rumput laut, saya lebih memilih pariwisata, tetapi rumput laut juga jangan ditinggalkan. Karena kalau hanya mengandalkan pariwisata, sangat riskan terhadap ekonomi," lanjutnya.

Baca juga: Menikmati Rumput Laut Hinga Mbeta yang Langka Khas Flores Rongga

Kembali andalkan rumput laut

Made Suarbawa tekun mengembangkan rumput laut di Nusa Lembongan sejak 2000-an awal.Anton Muhajir Made Suarbawa tekun mengembangkan rumput laut di Nusa Lembongan sejak 2000-an awal.
Berbeda dengan I Nyoman Sulitra yang baru berkecimpung lagi dalam budidaya rumput laut, Made Suarbawa justru tekun mengembangkan rumput laut di Nusa Lembongan sejak 2000-an awal.

Bahkan, alumni Fakultas Sastra Universitas Udayana Bali ini mengajarkan tentang cara bertani rumput laut ke Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, hingga Papua.

Sebelum pandemi melanda, dia bisa mendapatkan sekitar Rp 35 juta dari menjual bibit rumput laut. Itu belum termasuk hasil penjualan rumput laut kering, sekitar Rp 3 hingga Rp 5 juta per bulan.

Namun, Suarbawa berinvestasi pada waktu yang tidak tepat. Tergiur oleh keuntungan sektor pariwisata, dia membangun vila dan kolam renang untuk disewakan. Modal sebesar Rp 800 juta dia peroleh dari hasil jual aset dan berutang.

Baca juga: Setelah Menabung 30 Tahun, Petani Rumput Laut Akhirnya Naik Haji Bersama Istri

Belum sempat balik modal, pandemi muncul.

"Saya bercerita kepada istri, 'kok bisa ya kita bodoh seperti ini?' Karena uang saya habis untuk itu, kolaps, sekarang saya nggak punya uang. Tabungan saya sudah habis untuk membangun vila. Saya bersyukur ada rumput laut sehingga bisa beli beras," tutur Made Suarbawa dengan mata berkaca-kaca.

Kini, Suarbawa telah belajar dari pengalamannya dan fokus menekuni komoditas rumput laut.

Dengan dukungan beberapa lembaga swadaya masyarakat dan pemerintah, Suarbawa melakukan pembibitan dan pengembangan rumput laut.

Baca juga: Petani Rumput Laut NTT Gugat Perusahaan Australia Rp 2 Triliun

Saat ini dia mengelola 1.700 m2 lahan rumput laut.

"Selama 30 tahun, kami di Lembongan telah diselamatkan rumput laut. Tidak mungkin komoditas yang sudah menyelamatkan kami 30 tahun, kami abaikan begitu saja. Lalu kenapa kami tidak rawat dengan baik untuk keberlangsungan kehidupan kami di Lembongan," pungkas Suarbawa.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wabup Pidie Jaya Apresiasi Ketulusan Pengabdian Ramhat Aulia yang Bawa Ayahnya Berobat dengan Becak Motor

Wabup Pidie Jaya Apresiasi Ketulusan Pengabdian Ramhat Aulia yang Bawa Ayahnya Berobat dengan Becak Motor

Regional
Wujud Kolaborasi Lintas Daerah, Perayaan HUT Ke-20 Kabupaten Bone Bolango Hadirkan Berbagai Atraksi

Wujud Kolaborasi Lintas Daerah, Perayaan HUT Ke-20 Kabupaten Bone Bolango Hadirkan Berbagai Atraksi

Regional
BPKH bersama Dompet Dhuafa Bagikan 250 Kitchen Kit untuk Penyintas Gempa Cianjur

BPKH bersama Dompet Dhuafa Bagikan 250 Kitchen Kit untuk Penyintas Gempa Cianjur

Regional
Gubernur Sulsel Nilai Keberhasilan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Karena Kepimimpinan Jokowi

Gubernur Sulsel Nilai Keberhasilan Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Karena Kepimimpinan Jokowi

Regional
Pemkot Semarang Luncurkan BUMP, Plt Walkot Ita Harap Kesejahteraan Petani Meningkat

Pemkot Semarang Luncurkan BUMP, Plt Walkot Ita Harap Kesejahteraan Petani Meningkat

Regional
Kisah Agus Falahudin, Penyintas Gempa Cianjur yang Gotong Royong Bangun Huntara

Kisah Agus Falahudin, Penyintas Gempa Cianjur yang Gotong Royong Bangun Huntara

Regional
Tanggapi Keluhan Masyarakat, Pemkot Semarang dan BBWS Tangani Timbunan Sampah di Kampung Nelayan Tambakrejo

Tanggapi Keluhan Masyarakat, Pemkot Semarang dan BBWS Tangani Timbunan Sampah di Kampung Nelayan Tambakrejo

Regional
Dompet Dhuafa Gandeng Beramaljariyah dan Evermos Salurkan Al-Qur'an dan Alat Salat

Dompet Dhuafa Gandeng Beramaljariyah dan Evermos Salurkan Al-Qur'an dan Alat Salat

Regional
LKPP Gandeng Telkom Gagas Platform Baru Pengadaan Barang/Jasa

LKPP Gandeng Telkom Gagas Platform Baru Pengadaan Barang/Jasa

Regional
Songsong Kemajuan Desa, BUMDes Wadas Studi Banding ke 4 Desa Sekaligus

Songsong Kemajuan Desa, BUMDes Wadas Studi Banding ke 4 Desa Sekaligus

Regional
BERITA FOTO: Banjir Terjang Aceh Utara, 11.000 Warga Mengungsi

BERITA FOTO: Banjir Terjang Aceh Utara, 11.000 Warga Mengungsi

Regional
Plt Walkot Semarang Optimistis Capai Target Nol Kasus Stunting pada 2023

Plt Walkot Semarang Optimistis Capai Target Nol Kasus Stunting pada 2023

Regional
Pelayanan Publik Jateng Diapresiasi Ombudsman RI, Ganjar: Saya Senang

Pelayanan Publik Jateng Diapresiasi Ombudsman RI, Ganjar: Saya Senang

Regional
Kisah Haru Nenek Berusia 90 Tahun Alami Kelumpuhan, Selamat Berkat Kartu Jateng Sejahtera

Kisah Haru Nenek Berusia 90 Tahun Alami Kelumpuhan, Selamat Berkat Kartu Jateng Sejahtera

Regional
Tahun 2023, Pemkot Balikpapan Fokus pada Pendidikan, Kesehatan, dan Infrastruktur

Tahun 2023, Pemkot Balikpapan Fokus pada Pendidikan, Kesehatan, dan Infrastruktur

Regional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.