Wamen LHK Batalkan Kunjungan ke Desa Kinipan Kalteng karena Banjir

Kompas.com - 09/09/2020, 22:25 WIB
Petugas BPBD Lamandau, Kalimantan Tengah, mengangkut bantuan logistik kepada warga tujuh desa yang terdampak banjir akibat luapan Sungai Batangkawa, Selasa (8/9/2020). KOMPAS.com/DOK. BPBD LAMANDAUPetugas BPBD Lamandau, Kalimantan Tengah, mengangkut bantuan logistik kepada warga tujuh desa yang terdampak banjir akibat luapan Sungai Batangkawa, Selasa (8/9/2020).

PANGKALAN BUN, KOMPAS.com - Banjir yang merendam sejumlah desa di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah, memaksa rombongan Wakil Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan ( Wamen LHK) Alue Dohong membatalkan kunjungan ke Desa Kinipan, Rabu (9/9/2020).

Sesuai jadwal yang dirilis Biro Umum Kementerian LHK, Alue Dohong mestinya bertolak ke Kinipan seusai bertemu dengan bupati dan anggota DPRD Lamandau.

Hal itu dikatakan anggota DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Tengah, Bambang Purwanto, yang ikut dalam rombongan Wamen Alue Dohong.

"Tadi sudah sampai Desa Penopa, tapi harus balik arah karena banjir di beberapa titik di ruas jalan Trans Kalimantan. Ketinggian air kira-kira sepinggang, sulit untuk lewat," ungkap Bambang saat dihubungi Kompas.com, Rabu petang.

Baca juga: Pemprov Kalteng dan Pemkab Lamandau Dinilai Abai terhadap Masyarakat Adat Kinipan

Politisi Partai Demokrat ini menjelaskan, kedatangan Alue Dohong untuk melihat langsung kondisi lapangan terkait konflik antara masyarakat adat Laman Kinipan dengan PT Sawit Mandiri Lestari (SML).

Meski batal ke Kinipan, ujar Bambang, dalam pertemuan di kantor Bupati Lamandau, Wamen Alue Dohong sempat bertatap muka dengan perwakilan warga Kinipan.

"Tadi yang hadir ada kepala desa dan tokoh masyarakat adat Kinipan," sambung legislator yang juga mantan bupati Kotawaringin Barat ini.

Banjir juga menghambat perjalanan rombongan sejumlah aktivis pendamping masyarakat Laman Adat Kinipan.

Baca juga: Duduk Perkara Penangkapan Paksa Effendi Buhing, Pejuang Adat Laman Kinipan oleh Polda Kalteng

Direktur Save Our Borneo (SOB) Safrudin Mahendra dan rombongan yang berjumlah enam orang terpaksa menunggu ketinggian air berkurang agar bisa melintas.

"Karena hanya menggunakan mobil kecil kami terpaksa menunggu air agak surut. Sekarang masih setinggi pinggang orang dewasa. Kami tidak berani lewat. Tadi rombongan wakil menteri yang rata-rata menggunakan mobil besar saja putar balik," ujar Safrudin.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Wali Kota Semarang Minta Jembatan Besi Sampangan Segera Difungsikan

Regional
Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Polsek Pekalongan Selatan, Sering Dikira Kafe karena Ada Minibar dan Penuh Lampu Hias

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X