Berkunjung ke Kampung Kasih Sayang di Langkat: Susah Senang Kami Tanggung Bersama

Kompas.com - 05/09/2020, 13:10 WIB
Sejumlah ibu rumah tangga memasak makanan di dapur umum Kampung Matfa, Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Senin (03/08). Nanda Fahriza BatubaraSejumlah ibu rumah tangga memasak makanan di dapur umum Kampung Matfa, Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, Senin (03/08).
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Sebuah kampung di Langkat, Sumatra Utara dinamai Kampung Majelis Ta'lim Fardhu — lazim disebut Kampung Matfa — yang menjalankan kebersamaan dan kesamarataan yang disebut seorang sosiolog mencoba memadukan antara spirit keislaman dan sebagian nilai-nilai yang bercorak sosialisme.

Hari itu, Rabu (22/7/2020), sejumlah perempuan berkumpul dan terlihat serius melakukan pekerjaan masing-masing.

Sebagian di antara mereka tengah membersihkan sisik ikan. Sementara yang lain tampak fokus mengaduk olahan sayur di wajan besar.

Baca juga: Menag: Masjid Hadiah Pangeran Abu Dhabi untuk Jokowi Perkuat Toleransi

Di sebelahnya, perempuan-perempuan lain bersenda gurau sembari membungkus makanan. Ada juga yang baru saja selesai memasak beras serta air.

Hari itu merupakan jadwal bagi mereka menyiapkan kebutuhan lauk untuk seluruh warga.

Dapur umum, begitu mereka menyebutnya. Ruang terbuka seluas 10x10 meter yang merupakan pusat pengolahan makan dan minum penduduk kampung. Letaknya persis di tengah persimpangan.

Baca juga: Mendambakan Toleransi Umat Beragama

Warga membawa pulang jatah makan siang menuju barak, Jumat (31/07).Nanda Fahriza Batubara Warga membawa pulang jatah makan siang menuju barak, Jumat (31/07).
Setiap hari, warga melakukan pekerjaan tersebut secara bergiliran. Satu kelompok terdiri hingga 30 orang. Semua kebutuhan pangan penduduk diolah dan dimasak secara bersama.

Setelah siap, satu per satu perwakilan keluarga datang mengambil jatah makanan dan kemudian membawanya ke rumah masing-masing. Baik ketika sarapan, makan siang dan makan malam.

Dengan kata lain, menu makanan yang disantap penduduk di kampung itu selalu sama.

Inilah satu di antara keunikan Kampung Kasih Sayang alias Kampung Majelis Ta'lim Fardhu Ain atau Matfa.

Baca juga: Belajar Toleransi dari Suku Wajor, Pantang Bertengkar Hanya karena Berbeda

Semua penduduknya menjalani hidup dengan kebersamaan dan kesamarataan.

Kampung ini bernama asli Kampung Darussalam dan terletak di Dusun III Darat Hulu, Desa Telaga Said, Kecamatan Sei Lepan, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Wartawan BBC Indonesia, hari itu bertemu dengan Kholiqul Ritonga, akrab dipanggil Kholiq, yang dipercaya warga menjadi juru bicara Kampung Matfa.

Sebelum pindah ke Kampung Matfa, Kholiq dan keluarganya bertempat tinggal di Kompleks Perumahan Menteng Indah, Medan, Sumatera Utara.

Baca juga: Cerita WNI tentang Toleransi Warga Australia Saat Menjalani Ramadhan di Negeri Kangguru

Kisah Kholiq memilih pindah ke Kampung Matfa

Kholiq sebelumnya aktif mengajar seni beladiri Aikido. Tak tanggung-tanggung, dia membuka enam Dojo atau perguruan.Dokumen pribadi Kholiq Kholiq sebelumnya aktif mengajar seni beladiri Aikido. Tak tanggung-tanggung, dia membuka enam Dojo atau perguruan.
Kholiq, 43 tahun, lulusan ilmu teknik sipil dari perguruan tinggi swasta di Medan memutuskan pindah ke Kampung Matfa bersama keluarganya pada tahun 2012.

Sebelumnya, Kholiq aktif mengajar seni beladiri Aikido. Dia membuka enam Dojo atau perguruan.

Dari sini dia bertemu Prasuta Citra alias Cici, dokter gigi, yang kemudian menjadi pendamping hidupnya.

Pada 2004, keduanya menikah dan kini sudah dikaruniai dua orang anak yang duduk di bangku sekolah dasar.

Baca juga: Toleransi dalam Pondok Pesantren di Bali yang 50 Persen Gurunya Beragama Hindu

Kecintaan Kholiq pada Aikido membawanya mengenal Kampung Matfa. Katanya, Aikido bukan seni beladiri yang hanya mengedepankan hasil pertarungan.

Terdapat filosofi tersendiri yang terkandung di dalamnya. Yakni harmonisasi dengan alam, tuturnya.

Seiring mendalami Aikido, di benak Kholiq terbersit pertanyaan, "Bagaimana mengaplikasikan semua ini di kehidupan sehari-hari. Kemudian saya bertemu dan mendengar ajaran dari Tuwan Iman (pemimpin Kampung Matfa), yakni tentang bagaimana berkasih sayang," kata Kholiq.

Baca juga: Gereja Katedral Jakarta Berharap Terowongan Silaturahim Mempererat Toleransi

Bertemu pemimpin Kampung Kasih Sayang

Puluhan murid Madrasah Tsanawiyah sedang belajar membaca Al Quran di Kampung Matfa.Nanda Fahriza Batubara Puluhan murid Madrasah Tsanawiyah sedang belajar membaca Al Quran di Kampung Matfa.
Kholiq terkesima dengan penjelasan Tuwan Imam mengenai kalimat Bismillahirahmanirahim, kalimat yang mengandung kata pengasih dan penyayang.

Menurut Kholiq, penjelasan Tuwan Imam menjadi jawaban atas segala pertanyaannya selama ini.

"Akhirnya saya temukan di kampung ini bagaimana melakukan itu. Karena kecintaan dengan Aikido, kemudian muncul keinginan menjadi seorang Aikido yang baik," katanya

"Sesuai kata pendirinya, adalah menyatu dengan alam, tidak bersinggungan dengan yang lain. Nah, semua konteks ini ternyata ada dalam beragama," sambungnya.

Baca juga: Belajar Toleransi di Banuroja, Desa Pancasila Penuh Damai di Indonesia

Kholiq juga mengaku tidak menemukan kendala dari pihak keluarga. Orangtua mereka bahkan mendukung, ungkapnya.

"Karena urusan agama, jadi orangtua support. Tak ada masalah," katanya.

Pada 2012, Kholiq memutuskan pindah ke Kampung Matfa bersama pendatang lainnya. Mereka kemudian bergotong royong membangun permukiman.

Istrinya, Cici membuka layanan kesehatan gigi di Rumah Sehat (tempat pengobatan di Kampung Matfa)

Baca juga: Merajut Toleransi dan Keberagaman di Kelenteng Pan Kho Bio

Perpindahan dari kawasan kota menuju pelosok kampung tidak menjadi hal sulit bagi Kholiq. Dia mengaku hanya perlu sekejap adaptasi.

"Mungkin karena saya memang mendapat apa yang saya cari, jadi tidak sulit. Cukup adaptasi sekadar saja," kata Kholiq.

Pun begitu dengan istri Kholiq, Cici. Dia tidak menolak ketika pertama kali diajak suaminya pindah ke Kampung Matfa.

Padahal, Cici saat itu telah membuka praktik dokter gigi di Medan.Menurutnya, semua itu setimpal dengan yang ia dapatkan saat ini.

"Alasan saya hijrah dengan suami agar bisa berbakti sosial dalam beragama," kata Cici.

Baca juga: Potret Toleransi di Jember, 8 Agama Ikut Hadir dalam Perayaan Imlek

'Saya menemukan apa yang saya cari'

Saya menemukan apa yang saya cari. Yaitu ajaran Bung Karno. Saya penasaran sekali dengan Pancasila dan agama, kandungan-kandungan di situ, kata Aldi Nasution.Nanda Fahriza Batubara Saya menemukan apa yang saya cari. Yaitu ajaran Bung Karno. Saya penasaran sekali dengan Pancasila dan agama, kandungan-kandungan di situ, kata Aldi Nasution.
Selain keluarga Kholiq, sejak tahun 2012, penduduk Kampung Matfa terus bertambah.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PN Surabaya Minta PT Antam Bayar 1,1 Ton Emas kepada Budi Said, Begini Duduk Perkaranya

PN Surabaya Minta PT Antam Bayar 1,1 Ton Emas kepada Budi Said, Begini Duduk Perkaranya

Regional
1.598 Warga Semarang Kedapatan Langgar Aturan PPKM, 115 Unit Usaha Disegel

1.598 Warga Semarang Kedapatan Langgar Aturan PPKM, 115 Unit Usaha Disegel

Regional
Prostitusi Online Berkedok Spa di Bandung, Pelaku Beralasan Terdampak Pandemi

Prostitusi Online Berkedok Spa di Bandung, Pelaku Beralasan Terdampak Pandemi

Regional
Masuk Zona Merah Covid-19, Bupati Ponorogo Segera Terapkan PPKM

Masuk Zona Merah Covid-19, Bupati Ponorogo Segera Terapkan PPKM

Regional
Kata Bupati Pati soal Fotonya Tak Kenakan Masker di Acara Pernikahan Viral

Kata Bupati Pati soal Fotonya Tak Kenakan Masker di Acara Pernikahan Viral

Regional
Pria yang Buat Status Facebook soal Tabrak Lari Flyover Manahan Minta Maaf

Pria yang Buat Status Facebook soal Tabrak Lari Flyover Manahan Minta Maaf

Regional
Anak Perempuan yang Tewas Terbungkus di Subang Mengenakan Baju Worms Zone

Anak Perempuan yang Tewas Terbungkus di Subang Mengenakan Baju Worms Zone

Regional
Ada ASN yang Positif Covid-19, Pemkab Bangkalan Tutup 11 Kantor OPD

Ada ASN yang Positif Covid-19, Pemkab Bangkalan Tutup 11 Kantor OPD

Regional
Hujan Es dan Puting Beliung Terjadi di Kabupaten Cianjur

Hujan Es dan Puting Beliung Terjadi di Kabupaten Cianjur

Regional
Iming-iming Paket Internet, Pria Ini Cabuli Anak Tetangganya yang Berusia 8 Tahun

Iming-iming Paket Internet, Pria Ini Cabuli Anak Tetangganya yang Berusia 8 Tahun

Regional
Pengungsi Korban Gempa Sulbar Mulai Berdatangan ke Makassar

Pengungsi Korban Gempa Sulbar Mulai Berdatangan ke Makassar

Regional
Kronologi Bus Jurusan Magetan-Jakarta Tabrak Warung, Pemilik Tertimpa Etalase

Kronologi Bus Jurusan Magetan-Jakarta Tabrak Warung, Pemilik Tertimpa Etalase

Regional
Ambil Paksa Jenazah Pasien Covid-19, 3 Warga Ditetapkan sebagai Tersangka

Ambil Paksa Jenazah Pasien Covid-19, 3 Warga Ditetapkan sebagai Tersangka

Regional
Sebagian Pengungsi Erupsi Gunung Merapi di Sleman Sudah Pulang

Sebagian Pengungsi Erupsi Gunung Merapi di Sleman Sudah Pulang

Regional
4 Fakta Mobil Jokowi Terjang Banjir di Kalsel, Tinjau Jembatan Putus dan Sampaikan Duka Cita

4 Fakta Mobil Jokowi Terjang Banjir di Kalsel, Tinjau Jembatan Putus dan Sampaikan Duka Cita

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X