Menyoal Kematian Ipar Edo Kondologit di Tahanan

Kompas.com - 04/09/2020, 12:52 WIB
Edo Kondologit saat menyampaikan aspirasi di polres Sorong kota Maichel KOMPAS. comEdo Kondologit saat menyampaikan aspirasi di polres Sorong kota
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Kasus kekerasan yang menimpa kerabat politisi PDI Perjuangan, Edo Kondologit, di tahanan Mapolres Sorong, Papua Barat, menurut pegiat Hak Asasi Manusia, menunjukkan kesewenang-wenangan aparat dalam melakukan proses hukum.

Catatan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, pengaduan kasus-kasus kekerasan yang dilakukan aparat di Papua terus menggunung dalam lima tahun terakhir. Sepanjang 2019 saja jumlahnya mencapai 154 aduan.

Terus berulangnya praktik kekerasan, kata pegiat HAM, disebabkan cara pandang polisi yang menganggap orang Papua sebagai separatis dan tak ada mekanisme penyelidikan independen untuk menghukum berat pelaku kekerasan.

Baca juga: Polri: Keluarga Percayakan Investigasi Kasus Tewasnya Ipar Edo Kondologit ke Polisi

Ehud Edward Kondologit atau Edo Kondologit masih tak terima dengan dalih kepolisian yang menyebut adik iparnya, George Karel Rumbino alias Riko, tewas dalam tahanan Mapolres Sorong karena dianiaya sesama tahanan.

Dengan suara meninggi, politikus PDI Perjuangan ini berkata, polisi tak bisa mengalihkan tanggung jawabnya pada tahanan sebab itu sama dengan pembiaran.

"Dia disiksa di tahanan, padahal di Mapolres ada CCTV. Kalian [polisi] nggak tahu dan dibiarkan saja? Terus mau salahkan ke tahanan juga? Kan nggak bisa begitu," ujar Edo kepada BBC News Indonesia, Senin (31/8/2020).

Baca juga: Kompolnas Minta Propam Turut Usut Penembakan terhadap Adik Ipar Edo Kondologit

Keluarga korban, kata Edo, mendesak polisi melakukan penyelidikan secara transparan dalam kasus tersebut. Mulai dari saat Riko ditangkap hingga sampai tahanan.

Ia yakin, yang menimpa laki-laki 19 tahun itu, adalah tindakan kekerasan oleh polisi.

Pasalnya, ketika jenazah korban hendak dikubur, sekujur tubuh penuh luka lebam. Tangan kiri patah dan ada dua bekas tembakan di kedua kaki.

"Kami menuntut keadilan. Teroris saja tidak diperlakukan kejam begitu untuk mengaku. Nah ini kok begini?"

Baca juga: Ipar Edo Kondologit Tewas di Tahanan, Kompolnas: Ada Kelalaian Polisi

Seperti apa kronologinya?

Catatan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, pengaduan kasus-kasus kekerasan yang dilakukan aparat di Papua terus menggunung dalam rentang antara tahun 2015 - 2019. Sepanjang 2019 jumlahnya mencapai 154 aduan.BBC INDONESIA Catatan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, pengaduan kasus-kasus kekerasan yang dilakukan aparat di Papua terus menggunung dalam rentang antara tahun 2015 - 2019. Sepanjang 2019 jumlahnya mencapai 154 aduan.
Berdasarkan pengakuan orang tua Riko, kata Edo, mereka menyerahkan anaknya kepada polisi karena diduga terlibat dalam dugaan tindak pidana kekerasan dan pemerkosaan terhadap seorang perempuan pada Rabu (26/8/2020).

Keterlibatan itu muncul lantaran Riko menenggak minuman keras yang sama persis dengan yang ada di kamar korban pemerkosaan. Riko dan korban tinggal bersebelahan.

"Bapaknya curiga terus bilang, 'Riko ini minuman yang ko (kau) pegang ini kan dari dia pu (punya) kamar. Ini apa?'" kata Edo meniru ucapan ayah Riko.

Baca juga: Ipar Edo Kondologit Tewas di Tahanan, Amnesty Minta Polisi Usut Tuntas

Saat dipergoki itu, polisi tengah memeriksa rumah korban. Ibu Riko pun langsung meminta polisi memeriksa kamar anaknya.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Paslon Pilkada Cianjur Langgar Protokol Kesehatan Covid-19, Bawaslu hanya Bisa Menegur

Paslon Pilkada Cianjur Langgar Protokol Kesehatan Covid-19, Bawaslu hanya Bisa Menegur

Regional
Penerima Dana PKH Direncanakan Maksimal 5 Tahun, Digilir untuk Keluarga Miskin Lain

Penerima Dana PKH Direncanakan Maksimal 5 Tahun, Digilir untuk Keluarga Miskin Lain

Regional
Hasil Otopsi, Mayat Wanita Dikubur di Fondasi Rumah Ternyata Hamil 7 Bulan

Hasil Otopsi, Mayat Wanita Dikubur di Fondasi Rumah Ternyata Hamil 7 Bulan

Regional
Pembunuhan Anak Usia 7 Tahun Terungkap Sesaat Sebelum Jenazah Dikubur

Pembunuhan Anak Usia 7 Tahun Terungkap Sesaat Sebelum Jenazah Dikubur

Regional
Usai Bunuh Suaminya dengan Kapak, Seorang Istri Serahkan Diri ke Polisi

Usai Bunuh Suaminya dengan Kapak, Seorang Istri Serahkan Diri ke Polisi

Regional
Kerangka Manusia Ditemukan di Hutan Probolinggo Saat 2 Warga Bersihkan Lahan

Kerangka Manusia Ditemukan di Hutan Probolinggo Saat 2 Warga Bersihkan Lahan

Regional
Siapa Calon Kepala Daerah Terkaya di Pilkada Karawang?

Siapa Calon Kepala Daerah Terkaya di Pilkada Karawang?

Regional
2 Kali Terlibat Kasus Narkoba, Bintara Polisi Dipecat, Sempat Kabur Saat Ditangkap

2 Kali Terlibat Kasus Narkoba, Bintara Polisi Dipecat, Sempat Kabur Saat Ditangkap

Regional
Wisma Covid-19 di Babel Penuh, Karantina Diarahkan ke Desa-desa

Wisma Covid-19 di Babel Penuh, Karantina Diarahkan ke Desa-desa

Regional
Seorang Istri di NTT Aniaya Suaminya dengan Kapak hingga Tewas, Begini Ceritanya

Seorang Istri di NTT Aniaya Suaminya dengan Kapak hingga Tewas, Begini Ceritanya

Regional
Kasus Turnamen Sepak Bola di Serang, Wasit hingga Camat Diperiksa Polisi

Kasus Turnamen Sepak Bola di Serang, Wasit hingga Camat Diperiksa Polisi

Regional
Libur Akhir Tahun, Kasus Covid-19 dan Pinta Kepala Daerah

Libur Akhir Tahun, Kasus Covid-19 dan Pinta Kepala Daerah

Regional
Truk dan Mobil Tabrakan, Relawan Penyeberang Jalan Jadi Korban

Truk dan Mobil Tabrakan, Relawan Penyeberang Jalan Jadi Korban

Regional
Saksikan Debat Publik Terakhir Pilkada Surabaya Malam Ini di Kompas TV

Saksikan Debat Publik Terakhir Pilkada Surabaya Malam Ini di Kompas TV

Regional
Setelah Terombang-ambing 12 Jam di Tengah Laut, 4 Nelayan Berhasil Diselamatkan, Ini Faktanya

Setelah Terombang-ambing 12 Jam di Tengah Laut, 4 Nelayan Berhasil Diselamatkan, Ini Faktanya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X