Legenda di Balik Lumpur Kesongo yang Telan 17 Ekor Kerbau, Kisah Ular Raksasa Jaka Linglung

Kompas.com - 01/09/2020, 10:05 WIB
Kawah lumpur panas Kesongo di kawasan Kesatuan Pemangku Hutan atau KPH Randublatung, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah menyembur dashyat, Kamis (27/8/2020) pagi. Dokumen Babinsa GabusanKawah lumpur panas Kesongo di kawasan Kesatuan Pemangku Hutan atau KPH Randublatung, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah menyembur dashyat, Kamis (27/8/2020) pagi.

 

BLORA, KOMPAS.com - Gunung lumpur (mud vulcano) Kesongo di  kawasan Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Randublatung, Desa Gabusan, Kecamatan Jati, Kabupaten Blora, Jawa Tengah ternyata menyimpan cerita rakyat yang tragis

Menurut mitologi masyarakat, asal muasal "Kesongo" erat kaitannya dengan kisah Prabu Ajisaka dan putranya yang berwujud ular naga raksasa, Jaka Linglung pada masa kerajaan Medang Kamulan

Kepala Desa Gabusan, Parsidi, menyampaikan, dari cerita turun temurun leluhur setempat, keberadaan lumpur Kesongo bermula dari antipati Prabu Ajisaka dengan fisik dan tabiat sang anak, Jaka Linglung

Ajisaka pun berupaya menyingkirkan putranya itu dengan cara yang halus. Salah satunya Ajisaka berjanji akan mengakui Jaka Linglung sebagai anak asalkan Jaka Linglung sanggup  menumpas Bajul Putih (siluman buaya putih) yang menebar teror di pantai selatan.   

Baca juga: Ahli: Mud Volcano di Kesongo Menjadi Ciri Bersemayamnya Minyak dan Gas

Di luar perkiraan, Jaka Linglung berhasil membunuh dan membawa serta kepala bajul putih yang merupakan penjelmaan dari Prabu Dewata Cengkar, seorang Raja Kanibal yang dahulu pernah dikalahkan oleh Ajisaka.

Ajisaka kemudian memerintahkan Jaka Linglung untuk bertapa di tengah hutan dengan  tidak diperbolehkan makan dan minum.

Patuh dengan ayahandanya, Jaka Linglung pun lantas bersemedi dengan membuka lebar-lebar mulutnya menyerupai sebuah gua.

Ratusan tahun kemudian wujud naga Jaka Linglung pun sudah tak kentara akibat telah dipenuhi dengan lumut, semak dan tumbuhan merambat.    

Suatu ketika terjadi hujan lebat disertai badai, sepuluh anak desa yang kebetulan menggembala ternak di hutan kemudian berupaya mencari tempat berteduh hingga berujung berlindung di gua yang tak lain adalah mulut Jaka Linglung.

Saat itu, seorang anak yang berpenyakit kulit dipaksa keluar oleh kesembilan anak lainnya yang merasa jijik.

Dan saat itu pula Jaka Linglung langsung menelan sembilan anak tersebut karena kesakitan dengan keusilan mereka yang membacok-bacokkan golok ke dinding gua.

 "Saat itu salah satu anak penggembala yang berada di luar berlari meminta pertolongan kepada warga hingga terdengar ke telinga Prabu Ajisaka," terang Parsidi saat dihubungi Kompas.com melalui ponsel, Minggu (30/8/2020).

Ajisaka pun murka dan saat itu Jaka Linglung yang merasa bersalah kemudian masuk ke dalam perut bumi untuk melanjutkan pertapaannya. Seketika itu juga muncul fenomena ledakan lumpur di lokasi tersebut.

"Tempat itu akhirnya dinamai Kesongo jika diartikan dalam bahasa Jawa yaitu cah songo yang artinya sembilan anak," ungkap Parsidi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Libur Panjang, Polda Sumbar Imbau Masyarakat di Rumah Saja

Libur Panjang, Polda Sumbar Imbau Masyarakat di Rumah Saja

Regional
Pemkab Karawang Pantau Pergerakan Pemudik Jelang Libur Panjang

Pemkab Karawang Pantau Pergerakan Pemudik Jelang Libur Panjang

Regional
Ini Ciri-ciri Mayat Perempuan yang Ditemukan di Pinggir Sungai Sungon, Madiun

Ini Ciri-ciri Mayat Perempuan yang Ditemukan di Pinggir Sungai Sungon, Madiun

Regional
Wali Kota Tasikmalaya Ditahan KPK, Wakilnya Jamin Pelayanan Masyarakat Terus Berjalan

Wali Kota Tasikmalaya Ditahan KPK, Wakilnya Jamin Pelayanan Masyarakat Terus Berjalan

Regional
Ini Penjelasan Lengkap BPPTKG Soal Merapi Erupsi dalam Waktu Dekat

Ini Penjelasan Lengkap BPPTKG Soal Merapi Erupsi dalam Waktu Dekat

Regional
Waspada La Nina, 4 Wilayah Kota Serang Banten Rawan Banjir dan Longsor

Waspada La Nina, 4 Wilayah Kota Serang Banten Rawan Banjir dan Longsor

Regional
Kejutan untuk Warga Perbatasan Indonesia-Timor Leste di Tengah Pandemi Corona

Kejutan untuk Warga Perbatasan Indonesia-Timor Leste di Tengah Pandemi Corona

Regional
Berencana ke Bandung Saat 'Long Weekend'? Waspada Genangan Saat Hujan

Berencana ke Bandung Saat "Long Weekend"? Waspada Genangan Saat Hujan

Regional
Libur Panjang, Wisatawan dari Jakarta Akan Diputar Balik di Puncak Bogor

Libur Panjang, Wisatawan dari Jakarta Akan Diputar Balik di Puncak Bogor

Regional
Kondisi Polisi yang Dibacok Parang Eks Napi di Makassar Mulai Membaik

Kondisi Polisi yang Dibacok Parang Eks Napi di Makassar Mulai Membaik

Regional
Ini Cerita Penyebab Ratusan Santri di Garut Terpapar Covid-19, hingga Dijemput Petugas Pakai APD

Ini Cerita Penyebab Ratusan Santri di Garut Terpapar Covid-19, hingga Dijemput Petugas Pakai APD

Regional
Banjir Rendam 5 Desa dan Jalan Raya di Cilacap, Ketinggian Air Capai 1,5 Meter

Banjir Rendam 5 Desa dan Jalan Raya di Cilacap, Ketinggian Air Capai 1,5 Meter

Regional
Diminta Komentar Setahun Jokowi-Ma'ruf, Edy Rahmayadi: Aduh, Ini yang Paling Berat...

Diminta Komentar Setahun Jokowi-Ma'ruf, Edy Rahmayadi: Aduh, Ini yang Paling Berat...

Regional
Viral, Video Acara Motor dengan 500 Peserta di Mal, Abaikan Protokol Kesehatan

Viral, Video Acara Motor dengan 500 Peserta di Mal, Abaikan Protokol Kesehatan

Regional
Begini Penampakan Wajah Paslon di Surat Suara Pilkada Cianjur 2020

Begini Penampakan Wajah Paslon di Surat Suara Pilkada Cianjur 2020

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X