Nasib Petani Tembakau di Probolinggo, Diincar Tengkulak, Harga Pupuk Selangit

Kompas.com - 31/08/2020, 18:25 WIB
Foto : Kobaran api yang melahap puluhan rumah adat di kampung Nepaulun, Desa Bunga Muda Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, NTT, Minggu (30/8/2020), sekitar pukul 12.00 Wita.  Kompas.com/Nansianus Taris Foto : Kobaran api yang melahap puluhan rumah adat di kampung Nepaulun, Desa Bunga Muda Kecamatan Ileape, Kabupaten Lembata, NTT, Minggu (30/8/2020), sekitar pukul 12.00 Wita. 

KOMPAS.com - Sejumlah petani tembakau di Probolinggo, Jawa Timur, nekat membakar rajangan tembakau mereka daripada menjualnya ke tengkulak, Senin (31/8/2020).

Menurut salah satu petani, Tohiruddin, para tengkulak tersebut membeli tembakau dengan harga murah, antara Rp 10.000 hingga Rp 15.000.

Kondisi tersebut, menurutnya, disebabkan sejumlah gudang yang biasanya membeli saat panen tak kunjung segera buka.

Baca juga: Cegah Aksi Petani Tembakau di Istana Negara, Ganjar Wakilkan Aspirasi Mereka ke Mentan

"Daun tembakau saya cabut dan saya bakar. Gudang tembakau tidak buka. Biayanya sudah mahal. Kalau tembakaunya enggak laku, ya dibakar saja," kata petani asal Desa Petunjungan, Kecamatan Paiton tersebut. 

Tohiruddin menambahkan, dirinya menanam daun tembakau sluas 100 meter persegi. Biaya yang harus dikeluargkan mencapai Rp 10 juta.

"Pupuknya mahal, bibitnya mahal, belum lagi biaya untuk tenaga kerjanya. Harganya tidak sesuai," ujarnya saat ditemui di lahannya. 

Baca juga: Petani Bakar Daun Tembakau, Kesal Gudang Tidak Dibuka

Hal senada juga diungkapkan salah satu petani, Fadol. Dirinya menyebut aksi bakar tembakau adalah simbol kekecewaan para petani.

"Ini merupakan wujud kekecewaan kami. Biayanya mahal tapi belum juga terbeli. Daripada dipajang, ya kami bakar saja," ujar Fadol.

 

Tercekik biaya pupuk dan utang bank

Ilustrasi Tembakau Ilustrasi Tembakau

Fadol mengatakan, nasib para petani tembakau terancam gulung tikar. Pasalnya, dengan harga yang diberi tengkulak tidak akan menutup biaya yang dikeluarkan.

Terlebih lagi biaya pupuk yang bisa mencapai Rp 300.000 hingga Rp 500.000 per kuintal. Situasi ini membuat para petani sangat berharap gudang segera dibuka.

"Petani juga minta bisa menjual langsung ke gudang, tidak melalui tengkulak," ujar Fadol.

Sementara itu, para petani juga harus mengangsur utang bank dan membiayai kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Petani Tembakau Minta Pemerintah Tak Naikkan Cukai Rokok Tahun 2021

Harga yang diberikan para tengkulak tak cukup menutupi kebutuhan mereka tersebut.

"Bahkan, modalnya pun dari utang ke bank. Pupuk mahal, obat mahal, ongkos yang kerja juga mahal," ujar Supatma.

Seperti diberitakan sebelumnya, para petani di Desa Tunjungan segera mendapat kepastian kapan gudang tembakau akan dibuka kembali. 

(Penulis: Kontributor Probolinggo, Ahmad Faisol | Editor: Robertus Belarminus)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mudahkan Rancang Perda, Gubernur Ridwan Kamil dan Kemendagri Luncurkan Aplikasi e-Perda

Mudahkan Rancang Perda, Gubernur Ridwan Kamil dan Kemendagri Luncurkan Aplikasi e-Perda

Regional
Kembali Gelar Bubos, Jabar Targetkan 127.000 Warga Dapat Takjil Buka Puasa

Kembali Gelar Bubos, Jabar Targetkan 127.000 Warga Dapat Takjil Buka Puasa

Regional
Jayakan Kembali Kota Lama Kesawan, Walkot Bobby Gandeng BPK2L Semarang

Jayakan Kembali Kota Lama Kesawan, Walkot Bobby Gandeng BPK2L Semarang

Regional
Ketua PWI Sumut Apresiasi Inisiatif Bobby Nasution Ajak Wartawan Berdialog

Ketua PWI Sumut Apresiasi Inisiatif Bobby Nasution Ajak Wartawan Berdialog

Regional
Bobby Nasution Akan Bangun Ruang Wartawan di Balai Kota Medan

Bobby Nasution Akan Bangun Ruang Wartawan di Balai Kota Medan

Regional
Disnaker Jabar Siap Awasi Pembagian THR oleh Perusahaan

Disnaker Jabar Siap Awasi Pembagian THR oleh Perusahaan

Regional
Terkait Fokus Kelola Anggaran, Bupati Jekek: Sudah Lewat 5 Program

Terkait Fokus Kelola Anggaran, Bupati Jekek: Sudah Lewat 5 Program

Regional
Emil Respons Positif Kerja Sama PT Agro Jabar dengan PT Agro Serang

Emil Respons Positif Kerja Sama PT Agro Jabar dengan PT Agro Serang

Regional
Jabar Jadi Provinsi Terbaik Penerapan PPKM Mikro, Kang Emil: Ini Tanda Kerja Keras Kita Konkret

Jabar Jadi Provinsi Terbaik Penerapan PPKM Mikro, Kang Emil: Ini Tanda Kerja Keras Kita Konkret

Regional
Soal Gerakan Cinta Zakat, Ganjar: Manfaatnya Hebat

Soal Gerakan Cinta Zakat, Ganjar: Manfaatnya Hebat

Regional
Ridwan Kamil: Gerakan Pramuka Harus Tumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Ridwan Kamil: Gerakan Pramuka Harus Tumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Regional
Semarang Jadi Kota Terbaik di PPD Jateng, Hendi: Kita Kawal untuk Realisasi Program

Semarang Jadi Kota Terbaik di PPD Jateng, Hendi: Kita Kawal untuk Realisasi Program

Regional
Wujudkan Masyarakat Maju, Bupati dan Wabup Wonogiri Siapkan 7 Program

Wujudkan Masyarakat Maju, Bupati dan Wabup Wonogiri Siapkan 7 Program

Regional
Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Regional
Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X