Tak Punya Kartu Tani, 72.000 Petani Madiun Terancam Kesulitan Dapatkan Pupuk Bersubsidi

Kompas.com - 27/08/2020, 20:54 WIB
DENGAR PENDAPAT—Komisi B DPRD Kabupaten Madiun menggelar dengar pendapat bersama Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan, Suharno, bersama distributor pupuk bersubsidi dan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan, Sodiq Purnomo terkait masalah kartu tani, Kamis (27/8/2020) siang. KOMPAS.COM/MUHLIS AL ALAWIDENGAR PENDAPAT—Komisi B DPRD Kabupaten Madiun menggelar dengar pendapat bersama Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan, Suharno, bersama distributor pupuk bersubsidi dan Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan, Sodiq Purnomo terkait masalah kartu tani, Kamis (27/8/2020) siang.

MADIUN, KOMPAS.com - Puluhan ribu petani di Kabupaten Madiun dipastikan kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi karena belum memiliki kartu tani.

Padahal, sesuai keputusan Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Nomor 491 pada 19 Agustus 2020, setiap petani yang ingin membeli pupuk bersubsidi harus membayar menggunakan kartu tani.

“Dari 72.000-an petani di Kabupaten Madiun, yang memiliki kartu tani baru 150 orang. Sementara sisanya belum memilik kartu tani,” ujar Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Madiun Suharno usai bertatap muka dengan anggota Komisi B DPRD Kabupaten Madiun, Kamis (27/8/2020).

Jika tak memiliki kartu tani, penjual pupuk bersubsidi tak bisa melayani permintaan petani.

Menurut Suharno, masih banyak petani yang belum memiliki kartu tani. Sehingga, para petani kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. Padahal, masa tanam kedua sudah berjalan.

Sebentar lagi, kata dia, petani membutuhkan pupuk yang tak sedikit.

Baca juga: Negatif Covid-19, Jerinx Minta IDI dan Kemenkes Meneliti Kondisi Tubuhnya

“Kami sangat keberatan sekali dengan penerapan mulai 1 September harus menggunakan kartu tani untuk membeli pupuk bersubsidi. Kalau tidak menggunakan pupuk bersubsidi petani mau mupuk pakai apa,” kata Suharno.

Suharno menambahkan, petani bisa menggunakan pupuk nonsubsidi. Namun, harga gabah basah harus dinaikkan menjadi Rp 5.000 per kilogram, sehingga petani bisa mendapatkan keuntungan.

Jika harga gabah berkisar Rp 4.200 seperti sekarang, petani masih merugi.

Senada dengan Suharno, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun Sodiq Heru Purnomo menyatakan, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Bank BNI selaku pihak penerbit kartu untuk percepatan penerbitan kartu tani.

“Diusahakan semaksimal mungkin minggu pertama September nanti pembuatan kartu tani selesai,” jelas Sodiq.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Susiato Tewas Dibacok Teman Satu Kos, Polisi: Pelaku Tersinggung Disebut Ganteng

Susiato Tewas Dibacok Teman Satu Kos, Polisi: Pelaku Tersinggung Disebut Ganteng

Regional
Kebakaran UPT Logam Purbalingga Tewaskan 1 Orang, Pemilik Pabrik: Penjaga Iseng Main Korek

Kebakaran UPT Logam Purbalingga Tewaskan 1 Orang, Pemilik Pabrik: Penjaga Iseng Main Korek

Regional
Usai dari Luar Kota, Wakil Bupati Pangandaran dan Istri Positif Covid-19

Usai dari Luar Kota, Wakil Bupati Pangandaran dan Istri Positif Covid-19

Regional
Pilu, Siswi 15 Tahun Diperkosa di Hutan Saat Cari Sinyal untuk Belajar Daring

Pilu, Siswi 15 Tahun Diperkosa di Hutan Saat Cari Sinyal untuk Belajar Daring

Regional
Cerita Pria Gunakan Foto Artis Korea untuk Menipu, Ancam Sebar Foto Bugil, 8 Perempuan Jadi Korban

Cerita Pria Gunakan Foto Artis Korea untuk Menipu, Ancam Sebar Foto Bugil, 8 Perempuan Jadi Korban

Regional
Provinsi Jawa Tengah Kembali Terima 248.600 Dosis Vaksin, Ganjar Minta 12 Daerah Langsung Eksekusi

Provinsi Jawa Tengah Kembali Terima 248.600 Dosis Vaksin, Ganjar Minta 12 Daerah Langsung Eksekusi

Regional
Menyoal KKN Lapangan Unila, Rencana Libatkan Ribuan Mahasiswa hingga Ditunda Setelah Diprotes Warganet

Menyoal KKN Lapangan Unila, Rencana Libatkan Ribuan Mahasiswa hingga Ditunda Setelah Diprotes Warganet

Regional
UPT Logam Purbalingga Terbakar Hebat, 1 Orang Tewas dan 3 Gedung Rusak Berat

UPT Logam Purbalingga Terbakar Hebat, 1 Orang Tewas dan 3 Gedung Rusak Berat

Regional
Kronologi Pria Bunuh Pasangan Sesama Jenis di Grobogan, Berawal dari Kencan yang Tak Dibayar

Kronologi Pria Bunuh Pasangan Sesama Jenis di Grobogan, Berawal dari Kencan yang Tak Dibayar

Regional
[POPULER NUSANTARA] Ini Alasan Siswi Non-Muslim di Padang Diwajibkan Pakai Jilbab | Bayi 4 Bulan Dicekoki Miras oleh Pamannya

[POPULER NUSANTARA] Ini Alasan Siswi Non-Muslim di Padang Diwajibkan Pakai Jilbab | Bayi 4 Bulan Dicekoki Miras oleh Pamannya

Regional
Duduk Perkara Dokter Ditemukan Tewas Dalam Mobil Sehari Setelah Divaksin Covid-19, Diduga Sakit Jantung

Duduk Perkara Dokter Ditemukan Tewas Dalam Mobil Sehari Setelah Divaksin Covid-19, Diduga Sakit Jantung

Regional
Detik-detik Seorang Remaja di Pekanbaru Tewas Setelah Terjatuh dan Tertabrak Mobil Damkar

Detik-detik Seorang Remaja di Pekanbaru Tewas Setelah Terjatuh dan Tertabrak Mobil Damkar

Regional
Penjelasan BMKG soal Penyebab Cuaca Ekstrem di Sulawesi Utara

Penjelasan BMKG soal Penyebab Cuaca Ekstrem di Sulawesi Utara

Regional
Sandiaga Uno: Batik Batam Layak Jadi Produk Unggulan

Sandiaga Uno: Batik Batam Layak Jadi Produk Unggulan

Regional
Sakit Hati Tak Dibayar, Pria Ini Tusuk Pasangan Sesama Jenis hingga Tewas

Sakit Hati Tak Dibayar, Pria Ini Tusuk Pasangan Sesama Jenis hingga Tewas

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X