Tak Lagi Andalkan Pariwisata, Warga Sebuah Desa di Bali Beralih Jadi Petani Saat Pandemi

Kompas.com - 26/08/2020, 06:07 WIB
Sejumlah warga Desa Tembok beralih menjadi petani. Anton MuhajirSejumlah warga Desa Tembok beralih menjadi petani.
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Sebuah desa berjarak sekitar 90 kilometer dari Denpasar, kedatangan ratusan warganya yang pulang merantau dari Bali selatan setelah sektor pariwisata terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Kepala desa itu kemudian mengajak warganya untuk kembali bertani—bidang yang selama ini ditinggalkan lantaran pariwisata lebih menggiurkan.

Berada di pesisir Bali bagian timur laut, Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, jauh dari pusat pariwisata di Bali selatan.

Dari Denpasar perlu waktu sekitar 3,5 jam dengan kendaraan bermotor menuju desa ini. Itu pun melalui jalan naik turun dan berliku-liku.

Baca juga: Tingkatkan Produksi Pertanian, Kementan Minta Petani Manfaatkan Dam Parit

Pada musim kemarau seperti saat ini, tanah-tanah di desa ini terlihat kering. Mengepulkan debu. Kebun-kebun tak terurus meski di dalamnya berisi aneka tanaman, seperti mangga, kelapa, mete, dan lontar.

Di antara beragam tanaman tersebut, Dewa Komang Yudi Astara, 34 tahun, berdiri.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kepala Desa Tembok di perbatasan Kabupaten Buleleng dan Kabupaten Karangasem, Bali bagian timur laut ini berambisi mengubah Covid-19 sebagai momentum.

"Pandemi ini menjadi momentum untuk melihat apa yang kita miliki tetapi selama ini kita abaikan," kata Yudi kepada wartawan BBC News Indonesia, pada Rabu (12/8/2020) lalu.

Baca juga: Jaga Ketahanan Pangan, Kementan Bangun Embung di Brebes

Ketut Arta sudah bekerja di Kuta, kiblat pariwisata Bali saat ini, sejak 1999. Namun, ketika pandemi Covid-19, dia mendadak kehilangan pendapatan dan kembali ke kampung halamannya, Desa Tembok.Anton Muhajir Ketut Arta sudah bekerja di Kuta, kiblat pariwisata Bali saat ini, sejak 1999. Namun, ketika pandemi Covid-19, dia mendadak kehilangan pendapatan dan kembali ke kampung halamannya, Desa Tembok.
Sumber daya terabaikan di Desa Tembok yang dimaksud Yudi adalah lahan-lahan pertanian di desa yang ditinggal merantau sebagian besar warga ke Bali selatan karena tergiur dengan uang dari sektor pariwisata.

Tercatat sekitar 40% dari 2.300 kepala keluarga (KK) warga Desa Tembok memilih merantau ke Bali selatan untuk bekerja di bidang pariwisata.

Sejak pandemi Covid-19 melanda dunia dan membuat sektor pariwisata di Bali terpuruk pada Maret 2020, ratusan warga desa yang dulu merantau untuk bekerja di Bali selatan, sekarang kembali ke kampung halaman dan menganggur.

Dua di antaranya adalah Dewa Ketut Arta, 40 tahun, dan Nyoman Jenek Arta, 48 tahun.

Baca juga: Jaga Ketahanan Pangan, Jokowi Anggarkan Rp 104,2 Triliun

Ketut Arta sudah bekerja di Kuta, kiblat pariwisata Bali saat ini, sejak 1999. Bujangan ini pernah bekerja di restoran, spa, dan terakhir sebagai sopir lepas.

Pendapatan per bulannya naik turun, tetapi rata-rata berkisar Rp 5 juta sampai Rp 6 juta pada saat musim puncak turis.

"Itu belum termasuk tip dari tamu," katanya.

Bagi bujangan yang hidup sendiri di Kuta, Badung, Arta mengaku pendapatan itu lebih dari cukup. Dia bahkan bisa membangun rumah di kampung halamannya.

Baca juga: Lahan Pertanian Terproteksi Asuransi, Para Petani di Sulut Bisa Bernapas Lega

Ilustrasi Bali - Pura yang terletak di Monkey Forest.SHUTTERSTOCK Ilustrasi Bali - Pura yang terletak di Monkey Forest.
Nyoman Jenek merantau ke Bali selatan lebih lama lagi dibandingkan Arta sejak 25 tahun lalu.

Meskipun pernah balik kampung ketika Bali terkena bom dua kali pada 2002 dan 2005, bapak tiga anak ini masih kembali ke Seminyak, kawasan sibuk yang penuh dengan restoran, kafe, hotel, toko suvenir, dan aneka fasilitas pariwisata lain.

Sehari-hari dia menjadi sopir taksi dengan pendapatan tak jauh beda seperti Ketut Arta, antara Rp 5 juta hingga Rp 6 juta.

Begitu pandemi menghantam Bali dan meruntuhkan pilar utama ekonomi pulau ini yaitu pariwisata, para pekerja di sektor ini pun berduyun-duyun kembali ke desa. Begitu pula dengan Jenek dan Arta.

"Sekarang pendapatan nol. Untuk makan saja kurang," kata Jenek.

Baca juga: Dinas Pertanian Muaro Jambi Khawatirkan Dampak Pembangunan Stockpile Batu Bara

Jenek mengaku selama dua hingga tiga bulan pertama kembali ke kampungnya dia merasa stres.

"Mungkin karena dompet pragat metalang," katanya dalam campuran bahasa Bali. Artinya dompet tak lagi terisi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hendi Terus Bergerak Cepat Sediakan Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Semarang

Hendi Terus Bergerak Cepat Sediakan Tempat Tidur untuk Pasien Covid-19 di Semarang

Regional
Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Regional
Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Regional
Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Regional
25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

Regional
Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Regional
Belajar dari Pemkot Medan, Wali Kota Pariaman Akan Aplikasikan Strategi Pengelolaan Wisata Sejarah

Belajar dari Pemkot Medan, Wali Kota Pariaman Akan Aplikasikan Strategi Pengelolaan Wisata Sejarah

Regional
Banyak Warga Gelar Hajatan, Bupati IDP Minta Camat Berlakukan Syarat Khusus

Banyak Warga Gelar Hajatan, Bupati IDP Minta Camat Berlakukan Syarat Khusus

Regional
Lewat “Gebyar PON”, Panitia Buktikan Kesiapan Papua sebagai Tuan Rumah PON XX 2021

Lewat “Gebyar PON”, Panitia Buktikan Kesiapan Papua sebagai Tuan Rumah PON XX 2021

Regional
Walkot Hendi Prioritaskan Vaksin untuk Guru PAUD

Walkot Hendi Prioritaskan Vaksin untuk Guru PAUD

Regional
Kabupaten Wonogiri Dapat Penghargaan Tercepat Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri: Ini Pertama Kali di Indonesia

Kabupaten Wonogiri Dapat Penghargaan Tercepat Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri: Ini Pertama Kali di Indonesia

Regional
Mendes PDTT Dorong Program SDGs Desa, Bupati Wonogiri Berikan Apresiasi

Mendes PDTT Dorong Program SDGs Desa, Bupati Wonogiri Berikan Apresiasi

Regional
Kabupaten Wonogiri Tercepat dalam Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri Penasaran

Kabupaten Wonogiri Tercepat dalam Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri Penasaran

Regional
Ditinggali Lebih dari Setengah Abad, Rumah Ini Dapat Bantuan Renovasi dari Pemprov Jateng

Ditinggali Lebih dari Setengah Abad, Rumah Ini Dapat Bantuan Renovasi dari Pemprov Jateng

Regional
Soal Viral Nenek Binah yang Terlantar, Ini Klarifikasi TKSK Tulungagung

Soal Viral Nenek Binah yang Terlantar, Ini Klarifikasi TKSK Tulungagung

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X