Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

"Sebagai Orangtua, Saya Beli HP dengan Berutang, Kalau Tidak, Anak Tak Bisa Belajar"

Kompas.com - 22/08/2020, 08:19 WIB
Pythag Kurniati

Editor

KOMPAS.com- Meski dalam kondisi perekonomian terbatas, warga Manggarai Timur, NTT Thomas Roma (44) tetap mengupayakan pendidikan bagi anak-anaknya.

Pandemi yang mengharusnya dua anak Roma belajar dengan sistem daring, membuat Roma terpaksa berutang untuk membeli ponsel.

Padahal Roma hanyalah buruh bangunan dengan penghasilan tak tetap. Apalagi semenjak pandemi dirinya tak lagi bisa bekerja.

"Tuntutan sekolah belajar dari rumah, sehingga saya sebagai orangtua beli handphone dengan berutang," ujar dia.

"Kalau tidak ada handphone android maka mereka tidak bisa belajar online serta mengerjakan soal yang diberikan guru dari sekolah," kata dia, Kamis (20/8/2020).

Baca juga: Sudah Berutang Beli Ponsel untuk Belajar Online, 2 Siswa Ini Juga Harus Cari Sinyal Sejauh 4 Km

Berutang untuk beli HP, pikirkan kuota dan ongkos ojek

Thomas Roma (44), warga asal Kampung Gurung, Desa Gunung, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, harus berutang untuk membeli  ponsel agar dua anaknya bisa belajar.KOMPAS.com/Markus Makur Thomas Roma (44), warga asal Kampung Gurung, Desa Gunung, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, harus berutang untuk membeli ponsel agar dua anaknya bisa belajar.
Dua anak Roma kini masing-masing duduk di kelas III dan II SMAK Pancasila.

Untuk keperluan pendidikan daring mereka selama pandemi, Thomas harus berutang untuk membeli ponsel.

Sebab, sebagai buruh penghasilannya hanya Rp 500.000 per bulan.

Apalagi, sejak Maret 2020, ia tak dapat bekerja lantaran pandemi.

Namun ternyata, masalah belum selesai. Roma masih harus memikirkan membeli pulsa internet.

Selain itu, anak-anaknya masih harus mencari sinyal sampai ke perbukitan dengan jarak 4 kilometer dengan mengendarai ojek.

Untuk biaya pulang pergi ojek, Roma harus mengeluarkan Rp 40.000.

"Selama lockdown dan belajar dari rumah, biaya Rp 40.000 sewa ojek tiap hari untuk belajar online di tempat yang ada sinyal. Beli pulsa di Kota Waelengga. Naik ojek dari Kampung Gurung ke Kota Waelengga dengan biaya Rp 25.000, pergi pulang Rp 50.000," ujar Roma.

"Untuk dua orang anak saya bayar ojek Rp 100.000; untuk beli pulsa internet, beti ulu (sakit kepala) memikirkan uang serta mengatur pengeluaran dengan pendapatan yang tak menentu," katanya.

Baca juga: Kemendikbud Sebut Pembelajaran Jarak Jauh Tak Mesti Dilakukan Secara Daring

 

Apalagi, kampung mereka belum dialiri listrik.

"Keadaan ini juga memacu anak-anak saya belajar dalam kondisi serba terbatas. Indonesia sudah usia 75 tahun, tetapi penerangan listrik belum masuk di Desa Gunung. Entah sampai kapan kondisi seperti ini," jelas dia.

Menurut Kepala SMAK Pancasila Borong Hermenegildus Sanusi, salah satu anak Roma telah mendapatkan beasiswa.

Hal itu diharapkan meringankan beban ekonomi keluarga Roma.

"Hari ini saya datang bertemu orangtuanya di Kampung Gurung untuk melihat kondisi keluarga ini dan mendengarkan kisah perjuangan untuk menyekolahkan anak-anak di masa pandemi Covid-19 ini. Saya sudah mendengarkan kisah orangtuanya," ujar Hermenegildus.

Sumber: Kompas.com (Penulis : Kontributor Manggarai, Markus Makur | Editor : David Oliver Purba)

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com