7 Tahun Tinggal di Makassar, Satu Keluarga Pengungsi Rohingya Resmi Jadi Warga AS

Kompas.com - 18/08/2020, 16:17 WIB
Pengungsi asal Rohingya Mohammad Islam bin Nur Alam beserta keluarganya didampingi petugas dari Rudenim Makassar sebelum meninggalkan Makassar di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Selasa (18/8/2020). Dok Humas Rudenim MakassarPengungsi asal Rohingya Mohammad Islam bin Nur Alam beserta keluarganya didampingi petugas dari Rudenim Makassar sebelum meninggalkan Makassar di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Selasa (18/8/2020).

MAKASSAR, KOMPAS.com - Satu keluarga pengungsi Etnis Rohingya asal Myanmar resmi menjadi warga negara Amerika Serikat setelah mengungsi selama 7 tahun di Makassar, Sulawesi Selatan.

Mohammad Islam bin Nur Alam, yang merupakan kepala keluarga tersebut mengaku bahagia.

Penantiannya selama 7 tahun bersama istri dan 3 anaknya terbayarkan setelah hidup tanpa kepastian.

Melalui program Resettelement (pemukiman kembali), Nur Alam akan terbang ke Amerika Serikat, Rabu (19/8/2020).

"Kami bersyukur, semoga nantinya kehidupan kami jauh lebih baik setelah di Amerika Serikat," kata Nur Alam seaat sebelum meninggalkan Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Selasa siang.

Baca juga: Gadis Rohingya Diduga Kabur dari Kamp Penampungan Lhokseumawe

Pria yang berusia 43 tahun itu mengaku kerusuhan di Rohingya turut menewaskan 27 orang keluarganya. Konflik tersebut membuatnya memilih mengungsi pada tahun 1994 di Malaysia. Dia merasa bersalah karena tak bisa berbuat apa-apa saat itu..

"Hanya Kakak dan adik di Myanmar. Komunikasi hanya melalui telepon karena situasi Myanmar yang masih mencekam khususnya untuk etnis Rohingya," ujar dia.

Nur Alam dijadwalkan bakal melalui beberapa proses transit sebelum sampai ke Amerika Serikat.

Bertolak dari Makassar sekitar pukul 13.00 Wita, Nur Alam beserta keluarganya bakal terlebih dahulu transit di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta.

Baca juga: Pemerintah RI Bakal Pindahkan 99 Pengungsi Rohingya di Aceh

Kepala Rudenim Makassar Togol Situmorang mengatakan, Nur Alam akan menemui staff IOM (International Organization for Migration) di Jakarta untuk penyerahan dokumen perjalanan dan berkas-berkas kelengkapan lainnya.

Kemudian Nur Alam dan keluarga berangkat menggunakan pesawat maskapai Qatar Airways QR955 pada tanggal 19 Agustus pukul 00.40 WIB menuju Bandara Doha Hamad International lalu dilanjutkan menuju Bandara Chichago O'Hare International dengan menumpang pesawat Qatar QR 725 pukul 07.45 waktu setempat.

"Indonesia hanyalah negara singgah bagi para pengungsi, bukan termasuk negara tujuan untuk mereka hidup menetap apalagi bekerja," kata Togol Situmorang, merujuk Konvensi PBB mengenai Status Pengungsi Tahun 1951 dan Protokol mengenai Status Pengungsi 31 Januari 1967.

Togol menyebut keberadaan para pengungsi di Indonesia memang hanya sebagai tempat menunggu sebelum negara-negara yang meratifikasi Konvensi dan Protokol pengungsi menerimanya secara sah.

Negara itu antara lain Australia, Selandia Baru, Amerika Serikat dan Kanada.

Selama tahun 2020, sudah ada 42 pengungsi dari luar negeri yang mengikuti program Resettlement.

"Myanmar sebanyak 17 orang, Somalia  sepuluh orang, Afganistan sembilan orang, Pakistan empat orang, dan Iran sebanyak dua orang," imbuh Togol.

Togol berharap, para pengungsi bisa segera menyusul dan memiliki kewarganegaraan agar bisa mendapatkan pekerjaan.

Saat ini, masih ada 1.671 pengungsi di Kota Makassar yang terus menunggu agar bisa memiliki kewarganegaraan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 28 Januari 2021

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 28 Januari 2021

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 28 Januari 2021

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 28 Januari 2021

Regional
Banjir Bandang di Bogor, Komisi IV Minta 220 Rumah di Gunung Mas Direlokasi

Banjir Bandang di Bogor, Komisi IV Minta 220 Rumah di Gunung Mas Direlokasi

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 28 Januari 2021

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 28 Januari 2021

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 28 Januari 2021

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 28 Januari 2021

Regional
Lakukan Vaksinasi Massal, RSUD dr Sardjito Catatkan Rekor Muri

Lakukan Vaksinasi Massal, RSUD dr Sardjito Catatkan Rekor Muri

Regional
Hujan Deras Disertai Angin Kencang Rusak 27 Bangunan di Kulon Progo

Hujan Deras Disertai Angin Kencang Rusak 27 Bangunan di Kulon Progo

Regional
Setahun Pandemi, Banten Akhirnya Punya Perda Sanksi Pelanggar Prokes Covid-19

Setahun Pandemi, Banten Akhirnya Punya Perda Sanksi Pelanggar Prokes Covid-19

Regional
Baru Kenal dan Ingin Menjadi Pacar, Pemuda Ini Bunuh Siswi SMP yang Menolaknya

Baru Kenal dan Ingin Menjadi Pacar, Pemuda Ini Bunuh Siswi SMP yang Menolaknya

Regional
Kata Wagub Jabar Usai Suntik Kedua Vaksin Covid-19: Alhamdulillah, Tidak Ada Gejala Apa Pun...

Kata Wagub Jabar Usai Suntik Kedua Vaksin Covid-19: Alhamdulillah, Tidak Ada Gejala Apa Pun...

Regional
Terlilit Utang, Seorang Pegawai Minimarket Curi Uang di Brankas Lalu Bakar Toko

Terlilit Utang, Seorang Pegawai Minimarket Curi Uang di Brankas Lalu Bakar Toko

Regional
Vaksinasi bagi Tenaga Kesehatan di Karawang Ditargetkan Rampung Maret

Vaksinasi bagi Tenaga Kesehatan di Karawang Ditargetkan Rampung Maret

Regional
Pengakuan Suami yang Memerkosa Rekan Kerja Dibantu Istri Pelaku

Pengakuan Suami yang Memerkosa Rekan Kerja Dibantu Istri Pelaku

Regional
Kisah Pilu Indri dan Dani, Orangtua Terkubur Longsor Beberapa Jam Sebelum Akad Nikah

Kisah Pilu Indri dan Dani, Orangtua Terkubur Longsor Beberapa Jam Sebelum Akad Nikah

Regional
Pemkot Mataram Hentikan Simulasi Belajar Tatap Muka, Kecuali Siswa Kelas Akhir

Pemkot Mataram Hentikan Simulasi Belajar Tatap Muka, Kecuali Siswa Kelas Akhir

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X