Nenek 70 Tahun Rela Naik Turun Bukit demi Tugas Sekolah Cucunya

Kompas.com - 14/08/2020, 05:46 WIB
Suratinem (70) naik turun gunung di Kalurahan Pendoworejo, Girimulyo, Kulon Progo, DI Yogyakarta. Ia rela jalan kaki sampai 6 km demi  melaporkan tugas pekerjaan sekolah cucunya, sekaligus mengambil tugas berikutnya. KOMPAS.COM/DANI JULIUSSuratinem (70) naik turun gunung di Kalurahan Pendoworejo, Girimulyo, Kulon Progo, DI Yogyakarta. Ia rela jalan kaki sampai 6 km demi melaporkan tugas pekerjaan sekolah cucunya, sekaligus mengambil tugas berikutnya.

KULON PROGO, KOMPAS.com – Hari beranjak siang di Pedukuhan Kalingiwa, Kalurahan Pendoworejo. Pedukuhan ini berada pada lereng terjal Perbukitan Menoreh di Kapanewon Girimulyo, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Suratinem (70) mengikuti jalan naik dan turun di bukit itu.

Mbah Surati, begitu warga menyapa, hanya bersandal jahit. Langkahnya cepat dan menapak kokoh.

Baca juga: Cerita Jurnalis Foto, Kerja Berdampingan dengan Covid-19...

Mbah Surati menuju SD Negeri Jetis di pedukuhan sebelah, kira-kira tiga kilometer dari rumahnya.

Dia menyusur naik turun jalan yang mayoritas beraspal rusak.

Kanan dan kiri jalan yang dilalui banyak tumbuhan pohon jati lebat. Jarang ditemui rumah sepanjang jalan karena tersembunyi di tebing atau jurang.

Di kejauhan terlihat alur sungai kering dan sawah bertingkat.

"Kadang pergi pagi jam 07.00WIB. Riyin saben dinten (dulu setiap hari). Sakniki mboten (sekarang tidak), kadang Selasa kadang Jumat,” kata Mbah Surati, Kamis (13/8/2020).

Baca juga: Viral, Situs Belajar Daring di Surabaya Disisipi Iklan Pornografi, Ini Penjelasan Pemkot

Surati menempuh sekitar setengah jam perjalanan sampai SDN Jetis di Jalan Turusan.

Semua itu demi Devi Noviyanti (10) cucunya yang masih kelas 4 di SDN Jetis ini.

Mbah Surati datang ke sekolah sambil membawa sebuah buku tulis berisi hasil belajar di rumah Devi dalam beberapa hari belakangan.

Nenek itu datang ke sekolah untuk menyerahkan buku itu.

Suratinem (70) naik turun gunung di Kalurahan Pendoworejo, Girimulyo, Kulon Progo, DI Yogyakarta. Ia rela jalan kaki sampai 6 km demi  melaporkan tugas pekerjaan sekolah cucunya, sekaligus mengambil tugas berikutnya.KOMPAS.COM/DANI JULIUS Suratinem (70) naik turun gunung di Kalurahan Pendoworejo, Girimulyo, Kulon Progo, DI Yogyakarta. Ia rela jalan kaki sampai 6 km demi melaporkan tugas pekerjaan sekolah cucunya, sekaligus mengambil tugas berikutnya.
Sebaliknya, guru yang menerima buku itu menyerahkan beberapa lembar tugas baru, matematika, dan dua plastik polybag beserta dua bibit cabai siap tanam. Itu tugas lanjutan untuk Devi selama belajar di rumah.

Kepala Sekolah SDN Jetis, Siti Kamilah, menceritakan Mbah Surati memang rajin ke sekolah selama Pandemi Covid-19.

Dia pulang pergi jalan kaki untuk menyerahkan tugas garapan Devi maupun mengambil tugas selanjutnya untuk cucunya itu.

Baca juga: Belajar Tatap Muka SMP di Padang Panjang Berjalan Lancar, Ada 9 Aturan yang Harus Dipatuhi

Sekolah menjadwalkan pengambilan dan pengembalian tugas setiap Kamis untuk mereka yang tidak bisa mengikuti belajar secara daring.

“Beliau selalu datang ke sini selama BDR (belajar dari rumah), untuk mengambil tugas secara manual atau offline karena (cucu) beliau belum mampu mengikuti pengajaran secara daring karena kendala belum memiliki Android,” kata Siti.

"Hari ini tugas matematika dan mengambil tugas keterampilan menanam bibit cabai,” sambungnya.

Pembelajaran siswa terhambat Android kembali terungkap. Kali ini dirasakan warga pada Pegunungan Menoreh.

Di sana, sinyal hidup mati. Pulang pergi ke sekolah tentu bikin jerih karena medannya menyulitkan.

Keluarga miskin kembali menjadi yang paling merasakan.

Baca juga: Siswa SMP di Kota Semarang Bakal Dapat Kuota Internet Gratis untuk Belajar Daring

Mengatasi hambatan itu, Surati harus mengambil sendiri pelajaran sekolah cucunya.

Namun, persoalan belum selesai dengan hanya mengambil atau mengembalikan tugas. Devi masih terkendala pembimbing belajar.

Dia kadang terpaksa meminjam handphone di rumah tetangga ketika mengerjakan tugas, atau meminta petunjuk kerabat yang lebih pintar.

Bila tidak bisa maka dia menunggu kunjungan guru sepekan ke depan.

“Anaknya pinter. Nulise banget (menulisnya cepat). Kalau tidak bisa ya usaha sendiri,” kata Surati.

 

Mbah Surati mengharapkan, dengan semua upaya ini maka cucunya bisa terus menjalani pendidikan yang baik semasa pandemi demi menggapai cita-citanya.

"Biar bisa jadi dokter seperti yang dia mau," kata Surati.

Penerima PKH

Devi gadis mungil berparas cantik dengan alis tebal. Ia sebenarnya bungsu tiga bersaudara. Ia terpisah dari ayahnya dan kedua saudara kandungnya, sejak Sugiyanti, ibu kandungnya, meninggal dunia.

Ketika itu Devi masih berumur tiga bulan.

Surati menceritakan, Devi tidak lagi mendapat kasih sayang utuh kedua orangtua. Devi dirawat Surati, sekaligus menemani hari tuanya.

Baca juga: Berkumpul di Pos Ronda untuk Belajar Online...

Devi juga menerima perhatian tetangga yang ikut prihatin, bahkan sampai sekarang. Banyak bantuan datang setiap saat, di tetangga yang dermawan, kelompok pengajian hingga bantuan langsung dari kepala sekolahnya.

Suratinem dan Devi hidup bersama di rumah Limasan Jawa dengan dinding anyaman bambu. Lantainya tanah.

Hampir semua sudut rumah itu sangat gelap dan dingin sekalipun siang terang benderang.
Devi harus menyalakan lampu bila ingin belajar.

“Suratinem ini hidup memprihatinkan," kata Basiran, Dukuh (kepala dusun) Kalingiwa.

Basiran mengungkap ketidakberdayaan pencari kayu bakar ini. Uang sehari-hari yang diperoleh hanya dari bantuan tunai Program Keluarga Harapan (PKH) Rp 300.000 tiap bulan.

"Sehari-hari yang penting bisa makan sudah cukup," kata Basiran.

Baca juga: Cerita Jonathan Belajar Online, Jual Pempek demi Beli Kuota Internet

Di tengah semua himpitan itu, kata Basiran, beruntung ada saja dermawan yang membantu.

Setidaknya, berupa sayur. Sementara lauk kerap datang saat Hari Raya.

Kepala Sekolah SD Jetis, Siti mengungkapkan, ada dua siswa lain yang mengalami hal serupa, selain Devi.

Mereka hidup di medan sulit Menoreh. Sekolah memberi perhatian serius mereka, utamanya di masa Pandemi Covid-19.

Mulai dari guru yang beramai berkunjung untuk mengajar.

“Biasanya home visit dengan program kami dua minggu sekali. Tapi sementara ini ditunda sebentar,” kata Siti, Kepala Sekolah SD Jetis.

Baca juga: Kepsek SMK yang Siswanya Rampok Toko Emas: Ini Konsekuensi Belajar Online

Namun, bantuan sekolah tidak berhenti. Sekolah terus mengupayakan beasiswa untuk Devi dan anak-anak dari keluarga miskin serupa yang dirasa hidup sulit.

“Sebagai keluarga tidak mampu, kami usulkan beasiswa, supaya bisa tercover oleh Baznas. Alhamdulillah, kalau Devi ini banyak bantuan bagi dia,” kata Siti.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Geger, Bayi Baru Lahir di Palembang Ditemukan di Tempat Sampah

Geger, Bayi Baru Lahir di Palembang Ditemukan di Tempat Sampah

Regional
Jalan Tol Trans Lampung Ditemukan Banyak Lubang dan Bergelombang

Jalan Tol Trans Lampung Ditemukan Banyak Lubang dan Bergelombang

Regional
Eks TKI Alami Gangguan Jiwa, Hidup dengan 4 Anaknya yang Kurang Gizi, Popok Sampai Berulat

Eks TKI Alami Gangguan Jiwa, Hidup dengan 4 Anaknya yang Kurang Gizi, Popok Sampai Berulat

Regional
Perahu Wisata Terbalik di Bendungan Cikoncang, Banten, 3 Orang Tewas

Perahu Wisata Terbalik di Bendungan Cikoncang, Banten, 3 Orang Tewas

Regional
Oknum Polisi yang Todongkan Pistol ke Pengunjung Saat Ribut di Warung Tuak Diperiksa Propam

Oknum Polisi yang Todongkan Pistol ke Pengunjung Saat Ribut di Warung Tuak Diperiksa Propam

Regional
Perwira Polisi Bawa 16 Kg Sabu, Kapolda: Kita Harap Hakim Beri Hukuman Layak ke Pengkhianat Bangsa Ini

Perwira Polisi Bawa 16 Kg Sabu, Kapolda: Kita Harap Hakim Beri Hukuman Layak ke Pengkhianat Bangsa Ini

Regional
'Fun Bike' Diwarnai Joget, Ada Peserta Tak Bermasker, Polisi: Acara Tak Berizin, Kami Minta Bubarkan Diri

"Fun Bike" Diwarnai Joget, Ada Peserta Tak Bermasker, Polisi: Acara Tak Berizin, Kami Minta Bubarkan Diri

Regional
Adu Jotos di Warung Tuak, Polisi Todongkan Pistol ke Pengunjung, Ini Kronologinya

Adu Jotos di Warung Tuak, Polisi Todongkan Pistol ke Pengunjung, Ini Kronologinya

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 24 Oktober 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 24 Oktober 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 25 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 25 Oktober 2020

Regional
Kronologi 2 Satpam Divonis Bersalah atas Kasus Pembunuhan, Gegara Membela Diri Saat Diserang dengan Sajam

Kronologi 2 Satpam Divonis Bersalah atas Kasus Pembunuhan, Gegara Membela Diri Saat Diserang dengan Sajam

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 25 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 25 Oktober 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 25 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 25 Oktober 2020

Regional
Terlibat Perjudian, Oknum Kades di Grobogan Terancam 10 Tahun Penjara

Terlibat Perjudian, Oknum Kades di Grobogan Terancam 10 Tahun Penjara

Regional
Gerakan 'Rakyat Bantu Rakyat' di Yogyakarta, Siapkan Makanan untuk Buruh Gendong di Masa Pandemi

Gerakan "Rakyat Bantu Rakyat" di Yogyakarta, Siapkan Makanan untuk Buruh Gendong di Masa Pandemi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X