Tangga Kuno dan Misteri Kompleks Candi di Dataran Tinggi Dieng, Pusat Ritual dan Pendidikan Agama?

Kompas.com - 04/08/2020, 09:49 WIB
Tampaknya memang Dieng merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Syiwa, jelas Djaliati. Lilik DarmawanTampaknya memang Dieng merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Syiwa, jelas Djaliati.
Editor Rachmawati

Mengapa seni bangunan candi di Dieng dipengaruhi India?

Secara kronologis peradaban Dieng disebut "cukup tua" dan awal pengaruh India dapat dilihat dari seni bangunan di wilayah itu, kata Djaliati.

"Kami menggambarkan seni bangunannya, bahwa dekat dengan India," ujarnya.

Artinya, para arsitek di kawasan Dieng belum memiliki kebebasan untuk membangun candi-candi sesuai pengetahuan tentang seni bangunan mereka sendiri.

Hal ini berbeda dari struktur bangunan candi lain di luar Dieng yang dibangun belakangan, yang disebut Djaliati, para arsitekturnya sudah mampu "mengelaborasi bangunan".

Baca juga: Unik, Bentuk Candi yang Terpendam di Dieng Seperti Palang Yunani

"Tapi kalau di Dieng masih sangat dekat dengan India," ungkapnya.

Menurut Koordinator Unit Dieng Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Eri Budiarto, salah-satu candi di kawasan Dieng yang mirip dengan arsitektur India adalah candi Bima.

"Sehingga ada indikasi pemuka agama Hindu dari India datang ke Dieng," katanya.

Baca juga: Bangunan yang Terpendam di Lahan Warga Dieng Dipastikan Candi

Indikasi Dieng juga pusat pendidikan keagamaan

Keberadaan undak-undakan kuno di dua lokasi terpisah tersebut diduga kuat sebagai jalur menuju kompleks candi di dataran tinggi Dieng untuk kegiataan religi, kata otoritas terkait.Lilik Darmawan Keberadaan undak-undakan kuno di dua lokasi terpisah tersebut diduga kuat sebagai jalur menuju kompleks candi di dataran tinggi Dieng untuk kegiataan religi, kata otoritas terkait.
Berbagai temuan terbaru di kawasan Dieng diharapkan akan menguatkan indikasi awal bahwa peninggalan kompleks candi tertua di Jawa Tengah itu juga merupakan lokasi pendidikan di bidang keagamaan.

Indikasi ini didasarkan analisa terhadap keberadaan situs fondasi struktur bangunan yang disebut dharmasala.

Sejumlah catatan menyebutkan fondasi bangunan dharmasala ditemukan tersebar di sekitar kawasan candi Dieng.

Para peneliti meyakini, bangunan dharmasala ini dulu berupa bangunan bertiang kayu tanpa dinding alias terbuka.

Baca juga: 20 Februari 1979, Letusan dan Gas Beracun di Dieng Tewaskan 149 Orang

"Dharmasala ini diperkirakan memiliki bentuk rumah panggung dan untuk tempat menginap, sebelum melakukan ritual atau sebagai tempat singgah sementara sebelum upacara keagamaan," kata Koordinator Unit Dieng Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah, Eri Budiarto.

"Tetapi karena data-data tertulis belum ada, maka kita masih menduga-duga fungsinya," tambahnya.

Luas dharmasala, menurutnya, lebarnya sekitar antara delapan hingga 10 meter dan panjangnya mencapai 40 meter.

"Bangunan dharmasala [di Dieng] kita rekonstruksi dengan mengacu relief di Candi Borobudur,"ujar Eri.

Baca juga: 2 Gempa di Dieng dan Banten pada Senin 20 Januari 2020, Masyarakat Diimbau Tetap Tenang

Hasil rekonstruksi tim arkeologi, menurut Djaliati Sri Nugrahani, menyebutkan bahwa dharmasala merupakan tempat "kegiatan para siswa untuk menyiapkan ritual keagamaan di bangunan candi".

Selain itu, menurutnya, di kawasan Dieng juga ada lokasi pertapaan dan pusat-pusat kajian, terutama tempat pemujan terhadap Dewa Syiwa.

"Ada tempat-tempat sekolah keagamaan. Jadi ada resi yang tinggal di situ, dan punya murid-murid," katanya.

Baca juga: Pengukuhan Raja Keraton Agung Sejagat Dilakukan di Dieng Saat Musim Embun Es

Prasasti berangka tahun 809, yaitu prasasti Kuti yang ditemukan di dekat Candi Arjuna, juga menyebutkan bahwa Dieng sebagai pusat kegiatan religius, juga didukung komunitas yang tinggal di desa perdikan.

"Di sekitar [tempat suci], ada komunitas yang mendukungnya... Jadi di situ ada penduduknya, yang sebagian aktivitasnya digunakan untuk mendukung bangunan suci," papar Djaliati.

Adapun Aryadi Darwanto menganalisa, selain pusat pendidikan agama, keberadaan kompleks candi Dieng, kemungkinan sebagai tempat belajar arsitektur.

"Saat sekarang, seluruh candi tidak ada arsitektur yang sama. Bahkan, dari sembilan candi yang ada dan menjadi 10 (Candi Kunthi, yang baru ditemukan), bentuknya tidak sama.

"Ini ada indikasi sebagai pusat belajar arsitektur," katanya, menganalisa.

Baca juga: Material Longsor Dibersihkan, Akses Jalan ke Wisata Dieng Lancar

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Puluhan Wisatawan Reaktif Covid-19 di Puncak Bogor, Diminta Swab Test Lalu Pulang

Puluhan Wisatawan Reaktif Covid-19 di Puncak Bogor, Diminta Swab Test Lalu Pulang

Regional
Dilaporkan Hilang, Kakek Tinggal Ditemukan Tewas di Jurang Sedalam 200 Meter

Dilaporkan Hilang, Kakek Tinggal Ditemukan Tewas di Jurang Sedalam 200 Meter

Regional
Diduga Depresi Ditinggal Istri, Pria di Jember Rusak ATM Pakai Palu dan Obeng

Diduga Depresi Ditinggal Istri, Pria di Jember Rusak ATM Pakai Palu dan Obeng

Regional
Pemprov Jabar Siapkan 26.700 Rapid Test untuk Wisatawan

Pemprov Jabar Siapkan 26.700 Rapid Test untuk Wisatawan

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 29 Oktober 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 29 Oktober 2020

Regional
Sembuh dari Corona, Warga Kota Solok Terima Bantuan Rp 1 Juta

Sembuh dari Corona, Warga Kota Solok Terima Bantuan Rp 1 Juta

Regional
Tak Bermasker, Puluhan Wisatawan di Puncak Terjaring Operasi Yustisi

Tak Bermasker, Puluhan Wisatawan di Puncak Terjaring Operasi Yustisi

Regional
Nekat Begal Sopir Taksi Online di Solo, Remaja Lulusan SMK Babak Belur Dihajar Massa

Nekat Begal Sopir Taksi Online di Solo, Remaja Lulusan SMK Babak Belur Dihajar Massa

Regional
Bawa Palu dari Rumah, Pria Ini Pukul Mesin ATM BRI Berkali-kali hingga Rusak

Bawa Palu dari Rumah, Pria Ini Pukul Mesin ATM BRI Berkali-kali hingga Rusak

Regional
Video Viral Polantas Ambil Paksa Sepeda Motor di Bengkel, Ini Penjelasan Kapolres Agam

Video Viral Polantas Ambil Paksa Sepeda Motor di Bengkel, Ini Penjelasan Kapolres Agam

Regional
Libur Panjang, Kuota Wisatawan Gunung Bromo Penuh hingga Akhir Oktober

Libur Panjang, Kuota Wisatawan Gunung Bromo Penuh hingga Akhir Oktober

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 29 Oktober 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 29 Oktober 2020

Regional
Pengguna Jalan Diingatkan Potensi Pohon Tumbang dan Longsor di Jalur Puncak

Pengguna Jalan Diingatkan Potensi Pohon Tumbang dan Longsor di Jalur Puncak

Regional
Polisi yang Pernah Aniaya Anak Buahnya Dapat Promosi Jabatan

Polisi yang Pernah Aniaya Anak Buahnya Dapat Promosi Jabatan

Regional
Ketahuan Berduaan dengan Teman di Halaman Sekolah, Siswi SMA Diancam dan Diperkosa 3 Pemuda

Ketahuan Berduaan dengan Teman di Halaman Sekolah, Siswi SMA Diancam dan Diperkosa 3 Pemuda

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X