Tangga Kuno dan Misteri Kompleks Candi di Dataran Tinggi Dieng, Pusat Ritual dan Pendidikan Agama?

Kompas.com - 04/08/2020, 09:49 WIB
Pada September 2019, Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa tengah telah mengamankan batu-batuan kuno di areal Terminal Dieng Wetan, Wonosobo, yang diduga dulunya bagian dari struktur candi. Kompas.com/Aryadi DarwantoPada September 2019, Balai Pelestari Cagar Budaya (BPCB) Jawa tengah telah mengamankan batu-batuan kuno di areal Terminal Dieng Wetan, Wonosobo, yang diduga dulunya bagian dari struktur candi.
Editor Rachmawati

Apa arti temuan benda-benda arkeologi di kawasan Dieng?

Dari temuan-temuan itu, Eri Budiarto mengharapkan akan menambah data untuk mengungkap "budaya masa lalu di kawasan Dieng".

"Karena memang banyak misteri yang belum terungkap," kata Eri. Selama ini ada anggapan bahwa keberadaan candi-candi dan struktur lainnya di Dieng hanya sebatas untuk kegiatan keagamaan.

Namun Eri menduga ada kegiatan lain yang bisa dilacak lebih lanjut di kawasan Dieng.

"Jadi aktivitasnya tidak hanya ritual atau pemujaan keagamaan, mungkin juga di situ ada aktivitas kehidupan lain. Itu jejak yang masih belum ketemu," jelasnya.

Baca juga: Dataran Tinggi Dieng Diselimuti Embun Es, Suhu Udara di Bawah Nol Derajat Celsius

Mengapa di masa lalu dataran tinggi Dieng disebut lokasi ritual keagamaan?

Kemungkinan bahwa keberadaan candi-candi di dataran tinggi Dieng merupakan lokasi ritual keagamaan, memang sudah disepakati para ahli.

Staf pengajar arkeologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Djaliati Sri Nugrahani, meyakini kompleks candi Dieng kemungkinan merupakan pusat kegiatan keagamaan umat Hindu, dan bukan pusat kerajaan.

Dia merujuk pada prasasti Kapunuhan yang dibuat pada tahun 878, yang menyebut Dieng adalah Kailasa.

Baca juga: BMKG: Suhu Dieng Belum Tentu sampai -3,5 Derajat Celcius

"Kailasa merupakan puncak gunung suci di Himalaya, tempat tinggal Syiwa. Dieng adalah Kailasa, sehingga Dieng merupakan tempat surganya atau tempat tinggalnya Syiwa.

"Tampaknya memang Dieng merupakan tempat pemujaan terhadap Dewa Syiwa," jelas Djaliati kepada BBC Indonesia.

Djaliati adalah salah seorang arkeolog yang terlibat secara intensif dalam penelitian terkait komplek candi Dieng.

Baca juga: Trending, Ini 10 Lokasi Wisata di Kawasan Dataran Tinggi Dieng

Kapan kompleks candi di Dieng mulai dibangun?

BPCB Jawa Tengah melakukan ekskavasi di lokasi penemuan candi di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.KOMPAS.COM/DOK UPT OBYEK WISATA DIENG BPCB Jawa Tengah melakukan ekskavasi di lokasi penemuan candi di Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.
Kompleks candi peninggalan peradaban Hindu beraliran Syiwa di dataran tinggi Dieng diungkap pertama kali di masa kolonial Belanda diawal abad 19.

Catatan awal di masa kolonial Hindia Belanda menyebutkan ada sekitar 400 bangunan candi dan situs bersejarah lainnya, namun kini yang ada setidaknya ada sembilan bangunan candi.

"Pada zaman [kolonial] Belanda, luasnya [komplek candi Dieng] mencapai 110 hektar (ha) dengan 400 situs yang ada," kata Aryadi.

"Tetapi sekarang luasannya juga menyusut hingga belasan hektar saja dan situsnya tinggal beberapa. Sudah banyak yang tidak ditemukan lagi," tambahnya.

Baca juga: Selain Indah, Embun Es di Dieng Juga Bermanfaat bagi Petani, Simak Penjelasannya...

Terbagi dalam beberapa kelompok, candi-candi itu diberi nama sesuai tokoh pewayangan, yang kebanyakan diambil dari epos Mahabharata.

"Kalau dari catatan Belanda, jumlah candi lebih banyak daripada sekarang," kata Djaliati Sri Nugrahani.

Diperkirakan bangunan candi itu rusak atau hilang, akibat perbuatan manusia atau faktor alam. "Sebagian (batunya) dimanfaatkan oleh masyarakat," ungkapnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari 22 prasasti, komplek candi Dieng kemungkinan dibangun antara abad ketujuh hingga 13 pada masa Mataram Kuno.

"Ini mengindikasikan bahwa peradaban Dieng cukup panjang."

Baca juga: Segarnya Bisnis Manisan Carica, Oleh-oleh Khas Dieng

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Klarifikasi soal Hoaks, KPU Ogan Ilir Pastikan Calon Petahana Masih Didiskualifikasi

Klarifikasi soal Hoaks, KPU Ogan Ilir Pastikan Calon Petahana Masih Didiskualifikasi

Regional
Anggota DPRD Jeneponto Dibacok, Berawal dari Masalah Knalpot Bising

Anggota DPRD Jeneponto Dibacok, Berawal dari Masalah Knalpot Bising

Regional
Usai Bertemu Calon Suami, Perempuan Ini Kehilangan Indra Penciuman, Ternyata Kena Corona

Usai Bertemu Calon Suami, Perempuan Ini Kehilangan Indra Penciuman, Ternyata Kena Corona

Regional
Detik-detik Perwira Polisi Ditangkap Bawa 16 Kg Sabu, Sempat Diberondong Tembakan agar Menyerah

Detik-detik Perwira Polisi Ditangkap Bawa 16 Kg Sabu, Sempat Diberondong Tembakan agar Menyerah

Regional
Awalnya untuk Usir Kebosanan, Kini Usaha Sofa Botol Plastik Andi Bisa Raup Jutaan Rupiah

Awalnya untuk Usir Kebosanan, Kini Usaha Sofa Botol Plastik Andi Bisa Raup Jutaan Rupiah

Regional
Mayat Wanita Pekerja Kafe Ditemukan di Kolam Penangkaran Buaya, Ini Dugaan Polisi

Mayat Wanita Pekerja Kafe Ditemukan di Kolam Penangkaran Buaya, Ini Dugaan Polisi

Regional
Seorang Perwira Polisi di Pekanbaru Ditangkap karena Edarkan Sabu

Seorang Perwira Polisi di Pekanbaru Ditangkap karena Edarkan Sabu

Regional
Viral, Detik-detik Polisi Tangkap Pengedar Narkoba, Diwarnai Kejar-kejaran Mobil dan Suara Tembakan

Viral, Detik-detik Polisi Tangkap Pengedar Narkoba, Diwarnai Kejar-kejaran Mobil dan Suara Tembakan

Regional
Gugus Tugas Covid-19 Klaim 70 Persen Warga Banten Patuh Protokol Kesehatan

Gugus Tugas Covid-19 Klaim 70 Persen Warga Banten Patuh Protokol Kesehatan

Regional
Kandang Ayam Kebakaran, 40.000 Ekor Ayam Hangus Terbakar

Kandang Ayam Kebakaran, 40.000 Ekor Ayam Hangus Terbakar

Regional
Banyak Layangan Dimainkan di Sekitar Bandara, Salah Satunya Tersangkut di Pesawat

Banyak Layangan Dimainkan di Sekitar Bandara, Salah Satunya Tersangkut di Pesawat

Regional
Libur Panjang Akhir Oktober, 6 Kawasan Wisata di Jateng Dijaga Ketat

Libur Panjang Akhir Oktober, 6 Kawasan Wisata di Jateng Dijaga Ketat

Regional
Pesan Terakhir Wali Kota Tasikmalaya untuk Warganya Sebelum Ditahan KPK

Pesan Terakhir Wali Kota Tasikmalaya untuk Warganya Sebelum Ditahan KPK

Regional
Fransiska Ditemukan Tewas di Kolam Penangkaran Buaya, Tangannya Diikat Lakban

Fransiska Ditemukan Tewas di Kolam Penangkaran Buaya, Tangannya Diikat Lakban

Regional
Sederet Fakta Oknum Polisi dan TNI Jadi Pemasok Senjata Api KKB di Papua

Sederet Fakta Oknum Polisi dan TNI Jadi Pemasok Senjata Api KKB di Papua

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X