Respons Sunda Wiwitan soal Belum Adanya IMB untuk Makam Sesepuh

Kompas.com - 25/07/2020, 15:39 WIB
Girang Pangaping Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan, Okky Satrio Djati menanggapi pernyataan pemerintah di kawasan bangunan makam Pangeran Djatikusuma, di Blok Curug Goong Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jumat (24/7/2020) MUHAMAD SYAHRI ROMDHONGirang Pangaping Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan, Okky Satrio Djati menanggapi pernyataan pemerintah di kawasan bangunan makam Pangeran Djatikusuma, di Blok Curug Goong Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jumat (24/7/2020)

KUNINGAN, KOMPAS.com – Girang Pangaping Adat Karuhun Urang (AKUR) Sunda Wiwitan, Okky Satrio Djati, merespons pernyataan Pemerintah Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, soal pembangunan makam sesepuh yang disebut belum memiliki Izin Mendirikan Bangunan (IMB). 

Okky Satrio Djati menyampaikan, Sunda Wiwitan sudah melayangkan surat yang berisi mempertanyakan syarat-syarat pembuatan IMB.

Mulai soal regulasinya, termasuk petunjuk pelaksana dan petunjuk teknis untuk bangunan makam tersebut pada 1 Juli 2020.

“Kami pertanyakan syarat-syarat untuk terbitnya IMB atas makam ini. Karena kami tetap yakin ini makam. Tapi tanggal 14 Juli, langsung dikeluarkan surat penolakan. Alasannya tertulis dalam surat, karena belum ada regulasinya. Nah pemerintah mengakui belum ada regulasinya, tapi sudah melakukan penyegelan,” kata Okky kepada wartawan saat ditemui Jumat (24/7/2020).

Baca juga: Bakal Makam Sunda Wiwitan Disegel, Ridwan Kamil Minta Tak Ada Persekusi Sepihak

Okky kecewa sikap Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan yang sudah bertindak melakukan penyegelan sebelum ada ketetapan hukum pasti.

Dia mengajak pemerintah daerah agar duduk bersama untuk merancang kekosongan hukum.

Mestinya hal ini, kata Okky, menjadi tugas legislatif, bukan tugas rakyat.

Sebagai warga negara Indonesia, Okky ingin Sunda Wiwitan mendapatkan persamaan hak sebagaimana warga umumnya.

Dia minta peran dan fungsi pemerintah, melalui pemerintah daerah, harus dilakukan: yakni mengayomi semua golongan tanpa membeda-bedakan.

“Kalau belum ada regulasinya, belum ada juklak-juknisnya, semestinya, peraturan itu tidak bisa diterapkan,” tegas Okky menyoroti kekosongan regulasi.

Baca juga: Diskriminasi di Rumah Sendiri, Menyoal Penyegelan Bakal Makam Tokoh Sunda Wiwitan

Sunda Wiwitan, kata Okky, juga tidak bisa terima, bila dasar penyegelan yang dilakukan pemerintah terhadap rencana makam ini, karena penolakan dan tekanan dari beberapa golongan tertentu.

Pemerintah daerah seharusnya melihat dasar hukum negara, semuanya sama di mata hukum.

“Kami tidak bisa terima kalau alasannya karena tekanan, atau menjaga kondusifitas. Kita ini negara hukum, masa hukum negara kalah sama tekanan kelompok-kelompok tertentu,” kata Okky.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

36 Pelajar SMP di Surabaya Positif Covid-19

36 Pelajar SMP di Surabaya Positif Covid-19

Regional
UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 2 Desember 2020

UPDATE Covid-19 di Jatim, DIY, Bali, NTT, NTB, Kalbar dan Kalsel 2 Desember 2020

Regional
Rizieq Minta Maaf soal Acara di Bogor, Bagaimana dengan Kasus Hukumnya?

Rizieq Minta Maaf soal Acara di Bogor, Bagaimana dengan Kasus Hukumnya?

Regional
Bupati Pati Larang Kerumunan Saat Perayaan Natal dan Tahun Baru 2021

Bupati Pati Larang Kerumunan Saat Perayaan Natal dan Tahun Baru 2021

Regional
Buru Kelompok MIT Pimpinan Ali Kalora, Kapolda Sulteng Berkantor di Poso

Buru Kelompok MIT Pimpinan Ali Kalora, Kapolda Sulteng Berkantor di Poso

Regional
Polisi Tembak Mati Kurir Sabu 30 Kg yang Punya 7 Identitas

Polisi Tembak Mati Kurir Sabu 30 Kg yang Punya 7 Identitas

Regional
Gudang Sekolah di Samarinda Jadi Pabrik Narkoba, Bahan Bakunya dari Jakarta

Gudang Sekolah di Samarinda Jadi Pabrik Narkoba, Bahan Bakunya dari Jakarta

Regional
Ibu Mahfud MD Batal Diungsikan Setelah Ada Jaminan Keamanan

Ibu Mahfud MD Batal Diungsikan Setelah Ada Jaminan Keamanan

Regional
Meski Tak Diwajibkan, Bawaslu Bali Berharap Saksi Paslon di Pilkada Jalani Rapid Test

Meski Tak Diwajibkan, Bawaslu Bali Berharap Saksi Paslon di Pilkada Jalani Rapid Test

Regional
Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 2 Desember 2020

Update Covid-19 di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Kepri, Jambi, dan Bengkulu 2 Desember 2020

Regional
UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 2 Desember 2020

UPDATE Covid-19 di Jabar, Jateng, Banten, Sumsel, Babel, dan Lampung 2 Desember 2020

Regional
Bisa Tampung Ribuan Pasien Covid-19, Asrama Haji di Solo Diusulkan Jadi Tempat Isolasi

Bisa Tampung Ribuan Pasien Covid-19, Asrama Haji di Solo Diusulkan Jadi Tempat Isolasi

Regional
Sopir Truk Penyebab Kecelakaan Maut di Sumedang Jadi Tersangka

Sopir Truk Penyebab Kecelakaan Maut di Sumedang Jadi Tersangka

Regional
UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 2 Desember 2020

UPDATE Covid-19 di Kalteng, Kaltim, Kaltara, Gorontalo, Sulbar, Sulsel, dan Sultra 2 Desember 2020

Regional
Tertidur, Pasien di Rumah Sakit Dilecehkan Anak Teman Sekamarnya, Ini Kronologinya

Tertidur, Pasien di Rumah Sakit Dilecehkan Anak Teman Sekamarnya, Ini Kronologinya

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X