Tes Covid-19 Saat Bukaan 8, Cerita Para Ibu Saat Melahirkan di Tengah Pandemi

Kompas.com - 22/07/2020, 06:36 WIB
Ilustrasi hamil HoneyrikoIlustrasi hamil
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Dua orang perempuan menceritakan tantangan yang mereka hadapi saat memeriksa kandungan hingga melahirkan di tengah pandemi Covid-19.

Seorang ibu bercerita ia kesulitan memeriksa kandungan karena fasilitas kesehatan yang tidak siap memeriksa ibu hamil dengan protokol pencegahan Covid-19.

Sementara, seorang perempuan lainnya mengaku ia harus "menahan kontraksi selama satu jam" karena harus menunggu hasil tes Covid-19 sebagai syarat melahirkan.

Baca juga: Berkaca pada Kasus Hamil 1 Jam di Tasikmalaya, Apa Itu Cryptic Pregnancy dan Apa Penyebabnya?

Menurut data Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Jakarta, 13,7 persen perempuan hamil lebih mudah terinfeksi Covid-19, dibandingkan mereka yang tidak hamil.

Kementerian Kesehatan berupaya mencegah penularan Covid-19 pada ibu hamil dengan meminta mereka mengurangi pemeriksaan pada trimester kedua, kecuali jika terdapat masalah pada kandungan mereka.

Baca juga: Ibu di Tasikmalaya Hamil Satu Jam dan Mengaku Masih Haid, Kok Bisa?

Sudah penasaran kondisi bayi

Ilustrasi bayi prematurShutterstock Ilustrasi bayi prematur
Indah, seorang warga kabupaten Tangerang, berusia 21 tahun, mengatakan ia sangat gembira ketika mengetahui dirinya mengandung anak pertamanya melalui alat tes kehamilan rumahan.

Untuk memastikan kehamilannya, ia memeriksakan diri ke sebuah klinik yang menyediakan layanan pemeriksaan kandungan pada April lalu.

Namun, sesampainya di sana, ia diminta pulang karena bidan di fasilitas itu mengatakan ia khawatir Indah bisa tertular virus corona.

"Perasaan saya saat itu campur aduk. Ya kecewa, tapi nggak salah juga bidannya. Soalnya yang saya tahu memang ibu hamil rentan terkena Covid-19," ujar Indah, yang menggunakan layanan BPJS untuk pemeriksaan itu.

Baca juga: Fakta Ibu Melahirkan Setelah Baru Merasa Mengandung 1 Jam

Saat itu, pihak pengurus di klinik itu mengatakan mereka akan menghubungi Indah kembali melalui WhatsApp. Indah menunggu berhari-hari, tapi klinik itu tak juga mengabarinya.

"Mau nyamperin juga serba salah, lagi PSBB besar-besaran Tangerang Raya saat itu. Walau sebenernya, pada enggak patuh juga sih. Tapi, sebagai ibu hamil saya takut ketularan, padahal udah penasaran gimana pertumbuhan baby dalam perut," ujarnya.

Oleh karena itu, pada usia kehamilan trimester pertama, Indah hanya berkonsultasi dengan dokter melalui layanan kesehatan yang tersedia di internet. Meski hal itu dirasanya tak cukup.

"Saya sendiri masih awam soal info kehamilan. Kalau untuk cari-cari informasi sendiri di internet atau via chat di internet, saya rasa masih kurang.

Baca juga: Ibu Hamil Diminta Deteksi Dini Covid-19 pada 7 Hari Sebelum Melahirkan

"Butuh tindakan khusus biar bumil yang awam seperti saya paham apa-apa saja yang harus dilakukan selama kehamilan."

Indah baru memeriksakan kandungannya untuk pertama kali di bidan pertengahan Juli lalu, atau saat kehamilannya menginjak usia empat bulan, meski menurut arahan Kementerian Kesehatan, dalam trimester pertama setidaknya ia sudah dua kali melakukan pemeriksaan.

"Harapan kedepannya, saya pengennya bumil-bumil seperti saya ini dapat jalur khusus buat sekadar periksa biasa, atau USG, biar kami nggak ketemu langsung sama pasien-pasien dengan gejala kesehatan lain," ujarnya.

Sejauh ini, Kementerian Kesehatan mengatakan mereka yang negatif Covid-19 dipersilahkan memeriksa kandungan di fasilitas kesehatan yang ada, setidaknya enam kali selama masa kandungan.

Baca juga: Viral Ibu di Tasikmalaya Melahirkan Setelah Merasa Mengandung 1 Jam, Ini Ceritanya

' Tes Covid-19 saat bukaan 8'

Ilustrasi seorang suami membantu istrinya melahirkan.Thinkstock Ilustrasi seorang suami membantu istrinya melahirkan.
Tak hanya pemeriksaan kehamilan, melahirkan di masa pandemi juga memiliki tantangan sendiri, seperti diceritakan Nadia Hanum, warga Surabaya, Jawa Timur, yang berusia 28 tahun.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dinilai Merugikan, Puluhan Warga di Luwu Hentikan Paksa Aktivitas Galian C

Dinilai Merugikan, Puluhan Warga di Luwu Hentikan Paksa Aktivitas Galian C

Regional
IPB: Dana Riset Dasar Minim hingga Kurang Diminati, Indonesia Terancam Impor Riset Negara Lain

IPB: Dana Riset Dasar Minim hingga Kurang Diminati, Indonesia Terancam Impor Riset Negara Lain

Regional
Detik-detik 2 Santri Terseret Air Bah karena Ingin Tolong Teman, 1 Tewas, 1 Hilang

Detik-detik 2 Santri Terseret Air Bah karena Ingin Tolong Teman, 1 Tewas, 1 Hilang

Regional
Digugat IRT yang Tak Terima Dinyatakan Terpapar Covid-19, Gugus Tugas: Sudah Sesuai Prosedur

Digugat IRT yang Tak Terima Dinyatakan Terpapar Covid-19, Gugus Tugas: Sudah Sesuai Prosedur

Regional
Tak Lagi Zona Merah Covid-19, Banjarmasin Berencana Buka Objek Wisata

Tak Lagi Zona Merah Covid-19, Banjarmasin Berencana Buka Objek Wisata

Regional
3 Hari Keluar Kota, Warga Wajib Tunjukkan Hasil Tes Swab Negatif Covid-19 Saat Kembali ke Surabaya

3 Hari Keluar Kota, Warga Wajib Tunjukkan Hasil Tes Swab Negatif Covid-19 Saat Kembali ke Surabaya

Regional
4 Pria Tertangkap Bawa Sabu 6 Kg, Pelaku Diupah Rp 180 Juta

4 Pria Tertangkap Bawa Sabu 6 Kg, Pelaku Diupah Rp 180 Juta

Regional
'Warga Terdaftar Sebagai Penerima tapi Tidak Mendapat Bantuan'

"Warga Terdaftar Sebagai Penerima tapi Tidak Mendapat Bantuan"

Regional
[POPULER NUSANTARA] Bahar bin Smith Jadi Tersangka | Bocah Balita Kerap Minta Maaf karena Trauma

[POPULER NUSANTARA] Bahar bin Smith Jadi Tersangka | Bocah Balita Kerap Minta Maaf karena Trauma

Regional
Mereka yang Merawat Ikrar Sumpah Pemuda di Maluku, Kalbar, dan Sumbar

Mereka yang Merawat Ikrar Sumpah Pemuda di Maluku, Kalbar, dan Sumbar

Regional
Tak Terima Dinyatakan Positif Covid-19, IRT Gugat Gugus Tugas dan RS ke Pengadilan

Tak Terima Dinyatakan Positif Covid-19, IRT Gugat Gugus Tugas dan RS ke Pengadilan

Regional
Tidak Kena Tilang, Belasan Pelanggar Lalu Lintas Disuruh Shalat Gaib di Pinggir Jalan

Tidak Kena Tilang, Belasan Pelanggar Lalu Lintas Disuruh Shalat Gaib di Pinggir Jalan

Regional
Muridnya Menikah Dini, Guru: Sedih Saat Mendengar Siswi Saya Keguguran, KDRT, dan Bercerai

Muridnya Menikah Dini, Guru: Sedih Saat Mendengar Siswi Saya Keguguran, KDRT, dan Bercerai

Regional
Sejumlah Pegawai Setda Positif Covid-19, Kantor Bupati Garut Ditutup Sepekan

Sejumlah Pegawai Setda Positif Covid-19, Kantor Bupati Garut Ditutup Sepekan

Regional
Cerita Yaidah Kesulitan Urus Akta Kematian Putranya di Pemkot Surabaya hingga Harus ke Jakarta

Cerita Yaidah Kesulitan Urus Akta Kematian Putranya di Pemkot Surabaya hingga Harus ke Jakarta

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X