Tak Semua Bisa Belajar Online, Guru di Kabupaten Bogor Punya Metode Sendiri

Kompas.com - 15/07/2020, 15:54 WIB
Seorang guru honorer, Joko mendatangi rumah anak didiknya di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk mengirimkan tugas sekolah secara daring, Selasa (14/7/2020). KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSANSeorang guru honorer, Joko mendatangi rumah anak didiknya di Desa Bojong Koneng, Kecamatan Babakan Madang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk mengirimkan tugas sekolah secara daring, Selasa (14/7/2020).

 

Menurut Joko, pembelajaran tatap muka terkadang sangat mengkhawatirkan psikologis orangtua, guru dan siswa.

Untuk itu, para guru yang berkeliling mengurangi intensitas pertemuan dengan sistem estafet.

Kerelaan guru demi muridnya

Menurut Joko, para guru sebenarnya menghadapi dilema, karena takut tertular virus corona.

Namun, para guru juga memikirkan bahwa tidak mungkin selalu melakukan pembelajaran jarak jauh, karena dinilai kurang efektif bagi perkembangan pendidikan anak SD.

"Iya mau tidak mau mengajar ke rumah lagi atuh Pak. Susah sinyal di sini, itu juga SDM masyarakatnya begitu, HP tidak semuanya punya. Kalau di kota, mungkin masih bisa diusahakan. Kalau kampung begini sulitlah. Sudah gitu rumahnya juga seperti apa, boro-boro beli android, buat makan saja susah," kata Joko.

Joko bersama guru lainnya hanya bisa pasrah menunggu hasil rapat menghadapi tahun ajaran baru setelah masa PSBB transisi selesai pada 16 Juli 2020.

Apabila sekolah masih diliburkan, maka sistem pembelajaran dengan skema jarak jauh itu akan tetap berlanjut.

Sementara itu, Wakil Bupati Bogor Iwan Setiawan mengakui bahwa pelaksanaan pembelajaran di tengah pandemi tidak bisa dipukul rata.

Kondisi sekolah dan siswa di Kabupaten Bogor cenderung heterogen. Oleh karena itu, pemberlakuan belajar di rumah dengan sistem online tidak bisa diterapkan di semua wilayah.

"Untuk yang di luar jangkauan alat dan fasilitas online, kita akan upayakan bisa secara offline. Namun, dengan pengetatan jumlah di ruangan, karena apa bedanya dengan mengajar di rumah 4-5 orang anak dan di sekolah? Lebih aman di sekolah, asalkan protokol kesehatannya dipatuhi dan diperketat," kata dia.

Iwan mengatakan, pihaknya akan berupaya merumuskan konsep paten agar tidak ada yang dirugikan dari penerapan adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Tidak hanya para murid, tetapi juga menguntungkan para guru secara keamanan kesehatan dan kepastian kesejahteraan.

Menurut Iwan, kebijakan yang diambil tidak boleh bertentangan dengan Gugus Tugas dan aspirasi para guru serta elemen pendidikan lainnya.

Halaman:
Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mari Bantu Balita 4 Tahun yang Dianiaya secara Sadis oleh Paman dan Bibi

Mari Bantu Balita 4 Tahun yang Dianiaya secara Sadis oleh Paman dan Bibi

Regional
Perjalanan Kasus Yaidah, Dipingpong Urus Akta Kematian Anak dari Surabaya ke Jakarta hingga Tuai Reaksi Dirjen Dukcapil

Perjalanan Kasus Yaidah, Dipingpong Urus Akta Kematian Anak dari Surabaya ke Jakarta hingga Tuai Reaksi Dirjen Dukcapil

Regional
Berulang Tahun, Ganjar Dapat Kado Spesial dari Eks Napi Teroris, Isinya...

Berulang Tahun, Ganjar Dapat Kado Spesial dari Eks Napi Teroris, Isinya...

Regional
BPBD Cianjur: Jika Hujan Deras 2 Jam, Warga Dekat DAS Siap-siap Mengungsi

BPBD Cianjur: Jika Hujan Deras 2 Jam, Warga Dekat DAS Siap-siap Mengungsi

Regional
Uang Rp 1 Miliar Hilang Misterius, Nasabah Ungkap Keanehan yang Dilakukan Bank

Uang Rp 1 Miliar Hilang Misterius, Nasabah Ungkap Keanehan yang Dilakukan Bank

Regional
Waspadai, Titik Rawan Kemacetan di Puncak Bogor Selama Libur Panjang

Waspadai, Titik Rawan Kemacetan di Puncak Bogor Selama Libur Panjang

Regional
[POPULER NUSANTARA] Bahar bin Smith Kembali Jadi Tersangka | IRT Gugat Gugus Tugas dan RSUD

[POPULER NUSANTARA] Bahar bin Smith Kembali Jadi Tersangka | IRT Gugat Gugus Tugas dan RSUD

Regional
Menyoal Sindikat Penyelundupan 99 Orang Rohingya di Aceh, Kapal Rusak Saat Dijemput di Tengah Laut

Menyoal Sindikat Penyelundupan 99 Orang Rohingya di Aceh, Kapal Rusak Saat Dijemput di Tengah Laut

Regional
Misteri Mayat Lelaki di Tumpukan Sampah, Tangan Terikat ke Belakang, Ditemukan Pemulung

Misteri Mayat Lelaki di Tumpukan Sampah, Tangan Terikat ke Belakang, Ditemukan Pemulung

Regional
Uang Kiriman Orangtua Menipis, Lulusan SMK Ini Malah Begal Sopir Taksi 'Online'

Uang Kiriman Orangtua Menipis, Lulusan SMK Ini Malah Begal Sopir Taksi "Online"

Regional
Buron Selama 8 Bulan, Pembunuh Wanita Pemandu Lagu Tertangkap

Buron Selama 8 Bulan, Pembunuh Wanita Pemandu Lagu Tertangkap

Regional
Dua Kakak Kandung Pembunuh Gadis 16 Tahun di Bantaeng Dituntut 12 Tahun dan 6 Tahun Penjara

Dua Kakak Kandung Pembunuh Gadis 16 Tahun di Bantaeng Dituntut 12 Tahun dan 6 Tahun Penjara

Regional
Pria Paruh Baya Ditemukan Tewas di Jalan Raya, Diduga Korban Tabrak Lari

Pria Paruh Baya Ditemukan Tewas di Jalan Raya, Diduga Korban Tabrak Lari

Regional
Jalan Ambles Terjadi di Lintas Penghubung Riau dan Sumbar

Jalan Ambles Terjadi di Lintas Penghubung Riau dan Sumbar

Regional
Pengibaran 1000 Bendera Merah Putih di Hari Sumpah Pemuda, Merawat Perbedaan

Pengibaran 1000 Bendera Merah Putih di Hari Sumpah Pemuda, Merawat Perbedaan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X