Cerita Petani Kopi di Kendal yang Sulit Jual Hasil Panen karena Wabah

Kompas.com - 10/07/2020, 11:39 WIB
Sujudi, petani kopi Patean Kendal, saat memanen kopinya. KOMPAS.COM/SLAMET PRIYATIN KOMPAS.COM/SLAMET PRIYATINSujudi, petani kopi Patean Kendal, saat memanen kopinya. KOMPAS.COM/SLAMET PRIYATIN

KENDAL, KOMPAS.com-Ibarat kata pepatah, petani kopi di Kendal, Jawa Tengah, sudah jatuh tertimpa tangga.

Sebab tidak hanya panen kopi yang turun dibanding tahun lalu, harganya juga turun karena permintaan konsumen sedikit. 

Sujudi, salah satu petani kopi di Kendal, mengatakan turunnya hasil panen kopi tahun ini, dikarenakan musim yang tidak menentu.

Baca juga: Bertemu Pemuda Tak Pakai Masker di Kedai Kopi, Risma: Ayo Kamu Push Up

Sedangkan anjloknya permintaan diduga karena ada wabah virus corona.

“Tahun ini sering hujan, jadi banyak kopi yang rontok. Pembeli kopi juga turun hampir 50 persen, karena pandemi covid 19,” kata Sujudi yang merupakan warga Desa Mlatiharjo, Kecamatan Patean, Kendal, Jumat (10/07/2020).

Sejak Mei 2020, Sujudi sudah memanen kopi arabika. Saat ini, proses panen hampir selesai.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Namun hanya beberapa pengepul dan pemilik kafe kopi yang datang membeli kopinya,” akunya.

Baca juga: Demi Manfaat Maksimal, Ini Waktu Terbaik untuk Minum Kopi

Saat ini, harga green bean kopi arabika yang dipetik ketika buahnya sudah merah mencapai Rp 70.000 per kilogram.

Sedangkan untuk biji kopi asalan (campur petik merah, hijau, dan kuning) dihargai Rp 30.000 per kilogramnya.

Pernyataan senada juga disampaikan Kusmiyati, petani kopi lain di Kendal.

Kusmiyati mengatakan, agar tidak terlalu merugi, kopinya yang belum laku akan disimpan hingga keadaan kembali normal.

“Nanti kalau pandemi Covid-19 sudah selesai, pasti banyak yang cari kopi. Sebab kafe dan kedai kopi sudah mulai buka normal,” ujarnya.

Baca juga: Imbas Pandemi, Bus Pariwisata Disulap Jadi Kedai Kopi Berjalan

Kusmiyati menjelaskan, saat ini kopi hasil panennya sebagian sudah kering dijemur dan sebagian lagi masih dalam proses jemur.

Terkait dengan hal itu, petani sekaligus pengusaha kopi, Eko Siswanto, mengaku belum berani membeli kopi dari petani. Sebab kopinya masih banyak.

“Saya juga punya kebun kopi, jadi masih menggunakan kopi saya dulu,” tambahnya.

Eko, berharap pandemi Covid-19 cepat selesai sehingga pembeli kopi bisa kembali normal.

Baca juga: Cerita Pemilik Warung Kopi Dihantam Pandemi, Menolak Gulung Tikar

Sementara itu, Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan, Pandu Rapriat Rogojati, belum mengetahui soal penurunan harga kopi di tingkat petani.

“Kalau permintaan atau pembeli turun, iya. Sebab pandemi Covid-19 ini, membuat orang tidak bisa berkumpul sambil ngopi, dan belum ada kafe kopi yang buka normal,” sebut Pandu.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Hadiri Deklarasi Pilkades Damai, Bupati Luwu Utara Minta Cakades Tegakkan Protokol Kesehatan

Regional
Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Bupati IDP Resmikan Program Pamsimas, Kini Warga Desa Dodolo Nikmati Air Bersih

Regional
Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Gandeng KPK, Hendi Tegaskan Komitmen Cegah dan Berantas Korupsi

Regional
25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

25 Persen Warga Sudah Divaksin, Menkes Tambah Jatah Vaksin Kota Madiun

Regional
Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Kasus Covid-19 di Semarang Semakin Tinggi, Walkot Hendi Tutup 8 Ruas Jalan

Regional
Belajar dari Pemkot Medan, Wali Kota Pariaman Akan Aplikasikan Strategi Pengelolaan Wisata Sejarah

Belajar dari Pemkot Medan, Wali Kota Pariaman Akan Aplikasikan Strategi Pengelolaan Wisata Sejarah

Regional
Banyak Warga Gelar Hajatan, Bupati IDP Minta Camat Berlakukan Syarat Khusus

Banyak Warga Gelar Hajatan, Bupati IDP Minta Camat Berlakukan Syarat Khusus

Regional
Lewat “Gebyar PON”, Panitia Buktikan Kesiapan Papua sebagai Tuan Rumah PON XX 2021

Lewat “Gebyar PON”, Panitia Buktikan Kesiapan Papua sebagai Tuan Rumah PON XX 2021

Regional
Walkot Hendi Prioritaskan Vaksin untuk Guru PAUD

Walkot Hendi Prioritaskan Vaksin untuk Guru PAUD

Regional
Kabupaten Wonogiri Dapat Penghargaan Tercepat Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri: Ini Pertama Kali di Indonesia

Kabupaten Wonogiri Dapat Penghargaan Tercepat Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri: Ini Pertama Kali di Indonesia

Regional
Mendes PDTT Dorong Program SDGs Desa, Bupati Wonogiri Berikan Apresiasi

Mendes PDTT Dorong Program SDGs Desa, Bupati Wonogiri Berikan Apresiasi

Regional
Kabupaten Wonogiri Tercepat dalam Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri Penasaran

Kabupaten Wonogiri Tercepat dalam Pendataan SDGs Desa, Gus Menteri Penasaran

Regional
Ditinggali Lebih dari Setengah Abad, Rumah Ini Dapat Bantuan Renovasi dari Pemprov Jateng

Ditinggali Lebih dari Setengah Abad, Rumah Ini Dapat Bantuan Renovasi dari Pemprov Jateng

Regional
Soal Viral Nenek Binah yang Terlantar, Ini Klarifikasi TKSK Tulungagung

Soal Viral Nenek Binah yang Terlantar, Ini Klarifikasi TKSK Tulungagung

Regional
Terima Penghargaan Green Leadership, Walkot Maidi: Jadi Kado Ulang Tahun Kota Madiun

Terima Penghargaan Green Leadership, Walkot Maidi: Jadi Kado Ulang Tahun Kota Madiun

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X