"Kami Telanjur Merambah Hutan, Mohon Belas Kasihnya, Ini karena Kemiskinan"

Kompas.com - 08/07/2020, 06:15 WIB
Hutan kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng di Lokas Lok Pahar, Manggarai Timur sudah rusak akibag dirambah warga setempat, Kamis, (4/6/2020). (KOMPAS.com/MARKUS MAKUR) KOMPAS.COM/MARKUS MAKURHutan kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng di Lokas Lok Pahar, Manggarai Timur sudah rusak akibag dirambah warga setempat, Kamis, (4/6/2020). (KOMPAS.com/MARKUS MAKUR)

BORONG, KOMPAS.com - Kawasan hutan konservasi Taman Wisata Alam Ruteng yang membentang di wilayah Kabupaten Manggarai Timur di bagian utara dan selatan dirambah warga untuk ditanami kopi dan kacang-kacangan.

Meski berkali-kali diperingatkan oleh petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam NTT wilayah II Ruteng hingga dilaporkan ke pihak berwajib, tampaknya warga tak juga jera.

Kepala Resor TWA IV Watunggong, Siprianus Janggur menjelaskan, ruang gerak petugas BKSDA Wilayah II Ruteng sangat terbatas dengan wilayah kerja yang sangat luas, yaitu dari Labuan Bajo hingga Alor.

Namun, petugas berupaya rutin memantau hutan konservasi Taman Wisata Alam Ruteng.

"Saat petugas melakukan patroli, warga sering takut. Namun, saat petugas pulang, warga kembali masuk hutan untuk merambah. Mereka menanam tanaman jenis holtikultura seperti kopi dan kacang-kacangan. Kami akui bahwa kesalahan kami kurangnya sosialisasi," ujar Janggur saat berdialog dengan masyarakat Desa Golowuas dan Golonderu, Kamis (2/7/2020).

Baca juga: 3.000 Hektar Hutan di NTT Rusak Ditebang Warga, Pemerintah Dinilai Tidak Tegas

Kepala Resor Ranamese, Paulus Pamput menambahkan, setelah warga merambah hutan, mereka juga membangun pondok beratap seng di tengah hutan konservasi.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Padahal adal arangan keras membuat permukiman di dalam hutan konservasi.

Tiga pilar yang terdiri dari pemerintah, lembaga adat, dan lembaga agama sudah melaksanakan sanksi adat.

Namun kadang-kadang warga yang berada di sekitar kawasan konservasi tidak menaati kesepakatan itu.

"Petugas juga sudah mengambil tindakan tegas dengan memenjarakan warga yang merambah. Namun, mereka tetap merambah hutan konservasi," jelasnya.

Baca juga: Pelajar Dikeroyok Sekelompok Pesepeda, Berawal dari Pelaku Bergerombol di Jalan Raya

Pambut mengingatkan agar warga tidak membuat batas lahan di areal yang sudah dirambah, serta bertransaksi jual beli tanah di dalam kawasan hutan konservasi.

Rambah hutan

Lorensius Walur, Pius Ngga, dan Donatus Arus, tiga warga dari Desa Golowuas, Kecamatan Elar Selatan, mengakui bahwa mereka pelaku perambahan hutan.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pengusaha Langgar Aturan, Walkot Bobby Robohkan Bangunan di Atas Drainase

Pengusaha Langgar Aturan, Walkot Bobby Robohkan Bangunan di Atas Drainase

Regional
100 Hari Kerja Walkot Bobby Fokus Atasi Sampah, Walhi: Ini Langkah Tepat

100 Hari Kerja Walkot Bobby Fokus Atasi Sampah, Walhi: Ini Langkah Tepat

Regional
Kejar Medali Emas, Provinsi Papua Kirim 14 Atlet Sepak Takraw ke PON XX 2021

Kejar Medali Emas, Provinsi Papua Kirim 14 Atlet Sepak Takraw ke PON XX 2021

Regional
Wabup Luwu Utara Resmikan Program Air Bersih untuk 60 KK di Desa Pombakka, Malangke Barat

Wabup Luwu Utara Resmikan Program Air Bersih untuk 60 KK di Desa Pombakka, Malangke Barat

Regional
Tinjau Vaksinasi di Tanjung Emas, Walkot Hendi Pastikan Vaksin Covid-19 Aman Digunakan

Tinjau Vaksinasi di Tanjung Emas, Walkot Hendi Pastikan Vaksin Covid-19 Aman Digunakan

Regional
Kejari Semarang Bantu Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar, Pemkot Berikan Apresiasi

Kejari Semarang Bantu Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar, Pemkot Berikan Apresiasi

Regional
Penanganan Covid-19 di Kota Medan Dinilai Sudah “On the Track”, Pengamat Kesehatan Puji Kinerja Bobby

Penanganan Covid-19 di Kota Medan Dinilai Sudah “On the Track”, Pengamat Kesehatan Puji Kinerja Bobby

Regional
Ada 499 Pasien Covid-19 dari Luar Semarang, Walkot Hendi Siapkan Hotel untuk Karantina

Ada 499 Pasien Covid-19 dari Luar Semarang, Walkot Hendi Siapkan Hotel untuk Karantina

Regional
Apresiasi Penanganan Covid-19  di Luwu Utara, Kapolda Sulsel: Protokol Kesehatan Jangan Kendor

Apresiasi Penanganan Covid-19 di Luwu Utara, Kapolda Sulsel: Protokol Kesehatan Jangan Kendor

Regional
Bupati IDP Harap Kedatangan Pangdam XIV Hasanuddin dan Rombongan Bisa Bantu Pulihkan Luwu Utara

Bupati IDP Harap Kedatangan Pangdam XIV Hasanuddin dan Rombongan Bisa Bantu Pulihkan Luwu Utara

Regional
Antisipasi Kerumunan, Wali Kota Hendi Batasi Kuota Vaksinasi 'Drive Thru'

Antisipasi Kerumunan, Wali Kota Hendi Batasi Kuota Vaksinasi "Drive Thru"

Regional
Pemkab Luwu Utara Genjot Pembangunan 1.005 Huntap Bagi Korban Banjir Bandang

Pemkab Luwu Utara Genjot Pembangunan 1.005 Huntap Bagi Korban Banjir Bandang

Regional
Pastikan Luwu Utara Bebas BAB Sembarangan, Bupati IDP Harap Hasil Verifikasi Kabupaten ODF Valid

Pastikan Luwu Utara Bebas BAB Sembarangan, Bupati IDP Harap Hasil Verifikasi Kabupaten ODF Valid

Regional
Tercatat 217 UMKM Ajukan Surat PIRT, Bupati Lampung Timur: Jangan Dipersulit

Tercatat 217 UMKM Ajukan Surat PIRT, Bupati Lampung Timur: Jangan Dipersulit

Regional
Dua Bangunan di Kota Metro Jadi Cagar Budaya, Walkot Wahdi: Bisa Jadi Referensi Penelitian

Dua Bangunan di Kota Metro Jadi Cagar Budaya, Walkot Wahdi: Bisa Jadi Referensi Penelitian

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X