Belajar dari Kasus Balita Rafadan, Orang Miskin Dilarang Sakit?

Kompas.com - 06/07/2020, 23:30 WIB
Ilustrasi rumah sakit SHUTTERSTOCKIlustrasi rumah sakit

TAHUN 2005 seorang penulis buku-buku perlawanan bernama Eko Prasetyo menuliskan satu buku bernada kiri yang diberi judul Orang Miskin Dilarang Sakit. Judul yang pedas menampar, bukan?

Berangkat dari pengalaman pribadinya dalam mengakses layanan yang buruk dan tidak murah, penulis mengungkap secara lugas fakta-fakta ketidakadilan dan kebobrokan layanan kesehatan publik.

Lima belas tahun berselang, kini tak dipungkiri berbagai upaya pembenahan dilakukan. Namun mesti diakui pula bahwa masih ada begitu banyak fakta miris dalam dunia kesehatan berseliweran di ruang waktu yang telah lalu.

Di Maluku saja, dalam bulan Mei 2020 ini kita dihadapkan pada fakta yang menyedihkan. Tercatat tiga pasien meninggal setelah ditolak oleh pihak rumah sakit.

Salah satu dari mereka adalah seorang bocah empat tahun warga Kota Ambon Manise yang berjuang melawan penyakit anemia pplastik. Suka atau tidak, kisah akhir hidup Rafadan mesti menjadi ukuran kematangan sense of humanity kita.

Baca juga: Pejabat RSUD Ambon Meninggal Dunia karena Terpapar Corona

Adalah di tanggal 21 Mei 2020, semesta dan nurani menjadi saksi peristwa naas yang menimpa Rafadan, bocah malang itu. Penolakan yang diterima di lima rumah sakit berujung maut. Ini bukan mimpi, bukan pula sinetron.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di tiga rumah sakit, Rafadan ditolak oleh petugas dengan alasan yang berhubungan dengan pandemi Covid-19, di sebuah rumah sakit, ia ditolak juga oleh petugas dengan alasan tidak tersedianya dokter spesialis pada saat itu.

Kemudian di satu rumah sakit lainnya dia juga tak bisa berobat karena rumah sakit tersebut tutup terkait Covid-19.

Dalam perjalanan ke Rumah Sakit yang keenam, Rafadan mengembuskan nafas terakhir. Perjuangan Rafadan dan kedua orangtuanya berakhir tragis.

Beberapa media online sempat mewawancarai ibu dari Rafadan. Beliau menyatakan kekesalannya, “Anak saya mati sia-sia”.

Mati sia-sia! Artinya, kalau saja rumah sakit masih menyediakan ruang layanan, apapun itu, sang ibu berkeyaninan masih bisa mendekap anaknya, walaupun dalam kesakitan. Beliau hanya bisa menangis, menjerit, dan mengumpat sehabis-habisnya.

Kisah tragis Rafadan melahirkan empati terhadapnya, hingga kecaman terhadap rumah sakit. Di dunia maya, ada sebagian netizen menerima apa yang menimpa Rafadan sebagai takdir hidupnya. Bahwa itu sudah ajalnya, sudah memang ditakdirkan untuk berpulang ke pelukan Penciptanya dengan cara yang demikian.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dibantu Kejari, Pemkot Semarang Berhasil Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar

Dibantu Kejari, Pemkot Semarang Berhasil Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar

Regional
Kembali Perketat PKM di Semarang, Walkot Hendi Paparkan Aturan Kegiatan Sosial Baru

Kembali Perketat PKM di Semarang, Walkot Hendi Paparkan Aturan Kegiatan Sosial Baru

Regional
Jalankan Program 'Sarjana Mengajar', Bupati Luwu Utara Rekrut SDM Berkualitas

Jalankan Program "Sarjana Mengajar", Bupati Luwu Utara Rekrut SDM Berkualitas

Regional
Tinjau Ujian Sekolah di Daerah Terpencil, Bupati Luwu Utara: Alhamdulilah Berjalan dengan Baik

Tinjau Ujian Sekolah di Daerah Terpencil, Bupati Luwu Utara: Alhamdulilah Berjalan dengan Baik

Regional
Bupati IDP Resmikan 'SPBU Satu Harga' di Seko, Masyarakat Kini Bisa Beli BBM Murah

Bupati IDP Resmikan "SPBU Satu Harga" di Seko, Masyarakat Kini Bisa Beli BBM Murah

Regional
Pengusaha Langgar Aturan, Walkot Bobby Robohkan Bangunan di Atas Drainase

Pengusaha Langgar Aturan, Walkot Bobby Robohkan Bangunan di Atas Drainase

Regional
100 Hari Kerja Walkot Bobby Fokus Atasi Sampah, Walhi: Ini Langkah Tepat

100 Hari Kerja Walkot Bobby Fokus Atasi Sampah, Walhi: Ini Langkah Tepat

Regional
Kejar Medali Emas, Provinsi Papua Kirim 14 Atlet Sepak Takraw ke PON XX 2021

Kejar Medali Emas, Provinsi Papua Kirim 14 Atlet Sepak Takraw ke PON XX 2021

Regional
Wabup Luwu Utara Resmikan Program Air Bersih untuk 60 KK di Desa Pombakka, Malangke Barat

Wabup Luwu Utara Resmikan Program Air Bersih untuk 60 KK di Desa Pombakka, Malangke Barat

Regional
Tinjau Vaksinasi di Tanjung Emas, Walkot Hendi Pastikan Vaksin Covid-19 Aman Digunakan

Tinjau Vaksinasi di Tanjung Emas, Walkot Hendi Pastikan Vaksin Covid-19 Aman Digunakan

Regional
Kejari Semarang Bantu Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar, Pemkot Berikan Apresiasi

Kejari Semarang Bantu Selamatkan Aset Negara Rp 94,7 Miliar, Pemkot Berikan Apresiasi

Regional
Penanganan Covid-19 di Kota Medan Dinilai Sudah “On the Track”, Pengamat Kesehatan Puji Kinerja Bobby

Penanganan Covid-19 di Kota Medan Dinilai Sudah “On the Track”, Pengamat Kesehatan Puji Kinerja Bobby

Regional
Ada 499 Pasien Covid-19 dari Luar Semarang, Walkot Hendi Siapkan Hotel untuk Karantina

Ada 499 Pasien Covid-19 dari Luar Semarang, Walkot Hendi Siapkan Hotel untuk Karantina

Regional
Apresiasi Penanganan Covid-19  di Luwu Utara, Kapolda Sulsel: Protokol Kesehatan Jangan Kendor

Apresiasi Penanganan Covid-19 di Luwu Utara, Kapolda Sulsel: Protokol Kesehatan Jangan Kendor

Regional
Bupati IDP Harap Kedatangan Pangdam XIV Hasanuddin dan Rombongan Bisa Bantu Pulihkan Luwu Utara

Bupati IDP Harap Kedatangan Pangdam XIV Hasanuddin dan Rombongan Bisa Bantu Pulihkan Luwu Utara

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X