Kompas.com - 05/07/2020, 10:20 WIB
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Lagu Yamko Rambe Yamko yang selama puluhan tahun identik dengan identitas Papua, diklaim oleh tokoh dan seniman Papua sebagai bukan lagu daerah mereka sebab lirik lagu tersebut dianggap bukan dari bahasa Papua.

Etnomusikolog menyebut lagu ini sebagai bagian dari diplomasi musik yang dilakukan pemerintah di masa lalu dan menekankan perlunya pelurusan sejarah terkait asal-usul lagu yang samar.

Tokoh Papua, Simon Patric Moran, mengklaim dirinya sebagai saksi sejarah ketika lagu itu pertama kali diperkenalkan oleh warga Papua di Biak pada 1963, ketika Papua — yang kala itu bernama Irian Barat — baru saja diserahkan oleh UNTEA, lembaga PBB yang memediasi penyerahan Papua dari Belanda, ke Indonesia.

Baca juga: Ramai soal Lagu Yamko Rambe Yamko, Benarkah dari Papua?

Dia menyebut lagu itu hanya serangkaian kata tanpa makna.

Sementara, Ketua Dewan Kesenian Tanah Papua, Nomensen Mambraku, memastikan tak ada satupun suku di Papua yang mengakui lagu itu sebagai bahasa mereka, merujuk pada penelitian yang dilakukan badan tersebut.

Menurutnya ada kemungkinan lagu itu merupakan modifikasi lagu berbahasa Afrika.

BBC News Indonesia melakukan penelusuran asal-usul lagu tersebut hingga Afrika.

Baca juga: Viral Unggahan soal Lagu Yamko Rambe Yamko, Ini Berbagai Versi Asal Muasalnya

Meski sejumlah kata dalam lagu itu diakui bagian dari bahasa Swahili, wartawan BBC Swahili, Caroline Karobia, memastikan bahwa lagu itu bukanlah berbahasa Swahili.

Bahasa Swahili adalan bahasa yang digunakan oleh lebih dari 100 juta orang di setidaknya 12 negara di Afrika bagian tengah dan timur.

Menindaklanjuti temuan ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tengah melakukan penelusuran dan pengkajian untuk mengklarifikasi asal-usul lagu Yamko Rambe Yamko.

Baca juga: Misteri Asal-usul Lagu Yamko Rambe Yamko: Teori Diciptakan Soekarno hingga Dibawa Guru-guru ke Papua

'Bukan lagu milik orang Papua'

UNTEA dibentuk karena terjadinya konflik antara Indonesia dan Belanda dalam permasalahan status Irian Barat Bettman/Getty Images UNTEA dibentuk karena terjadinya konflik antara Indonesia dan Belanda dalam permasalahan status Irian Barat
Perdebatan tentang asal-usul lagu Yamko Rambe Yamko mencuat setelah unggahan akun Twitter @PapuaItuKita tentangnya banyak diperbincangkan di dunia maya pada akhir Juni lalu.

Dalam unggahan pada Jumat (26/6/2020), akun itu menyebut lagu yang identik dengan Papua, tak hanya di kancah nasional, tapi juga internasional itu "dipaksa" sebagai lagu Papua padahal "orang Papua tidak tahu dan tidak mengakui itu sebagai lagu daerah".

Sejak saat itu, diskusi tentang asal-usul lagu ini terus bergulir, hingga kini.

Simon Patric Morin adalah salah satu warga Papua yang meyakini bahwa lagu itu bukanlah berasal dari Papua.

Baca juga: Lirik dan Chord Lagu Daerah Yamko Rambe Yamko

Sebagai warga asli Papua, sejak kecil dia tak pernah mendengar lagu itu dalam kehidupan sehari-harinya.

Hingga pada suatu saat, rombongan kesenian dari Jakarta yang datang ke Biak.

Di sebuah aula sekolah menengah, mereka menyanyikan lagu itu di hadapan warga Papua, termasuk dirinya yang merupakan siswa sekolah tersebut.

Itulah kali pertama dia diperkenalkan dengan lagu tersebut.

Dalam ingatan Simon, rombongan itu antara lain terdiri dari penyanyi Rita Zahara, Kris Biantoro, serta Soerjono, atau biasa dikenal sebagai Pak Kasur.

Baca juga: Tompi Kenang Glenn Fredly Saat Nyanyikan Lagu Daerah

Di Papua ada sekitar 250 bahasa Papua, kata Simon ADEK BERRY/AFP via Getty Images Di Papua ada sekitar 250 bahasa Papua, kata Simon
Pak Kasur dikenal sebagai tokoh pendidikan Indonesia dan pencipta lagu anak-anak.

"Waktu itu tanggal 1 Mei penyerahan Irian Barat kepada Indonesia oleh badan pemerintahan sementara PBB yang namanya UNTEA. Jadi boleh kita katakan itu sekitar tahun 1963," tutur Simon.

Lebih jauh pria yang pernah menjabat sebagai anggota DPR sejak 1992 - 2009 ini menuturkan setelah penyerahan Papua ke Indonesia, banyak rombongan kesenian yang dikirim ke Papua untuk "membuat suasana jadi rileks sesudah konfrontasi Belanda Indonesia".

Sejak saat itu, lagu itu disematkan sebagai bagian dari identitas Papua.

Baca juga: Cerita Syarif, Tersesat di Hutan Papua, Makan Buah Biji Anggrek untuk Bertahan

Meski demikian, banyak orang — termasuk warga Papua sendiri — bertanya-tanya makna dari lirik lagu tersebut.

Keragaman bahasa di Papua, menjadi alasan di balik kebingungan akan makna lirik lagu ini.

"Di Papua ada sekitar 250 bahasa Papua," kata Simon.

"Bahasa-bahasa di Papua itu baru diinventarisasi dan didokumentasi oleh suatu badan yang namanya Summer Institute of Linguistics sekitar dekade 80-an, sehingga bahasa lokal tidak banyak yang menguasai," jelasnya.

Baca juga: Detik-detik Pemburu Tersesat di Hutan Papua Ditemukan, Dengar Namanya Dipanggil

Oleh sebab itu, Mambesak, kelompok musik dari Papua yang mendokumentasikan lagu rakyat di Papua, tak pernah memasukkannya ke dalam dokumentasi mereka.

"Karena mereka verifikasi, apakah bahasa orang Sentani, atau bahasa Biak, atau bahasa dari Asmat, jadi ada semacam inventarisasi, ada semacam dokumentasi tentang penutur bahasa itu sehingga dapat dipertanggungjawabkan. Yamko Rambe Yamko tidak ada," jelas Simon.

Mambesak adalah kelompok musik pertama di Papua yang dibentuk pada 1978 dan diketuai oleh Arnold Ap, budayawan, antropolog dan kurator museum Universitas Cendrawasih.

Baca juga: Potret Ketimpangan Pembangunan di Papua, Beras 10 Kg Seharga Rp 2 Juta

Setidaknya mereka telah merilis empat volume berisi lagu daerah Papua, disertai asal daerah, bahasa yang digunakan, dan arti lagu tersebut.

Studi dan pementasan budaya musik Mambesak kala itu dipandang oleh banyak pihak sebagai tantangan terhadap tudingan bahwa pemerintah Indonesia berupaya menggerus identitas Papua.

Proses dokumentasi mereka terhenti ketika pada 1983 pihak keamanan Indonesia mulai memantau kegiatan mereka yang berujung pada penangkapan dan penahanan Arnold Ap.

Baca juga: Sempat Kabari Tak Tahu Jalan Pulang, Syarif Tersesat Saat Berburu di Hutan Papua

'Serangkaian kata tanpa makna'

Seorang warga Papua menyaksikan kompetisi panjat pinang yang biasanya digelar ketika perayaan kemerdekaan IndonesiaAHMAD ZAMRONI/AFP via Getty Images Seorang warga Papua menyaksikan kompetisi panjat pinang yang biasanya digelar ketika perayaan kemerdekaan Indonesia
Lantaran lirik dari lagu itu tak identik dengan bahasa Papua, Simon berkesimpulan lagu Yamko Rambe Yamko adalah "serangkaian kata-kata yang di-compose (dikarang) oleh Pak Kasur untuk menciptakan kegembiraan, walaupun kata-katanya tidak bermakna".

Dia menambahkan, sebagian besar bahasa Papua lebih banyak huruf mati, "tidak seperti untaian kata-kata" dalam lagu itu.

Simon menambahkan ada teori bahwa kemungkinan lagu ini jiplakan dari lagu Afrika.

Teori ini diperkuat oleh Nomensen Mambraku, Ketua Dewan Kesenian Papua yang pada 1990an--ketika Nomensen menjabat sebagai wakil ketua dewan kesenian Papua--membentuk tim yang terdiri dari sejumlah seniman Papua untuk menelusuri sejarah lagu tersebut.

Baca juga: Di Pedalaman Pegunungan Bintang Papua, Beras 10 Kilogram Dijual Rp 2 Juta dan Mi Instan Ditukar Emas

"Kesimpulan kita, setelah didiskusikan, kami tidak menemukan lagu itu sebagai lagu milik orang Papua," kata dia.

Dalam penelitian tersebut, didapat fakta bahwa lagu tersebut pertama kali dinyanyikan oleh Corry Rumbino seorang penyanyi Papua yang melantunkan lagu itu di istana saat peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus, pada awal 1960-an.

"Ternyata lagu itu lagu yang dimodifikasi dari Afrika dan Corry Rumbino yang melantunkan lagu itu pertama di Indonesia dan kemudian dipopulerkan di Papua," jelas Nomensen.

"Tapi sesungguhnya ketika kita telusuri, lagu itu bukan dari Papua, bukan bahasa Papua," tegasnya.

Baca juga: Mulai dari Kaki, Pebasket Remaja Asal Papua Ini Wujudkan Mimpi

Apakah benar berasal dari Afrika?

Meski sejumlah kata dalam lirik Yamko Rambe Yamko merupakan frasa bahasa Swahili, namun secara keseluruhan lagu itu bukan berbahasa Swahili ADEK BERRY/AFP via Getty Images Meski sejumlah kata dalam lirik Yamko Rambe Yamko merupakan frasa bahasa Swahili, namun secara keseluruhan lagu itu bukan berbahasa Swahili
Dalam komentar unggahan yang kemudian viral, seorang pengguna Twitter menunjukkan ketika dirinya menerjemahkan lirik lagu itu menggunakan Google Translate.

Platform itu mendeteksinya sebagai bahasa Swahili, bahasa yang digunakan oleh negara-negara di Afrika Timur dan Tengah.

Yamko Rambe Yamko dimaknai sebagai selamat datang selalu dalam bahasa Swahili.

Meski demikian hipotesis ini dianggap tidak valid karena hanya berlandaskan platform penerjemah bahasa.

BBC News Indonesia lantas berupaya untuk mengkonfirmasinya kepada wartawan BBC Swahili, Caroline Karobia.

Baca juga: Papua Waspada Corona Gelombang Kedua dan Stigma Penyakit Kutukan Tuhan

"Saya telah memeriksa liriknya, ada sejumlah kata dari bahasa Swahili tapi [lagu] itu bukan bahasa Swahili," ujar Caroline.

Wartawan BBC yang bertugas di ibu kota Kenya, Nairobi, Omega Rakotomalala, menyebut lirik lagu itu juga bukan berbahasa Malagasi.

"Saya telah memeriksa liriknya dan secara pasti dapat mengatakan bahwa itu bukan bahasa Malagasi karena alfabet kami tidak memiliki huruf 'U' atau 'W'," ujarnya.

"Ada kesamaan dengan bahasa Komoro, tetapi tidak," tambahnya kemudian.

Bahasa Malagasi adalah cabang bahasa Austronesia yang dituturkan oleh orang Madagaskar.

Sementara Komoro merupakan kepulauan di timur Afrika yang terletak di Samudra Hindia.

Baca juga: 96 Personel Brimob Polda Gorontalo Dikirim ke Puncak Jaya Papua

Identitas yang disematkan pemerintah?

Anak-anak Suku Dani tengah bermain di sungai di desa Soroba, Wamena, Papua Agung Parameswara/Getty Images Anak-anak Suku Dani tengah bermain di sungai di desa Soroba, Wamena, Papua
Terlepas dari asal-usul yang samar, lagu itu senantiasa dilekatkan dengan masyarakat Papua dan dinilai sebagai representasi identitas Papua.

Dalam daftar lagu daerah — yang menjadi salah satu parameter mengenal ragam budaya di Indonesia — Yamko Rambe Yamko diklaim sebagai lagu daerah Papua.

Bahkan, lagu ini sering dibawakan oleh kelompok paduan suara dalam kompetisi internasional.

Etnomusikolog dan peneliti musik, Resa Seto Hadiwijoyo, menganggap itu sebagai "masalah besar".

Baca juga: Kasus Pertama Covid-19 di Lanny Jaya Papua

"Jangan-jangan selama ini kita membiarkan identitas itu menjadi representasi mereka justru karena itu konstruksi sosial yang dibangun oleh orang-orang yang bukan berasal dari Papua, kemudian itu menjadi identitas mereka," jelas Seto.

"Kalau misalnya seperti itu, ada masalah besar bahwa ternyata identitas teman-teman Papua, representasi orang-orang Papua ini, kemudian bukan dari teman-teman Papua sendiri, tapi oleh orang-orang di luar masyarakat Papua," imbuhnya kemudian.

Seto yang meneliti tentang diplomasi musik ketika studi di School of Asian and African Studies (SOAS), University of London, Inggris, mengungkapkan musik kerap digunakan sebagai alat diplomasi oleh pemerintah di masa lalu.

Baca juga: Yenny Wahid: Jarang Sekali Kita Lihat Orang Papua Direpresentasikan dalam Iklan di TV

Lagu Yamko Rambe Yamko yang selama puluhan tahun identik dengan identitas Papua, diklaim oleh tokoh dan seniman Papua sebagai bukan lagu daerah mereka Agung Parameswara/Getty Images Lagu Yamko Rambe Yamko yang selama puluhan tahun identik dengan identitas Papua, diklaim oleh tokoh dan seniman Papua sebagai bukan lagu daerah mereka

Apa yang terjadi pada lagu Yamko Rambe Yamko, menurut Seto, berkaitan dengan "adanya framing yang dibangun pemerintah, yang kemudian itu disematkan sebagai representasi masyarakat Papua.

Kendati begitu, dia menegaskan hal itu perlu dikaji lebih jauh dari sisi sejarah. Sebab, mengutip apa dituturkan oleh tokoh Papua, Simon Patric Morin, lagu ini dibawa oleh seniman Jakarta yang pada waktu itu datang ke Biak untuk menghibur orang-orang Papua pada awal 1960an.

Apalagi, tak ada satu pun suku di Papua yang mengklaim lagu itu sebagai lagu mereka.

"Ini kan berarti ada yang aneh dan menurut saya ada hal yang harus diluruskan. Kalau memang benar itu bukan bahasa Papua dan tidak merepresentasi orang Papua, maka kita harus siap bahwa ketika orang Papua meminta simbol representasi itu kemudian diubah," ungkap Seto.

Baca juga: Dinas Pendidikan Papua Ancam Copot Kepala Sekolah yang Pungli Saat Penerimaan Siswa Baru

Akan tetapi, Agastya Rama Listya, etnomusikolog sekaligus dosen program studi seni musik di Universitas Kristen Satya Wacana, tak sependapat.

Agastya menyebut "pencarian asal-usul bukan sesuatu yang esensial", jika komunitas etnis Papua sudah menganggap lagu tersebut sebagai representasi di tingkat nasional maupun internasional, maka "itu bukan suatu masalah".

"Kalau komunitas Papua akan melakukan diskusi menerima atau tidak menerima, atau mengubah, atau mungkin mempertahankan melodinya dan mengubah dengan teks baru. Menurut saya yang paling relevan menjawab adalah etnis Papua sendiri," jelas Agastya.

Dia menyarankan, jika komunitas Papua menolak lagu ini sebagai lagu daerahnya, maka yang semestinya dilakukan kemudian ada menghapus segala klaim bahwa lagu ini lagu daerah Papua dari buku teks dan materi pembelajaran yang selama ini beredar.

Baca juga: 1.498 Kasus Positif Covid-19 di Papua, Pasien Pertama Tercatat di Puncak Jaya

Bagaimana tanggapan komunitas Papua?

Tangkapan layar twit yang viral soal lagu Yamko Rambe Yamko bukan dari PapuaTwitter Tangkapan layar twit yang viral soal lagu Yamko Rambe Yamko bukan dari Papua
Ketua Dewan Kesenian Tanah Papua, Nomensen Mambraku, mengungkapkan meski mengaku tak mengerti makna lirik lagu tersebut, namun lagu itu sudah menjadi bagian dari seni dan budaya Papua.

"Seni untuk seni," tegasnya.

"Soal sejumlah seniman Papua mengklaim lagu itu bukan lagu orang Papua, saya setuju. Tetapi dia [lagu Yamko Rambe Yamko] sudah memberikan warna bahwa di seluruh Indonesia orang menyanyikan lagu itu dengan jiwa dan napas orang Papua, meskipun lagunya bukan dari Papua," ujar Nomensen.

"Dari aspek kultur, lagu itu harus diakui bahwa dia mewakili nilai-nilai dan aspek dasar kehidupan seni dan budaya orang Papua, karena memang lagu itu dibesarkan di tanah Papua," jelasnya kemudian.

Baca juga: Satu Keluarga di Papua Ditemukan Tewas, Diduga Keracunan Asap Genset

Hal serupa juga terjadi pada seni budaya yang lain. Dia mencontohkan tari Gale-Gale kini identik dengan budaya Papua, padahal tarian itu berasal dari Maluku Utara.

"Seni tidak perlu dipolitisir. Biarkan seniman pada lahannya dan politik pada lahannya sendiri-sendiri," kata dia.

Senada, tokoh Papua, Simon Patric Moran, pun tak menganggap lagu Yamko Rambe Yamko "secara paksa" disematkan sebagai identitas Papua, meski bukan berasal dari Papua.

Namun begitu, dia menegaskan bahwa budayawan Papua perlu mengklarifikasi asal-usul lagu ini.

Baca juga: Kasus Blokir Internet di Papua, Jokowi Divonis Bersalah hingga Batal Ajukan Banding

"Secara positif saya melihat, niat Pak Kasur itu hanya untuk membawa kegembiraan. Sehingga saya menganggap itu sekedar diciptakan dari serangkaian kata-kata."

"Saya kira budayawan perlu klarifikasi tentang hal ini karena lagu pernah dibawa ke forum internasional," ujar Simon.

Sejumlah kelompok paduan suara kerap membawakan lagu Yamko Rambe Yamko yang diaransemen oleh Agustinus Bambang Jusana dalam kompetisi paduan suara internasional.

Paduan suara anak Indonesia, The Resonanz Children's choir meraih gelar juara ketika melantunkan lagu ini di sebuah kompetisi yang digelar di Venesia, Italia, pada 2016.

Baca juga: Ini Alasan Jokowi Batal Banding Putusan PTUN soal Blokir Internet Papua

Tahun lalu, lagu ini juga dibawakan oleh paduan suara Telkom University Choir ketika meraih kemenangan dalam kompetisi di Taipei, Taiwan.

Bahkan, kelompok paduan suara dari negara lain juga kerap membawakan lagu Yamko Rambe Yamko, yang mereka anggap sebagai lagu dari Papua.

Etnomusikolog, Agastya Rama Listya, yang juga kerap mengaransemen lagu untuk paduan paduan suara, menyebut bahwa "dunia paduan suara tak ambil pusing dengan latar belakang lagu yang dinyanyikan".

"Dan itu kan sudah dinyanyikan oleh paduan suara dari luar. Jadi kalau kita bilang 'Lagu ini kami tarik karena bukan lagu Papua', sebenarnya kita justru mempermalukan diri," jelasnya.

Baca juga: Jumlah Kasus Covid-19 Capai 1.424, Zona Merah di Papua Bertambah Jadi 15

Namun begitu, Direktur Perfilman, Musik dan Media Baru pada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, mengungkapkan pemerintah tengah melakukan penelusuran dan pengkajian resmi terkait asal-usul lagu ini.

"Sementara ini sedang ditelusuri dan dikaji oleh unit pelaksana teknis Ditjen Kebudayaan, yakni Balai Pelestarian Nilai Budaya Papua," ujar Mahendra.

Hasil penelusuran ini, nantinya dijadikan dasar untuk mengklarifikasi asal-usul lagu Yamko Rambe Yamko yang selama puluhan tahun disematkan sebagai bagian dari identitas Papua.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pembangunan Masjid Raya Al-Jabbar Capai 56 Persen, Kang Emil: Pengerjaannya Tidak Mudah

Pembangunan Masjid Raya Al-Jabbar Capai 56 Persen, Kang Emil: Pengerjaannya Tidak Mudah

Regional
Meriahkan Y20, Jabar Adakan Youth Innovation Festival untuk Publik

Meriahkan Y20, Jabar Adakan Youth Innovation Festival untuk Publik

Regional
Ridwan Kamil Sebut KTT Y20 Jadi Platform Anak Muda Bangun Masa Depan

Ridwan Kamil Sebut KTT Y20 Jadi Platform Anak Muda Bangun Masa Depan

Regional
Peluang Ekspor Nonmigas Terbuka Lebar, Pemprov Jabar Fokus Dukung Eksportir Muda

Peluang Ekspor Nonmigas Terbuka Lebar, Pemprov Jabar Fokus Dukung Eksportir Muda

Regional
Pertama di Indonesia, Pemkot Cilegon Gandeng PLN Olah Sampah Kota untuk Gantikan Batu Bara

Pertama di Indonesia, Pemkot Cilegon Gandeng PLN Olah Sampah Kota untuk Gantikan Batu Bara

Regional
Harga Sawit Terus Turun, Gubernur Se-Sumatera Bertemu Carikan Solusi

Harga Sawit Terus Turun, Gubernur Se-Sumatera Bertemu Carikan Solusi

Regional
Antisipasi Dampak Psikososial Pascabencana, Pemprov Papua Siagakan 360 Relawan

Antisipasi Dampak Psikososial Pascabencana, Pemprov Papua Siagakan 360 Relawan

Regional
Pemprov Papua Cek Kondisi Sapi Kurban dari Presiden Jokowi

Pemprov Papua Cek Kondisi Sapi Kurban dari Presiden Jokowi

Regional
Bantu Penyintas APG Gunung Semeru, Dompet Dhuafa Dirikan 50 Huntara

Bantu Penyintas APG Gunung Semeru, Dompet Dhuafa Dirikan 50 Huntara

Regional
Bekerja Sama dengan Komunitas Muslim Selandia Baru, Dompet Dhuafa Hadirkan Pos Gizi di Garut

Bekerja Sama dengan Komunitas Muslim Selandia Baru, Dompet Dhuafa Hadirkan Pos Gizi di Garut

Regional
Gubernur Khofifah Sebut Kompetensi ASN Jadi Kunci Perbaikan Kualitas Birokrasi

Gubernur Khofifah Sebut Kompetensi ASN Jadi Kunci Perbaikan Kualitas Birokrasi

Regional
Pemprov Papua Berharap Pemda Hidupkan PMI yang Konsisten Jalankan Misi Kemanusiaan

Pemprov Papua Berharap Pemda Hidupkan PMI yang Konsisten Jalankan Misi Kemanusiaan

Regional
Pemprov Papua Kerahkan 96 Nakes untuk Cek Kondisi Hewan Kurban Jelang Idul Adha

Pemprov Papua Kerahkan 96 Nakes untuk Cek Kondisi Hewan Kurban Jelang Idul Adha

Regional
Wujudkan Pemerintahan yang Bersih dan Akuntabel, Pemprov Papua Maksimalkan Sistem E-Government

Wujudkan Pemerintahan yang Bersih dan Akuntabel, Pemprov Papua Maksimalkan Sistem E-Government

Regional
Optimalkan Pendidikan Anak, Pemkot Madiun Cegah Pernikahan Dini hingga Perangi Stunting

Optimalkan Pendidikan Anak, Pemkot Madiun Cegah Pernikahan Dini hingga Perangi Stunting

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.