Kompas.com - 03/07/2020, 09:24 WIB
Abdurahman Chadry atau yang akrab disapa Amang Genggong (kiri), saat ditemui di tempat tinggal saudara iparnya. KOMPAS.COM/HAMZAH ARFAHAbdurahman Chadry atau yang akrab disapa Amang Genggong (kiri), saat ditemui di tempat tinggal saudara iparnya.

GRESIK, KOMPAS.com - Amang Genggong, begitu sapaan akrab orang-orang terhadap Abdurahman Chadry (80), terlihat terbaring lemah.

Maestro harmonika asal Gresik, Jawa Timur, tergolek tak berdaya di ruang tamu, di rumah kecil adik iparnya yang terpaut dua rumah dari tempat tinggalnya.

"Kemarin saat beli tahu tek di depan (jalan raya depan gang rumahnya) jatuh. Pas kurang enak badan, tiba-tiba jatuh sendiri," ujar Amang dengan nada terbata saat ditemui, Kamis (2/7/2020).

Baca juga: Risma Menjawab Alasan Bersujud, Marah soal Mobil PCR, hingga Surabaya Jadi Wuhan

Kejadian itu sudah berlangsung sekitar dua bulan lalu. Namun hingga kini, Amang masih merasakan sakit di bagian kaki sebelah kiri dan tidak lagi bisa dibuat berdiri, apalagi berjalan.

Kris Adji AW salah seorang seniman asal Gresik bersama rekan-rekannya menjenguk Amang.

Memang benar Amang tengah sakit dan tidak lagi dapat berjalan usai terjatuh dari sepeda onthel yang biasa dipakai berkeliling di wilayah Gresik kota.

"Merasa tergugah dan prihatin, akhirnya saya unggah kondisi Pak Amang di medsos dan mendapat banyak respons. Alhamdulillah bantuan kemudian mulai berdatangan," tutur Kris.

Baca juga: Viral, Video Aksi Berbahaya 3 Wanita Bermain TikTok Tari India di Jembatan Suramadu

Sebelumnya Amang tidak sampai dirawat di rumah sakit lantaran tidak memiliki biaya untuk berobat.

Selain itu tidak ada pihak keluarga yang nantinya bakal menunggu bila Amang sampai menjalani rawat inap.

"Pak Amang ini biasanya tinggal sendiri di rumah yang berjarak dua rumah dari sini. Tapi sejak jatuh kemarin itu, dia tinggal di sini karena hanya tinggal kami keluarga yang dimiliki," kata Fatimah (60), adik ipar Amang.

Rumah Fatimah tidak jauh berbeda dengan tempat tinggal Amang. Tidak terlalu luas dengan lebar sekitar 5 meter.

Saat ditemui Amang tidur di lantai beralaskan tikar seadanya, karena kamar yang ada di tempati oleh Fatimah dan satu orang anaknya.

Saat kondisi Amang diposting di media sosial, banyak orang yang tergerak untuk membantu.

Bahkan ada yang menawari Amang untuk berobat ke rumah sakit.

Maestro Harmonika

Abdurahman Chadry atau yang akrab disapa Amang Genggong (kanan) ketika masih sehat, pada saat menggelar pertunjukkan bersama Kris Adji AW.Dok. Kris Adji AW Abdurahman Chadry atau yang akrab disapa Amang Genggong (kanan) ketika masih sehat, pada saat menggelar pertunjukkan bersama Kris Adji AW.

Amang mulai mengenal alat musik harmonika sejak dirinya ikut berlayar.

Pada saat itu Amang yang masih berusia belasan tahun sempat berlayar hingga Amerika Serikat.

"Kalau mulai bisa (mainkan) harmonika itu Januari 1954. Beli di pasar (Gresik), waktu itu Rp 1.500. Belajar sendiri (otodidak)," ucap Amang.

Amang mengaku jatuh hati dengan harmonika lantaran ia dapat memainkan berbagai nada yang diinginkan dalam satu alat musik. Baik alunan ritme, melodi, atau pun bass.

Sejak saat itu, Amang mulai melatih keterampilan memainkan harmonika.

Hingga dirinya mulai dipercaya oleh rekan atau pun orang yang mengenalnya untuk tampil unjuk kepiawaian dalam memainkan alat musik tiup tersebut.

Amang ingat betul pertama kali tampil di hadapan banyak orang tahun 1959, saat itu ulang tahun temannya.

Rekor MURI

Keahlian memainkan harmonika terus diasah. Kendati saat itu dirinya juga berprofesi sebagai guru bahasa inggris di sebuah lembaga belajar yang ada di Gresik.

Keahliannya itu membuat Amang mendapat perhatian dari orang-orang. Amang mulai diundang pentas hingga mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) pada 2012.

"Bahkan, kehebatannya memainkan harmonika dalam tiga suara sekaligus itu membuatnya masuk dalam salah satu dari enam pemain harmonika fenomenal di dunia," tutur seniman dan budayawan Gresik, Kris Adji AW.

Kris mengtatakan, nama Mbah Amang sendiri disejajarkan dengan Hermine Deurloo, pemain harmonika asal Amsterdam, Jason Ricci (Amerika Serikat), Toots Thielemans (Belgia), Jean-Jacques Milteau (Perancis), Hari Pochang atau Hari Krishnadi asal Bandung yang merupakan sahabat Almarhum Harry Roesli.

"Maka tidak heran kalau Mbah Amang disebut sebagai maestro harmonika yang sangat unik," jelas Kris.

Bagi Kris, sosok Amang merupakan salah satu ikon seniman Gresik. Ini karena dedikasinya melalui alat musik harmonika.

Amang juga kerap meraih predikat sebagai juara pertama pada lomba harmonika tingkat nasional yang diadakan Radio Suzana Surabaya.

Selain itu, Amang bersama beberapa rekannya di komunitas Ongkeng Gresik juga sempat menggelar pertunjukan di Warung Apresiasi Jakarta pada 2004.

Kepiawaian Amang dalam memainkan harmonika juga dikabarkan sempat mengundang ketertarikan dari pemusik jazz legendaris Bubi Chen yang telah meninggal dunia, untuk dapat melakukan kolaborasi dalam sebuah pertunjukan bersama.

"Konon pernah duet dengan Bubi Chen di Surabaya," kenang Kris Adji.

Kurang Dipresiasi

Sebagai seniman harmonika, Amang sempat mendapat kesempatan untuk dapat unjuk kepiawaian dalam kontes harmonika tingkat internasional di Malaysia.

Hanya saja, kesempatan ini lewat begitu saja karena tidak ada biaya dan dukungan dari pemerintah daerah setempat.

"Setahu saya pernah ada kesempatan menjadi wakil Indonesia untuk mengikuti lomba harmonika internasional di Malaysia. Tapi itu gagal terlaksana karena tidak ada biaya dan tidak ada perhatian dari Pemkab Gresik," tutur Kris.

Banyak yang membantu

Postingan Kris Adji mengenai sosok Amang Genggong yang tergolek tak berdaya lantaran sakit di media sosial, mendapat respons positif dari banyak pihak.

Mulai dari ketua DPRD Gresik, wakil bupati Gresik, hingga sejumlah organisasi yang ada di Gresik mulai berdatangan untuk menjenguk sekaligus memberikan bantuan kepada maestro harmonika tersebut.

Pada saat Kompas.com berkunjung melihat kondisi Amang, berbarengan dengan perwakilan dari Pemuda Muhammadiyah Gresik yang tengah menyalurkan bantuan.

"Kami dapat info bahwa Pak Amang sakit, sehingga kami datang menjenguk. Kami memang ada kajian untuk itu sebagai bentuk empati akan hal-hal sosial seperti ini," ucap Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Gresik, Aditama.

Selain bentuk empati, Aditama menilai sosok Amang Genggong adalah figur panutan dalam bidang seni dan budaya.

Amang menjadi contoh teladan dan seharusnya mendapat perlakuan lebih layak di hari tua.

"Terus terang sosok Pak Amang memberikan inspirasi kepada kami sebagai sosok panutan dalam bidang seni dan budaya. Terlebih kami juga memiliki bidang yang melingkupi cakupan pemuda, seni, budaya, dan olahraga," ujar Aditama.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terapkan Prokes dan PPKM di Kesawan City Walk, Pemkot Medan Lakukan Ini

Terapkan Prokes dan PPKM di Kesawan City Walk, Pemkot Medan Lakukan Ini

Regional
Ganjar Nilai Sistem Resi Gudang Grobogan Jadi Teladan Nasional, Mengapa?

Ganjar Nilai Sistem Resi Gudang Grobogan Jadi Teladan Nasional, Mengapa?

Regional
Anggap Warga Sudah Teredukasi Covid-19, Pemkab Wonogiri Longgarkan Kegiatan Ekonomi

Anggap Warga Sudah Teredukasi Covid-19, Pemkab Wonogiri Longgarkan Kegiatan Ekonomi

Regional
Diminta Khofifah Desain Masjid di Surabaya, Kang Emil: Alhamdulillah, Jadi Ladang Ibadah

Diminta Khofifah Desain Masjid di Surabaya, Kang Emil: Alhamdulillah, Jadi Ladang Ibadah

Regional
Pulihkan Ekonomi Jabar, Wagub Uu Dorong UMKM Manfaatkan Program Pemerintah

Pulihkan Ekonomi Jabar, Wagub Uu Dorong UMKM Manfaatkan Program Pemerintah

Regional
Mukhtar, Mantan Bomber Kantor Unicef Aceh Kini Jadi Petani Pepaya dan Porang

Mukhtar, Mantan Bomber Kantor Unicef Aceh Kini Jadi Petani Pepaya dan Porang

Regional
Lewat Produk UKM, Ganjar dan Dubes Ceko Diskusikan Sejumlah Potensi Kerja Sama

Lewat Produk UKM, Ganjar dan Dubes Ceko Diskusikan Sejumlah Potensi Kerja Sama

Regional
Serahkan Sertifikasi SNI ke Masker Ateja, Emil Akui Sedang Buat Kain Antivirus

Serahkan Sertifikasi SNI ke Masker Ateja, Emil Akui Sedang Buat Kain Antivirus

Regional
Bongkar Bangunan Bermasalah di Medan, Wali Kota Bobby: Mari Tingkatkan PAD

Bongkar Bangunan Bermasalah di Medan, Wali Kota Bobby: Mari Tingkatkan PAD

Regional
Positif Covid-19, Atalia Praratya Banjir Doa dan Dukungan

Positif Covid-19, Atalia Praratya Banjir Doa dan Dukungan

Regional
Ajak Pelajar Berbagi Selama Ramadhan, Disdik Jabar Gelar Rantang Siswa

Ajak Pelajar Berbagi Selama Ramadhan, Disdik Jabar Gelar Rantang Siswa

Regional
Mudahkan Rancang Perda, Gubernur Ridwan Kamil dan Kemendagri Luncurkan Aplikasi e-Perda

Mudahkan Rancang Perda, Gubernur Ridwan Kamil dan Kemendagri Luncurkan Aplikasi e-Perda

Regional
Kembali Gelar Bubos, Jabar Targetkan 127.000 Warga Dapat Takjil Buka Puasa

Kembali Gelar Bubos, Jabar Targetkan 127.000 Warga Dapat Takjil Buka Puasa

Regional
Jayakan Kembali Kota Lama Kesawan, Walkot Bobby Gandeng BPK2L Semarang

Jayakan Kembali Kota Lama Kesawan, Walkot Bobby Gandeng BPK2L Semarang

Regional
Ketua PWI Sumut Apresiasi Inisiatif Bobby Nasution Ajak Wartawan Berdialog

Ketua PWI Sumut Apresiasi Inisiatif Bobby Nasution Ajak Wartawan Berdialog

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X