Kisah Nenek 7 Cucu Sukarela Sapu Flyover Tanpa Imbalan, Sering Sakit Kepala karena Cuaca Panas

Kompas.com - 29/06/2020, 07:06 WIB
Partiyem (57) sedang menyapu jalan layang Ngelo di Kapanewon (kecamatan) Sentolo, Kulon Progo, DI Yogyakarta. Banyak dermawan bermobil singgah sebentar sekadar untuk memberi santunan sebagai dukungan atas aksi tak lelah nenek tujuh orang cucu ini. KOMPAS.COM/DANI JULIUSPartiyem (57) sedang menyapu jalan layang Ngelo di Kapanewon (kecamatan) Sentolo, Kulon Progo, DI Yogyakarta. Banyak dermawan bermobil singgah sebentar sekadar untuk memberi santunan sebagai dukungan atas aksi tak lelah nenek tujuh orang cucu ini.

 

KULON PROGO, KOMPAS.com – Panas menyengat di hari siang sehabis adzan tengah hari.

Menahan terik, seorang perempuan tampak berlindung di bawah capingnya sambil menyapu aspal jalan layang yang masuk dalam wilayah Pedukuhan Kalibondol, Kalurahan Sentolo, Kapanewon (kecamatan) Sentolo, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Ia diam sambil terus bekerja, seolah tenggelam dalam lamunan.

Prioritasnya mengumpulkan sedikit demi sedikit sampah bertebaran di jalan layang itu, lantas dimasukkan ke keranjang bambu anyam. 

Baca juga: Sepeda 38 Tahun untuk Jual Sayur Hilang, Mbah Mblok Diberi Sepeda yang Nyaris Serupa

Hampir semuanya berupa daun kering karena di kanan kiri luar jalan layang itu banyak tumbuh pohon tinggi. Gugur daunnya sedikit banyak memenuhi jalan aspal.

Namun, ada juga puntung rokok dan beberapa bungkus makanan buangan orang lewat. 

Warga Kulon Progo menyebutnya sebagai Jembatan Ngelo. Jembatan itu dibangun Pemerintah Kabupaten Kulon Progo dengan dana Rp 16 miliar.

Ini bagian dari upaya mengatasi kepadatan arus lalu lintas di depan Pasar Sentolo lama yang berada di samping perlintasan sebidang jalur kereta api.

Maka, dihubungkanlah jalan dari Pasar Sentolo lama itu dengan Simpang Empat Ngelo. Kelar seutuhnya pada 2016, lantas dimanfaatkan. Tak heran kalau jalan ini padat kendaraan besar.

Konstruksinya beton. Dari ujung ke ujung flyover sejauh 120 meter dengan lebar tujuh meter. Jalannya menikung dengan dua jalur. Berdiri di atas, tampak pemandangan lintasan ganda kereta api. 

Sepanjang flyover itulah perempuan ini menyapu. Warga sekitar jembatan mengenal dia sebagai Partiyem (57 tahun).

Ia penduduk yang tinggal tidak jauh dari jalan layang, tepatnya di Pedukuhan Gunung Rawas.

Partiyem mulai menyapu jalan itu sejak 2017. Partiyem tidak pernah absen menyapu.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

KM Fajar Baru 8 Terbakar Saat Bersandar di Pelabuhan Rakyat Sorong, Korban Jiwa Nihil

Regional
Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Kacang Tak Lupa Kulit, Ganjar Sempatkan Diri Sowan ke Rumah Indekos Semasa Kuliah

Regional
'Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat'

"Herlis Memang Pulang Kampung, Tapi Sudah Jadi Mayat"

Regional
Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Kebijakan Wali Kota Hendi Antar Semarang Jadi Pilot Project Pendataan Keluarga

Regional
Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Rehabilitasi Anak-anak Tuli di Purbalingga, Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan ABD

Regional
Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Pedagang Pasar di Surakarta Antusias Divaksin, Ganjar OptimistisPercepat Vaksinasi Pedagang Pasar

Regional
Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Kronologi Pria Mabuk Tembak Dada Bocah 8 Tahun yang Sedang Main, Bermula Omongannya Diacuhkan

Regional
Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Bocah 8 Tahun Diterkam Buaya di Depan Sang Ayah, Jasad Ditemukan Utuh di Dalam Perut Buaya

Regional
Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah 'Siap, Pak'

Wali Kota Tegal Abaikan Saran Gubernur untuk Cabut Laporan, Ganjar: Padahal, Saya Ajak Bicara Sudah "Siap, Pak"

Regional
Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Ibu yang Dilaporkan Anak ke Polisi: Saya Ketakutan, Saya Mengandung Dia 9 Bulan Tak Pernah Minta Balasan

Regional
[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

[POPULER NUSANTARA] Kajari Gadungan Menginap 2 Bulan di Hotel Tanpa Bayar | Pelajar SMP Daftar Nikah di KUA

Regional
Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Nama Ahli Waris Diubah, Anak Laporkan Ibu Kandung ke Polisi, Ini Ceritanya

Regional
Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Sandera Anak dan Rampok Uang Rp 70 Juta, Pria Ini Ditangkap 2 Jam Setelah Bebas dari Penjara

Regional
Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Nur, Mantan Pegawai BCA, Ceritakan Awal Mula Salah Transfer Uang Rp 51 Juta hingga Ardi Dipenjara

Regional
Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Kampung Mati di Ponorogo, Berawal dari Pembangunan Pesantren Tahun 1850 hingga Warga Pindah karena Sepi

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X