Menyoal Klaster Pasar, Antara Keselamatan dan Tuntutan Perut

Kompas.com - 20/06/2020, 05:45 WIB
Pedagang berjualan dengan mengenakan masker dan pelindung wajah (face shield) di pasar tradisional Bendorejo, Trenggalek, Jawa Timur, Sabtu (13/06). ANTARA FOTO/Destyan SujarwokoPedagang berjualan dengan mengenakan masker dan pelindung wajah (face shield) di pasar tradisional Bendorejo, Trenggalek, Jawa Timur, Sabtu (13/06).
Editor Rachmawati

KOMPAS.com - Sejumlah pasar tradisional di Indonesia menjadi klaster baru penyebaran virus corona, setelah ratusan pedagang di sejumlah daerah, seperti Padang, Palangkaraya dan Jakarta, terinfeksi virus corona.

Setidaknya 32 orang di antaranya meninggal dunia. Di Indonesia, secara keseluruhan terdapat sekitar 14.000 pasar tradisional.

Pakar epidemiologi memperkirakan penerapan sistem lapak ganjil genap tak akan efektif menyetop penyebaran virus corona di pasar tradisional, namun para pedagang mengaku tak ada pilihan lain selain membuka tokonya demi perputaran roda ekonomi.

Baca juga: Disebut Klaster Baru Penyebaran Covid-19 di Makassar, Ini Kata Unhas

Man, seorang pedagang di Pasar Raya Padang, mengaku meski tempatnya berdagang kini menjadi kluster penyebaran virus di Sumatera Barat, itu tak menyurutkan niatnya untuk mencari nafkah demi sesuap nasi.

"Khawatir sih khawatir, tapi mau apa lagi. Kalau nggak jualan, mau makan apa," tuturnya ketika ditemui di Pasar Raya Padang, Kamis (18/6/2020).

Pakar epidemiologi dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, mengatakan pasar tradisional berpotensi besar menjadi kluster penyebaran virus corona karena contact rate di lokasi itu sangat tinggi.

Baca juga: Klaster Baru di Riau, 7 Karyawan BRI Pekanbaru Positif Covid-19

"Biar ganjil genap juga masih bisa jadi kluster penyebaran, karena kan pembelanjanya tiap hari berbeda, pasti ada yang berbeda," ujar Miko kepada BBC News Indonesia.

"Contact rate-nya pasti banyak, pasti ada penularan, pastilah, nggak bisa dipungkiri. Menurut saya, kalau masih dibuka ya sama aja, hanya mengurangi transmisi yang terjadi," tegasnya kemudian.

Sejumlah pasar telah ditutup sementara sebab menjadi kluster penyebaran virus corona.

Beberapa di antaranya telah dibuka kembali dengan penerapan operasional ganjil genap, dengan tujuan mengurangi kepasitas sebanyak 50%.

Namun kebijakan ini dianggap tak akan cukup efektif oleh sejumlah pihak.

Ikatan Pedagang Pasar Tradisional Indonesia (IKAPPI) mencatat sebanyak 573 pedagang terinfeksi Covid-19 hingga hari Selasa (16/6/2020).

Baca juga: Klaster Penularan Lokal Pertama di Aceh, 13 Anggota Keluarga Positif Covid-19

'Kalau kita nggak buka kita mau makan apa?'

Suasana aktivitas jual beli di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Minggu (14/06).ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso Suasana aktivitas jual beli di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Minggu (14/06).
Salah satu pasar yang menjadi klaster penyebaran Covid-19 adalah Pasar Raya Padang di Sumatera Barat.

Hingga Selasa (16/6/2020) 246 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 dari klaster tersebut, sebanyak 2.628 orang dari klaster itu telah menalani tes swab.

Kondisi terkini di pasar tersebut pada Kamis (18/6/2020), berbeda jauh dengan situasi biasanya di pasar itu yang selalu ramai.

Terpantau suasana pasar tampak sepi pengunjung, yang jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang pedagang yang menjajakan dagangan.

Baca juga: Pasien Sembuh dari Corona di Kaltim Tambah 18, 9 dari Klaster Gowa

Sejumlah pedagang yang menggelar dagangannya tampak menerapkan protokol kesehatan dengan mengenakan masker dan menjaga jarak satu sama lain.

Atas dasar alasan ekonomi, seorang pedagang toko mainan di pasar itu, Man memilih untuk tetap buka, meskipun ada ratusan orang terpapar virus corona di pasar itu.

"Alasannya kan kita juga butuh biaya. Kalau kita nggak buka kita mau makan apa? Jadi kalau dibuka insya Allah ada orang yang beli, walaupun kadang-kadang nggak laris," ujar Man.

"Kalau kita kena atau terpapar, itu kan diisolasi atau diserahkan saja kepada Yang Maha Kuasa," ujarnya kemudian.

Baca juga: Di Riau, Ditemukan Klaster Baru Penularan Covid-19 dari Karyawan Bank

Untuk menghindari paparan virus, Man menjelaskan dirinya selalu mengenakan masker, cuci tangan dan menggunakan cairan pencuci tangan (hand sanitizer) serta menjaga jarak minimal satu meter antara sesama pedagang dan antar pedagang dan pembeli.

Pedagang yang telah dites swab tokonya akan diberi stiker, sementara pedagang yang belum melakukan tes swab, maka tokonya tidak akan diberi stiker.

Hal tersebut untuk membedakan mana toko yang pedagangnya telah melakukan swab dan mana yang belum.

Baca juga: Pasien Positif Covid-19 dari Klaster Mitra 10 Bogor Bertambah 1 Orang

Kluster-kluster baru di Palangkaraya dan Jakarta

Petugas kesehatan mengambil sampel lendir saat tes swab di Pasar Raya Padang, Sumatera Barat, Selasa (09/06).ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra Petugas kesehatan mengambil sampel lendir saat tes swab di Pasar Raya Padang, Sumatera Barat, Selasa (09/06).
Di Palangkaraya, sebanyak 46% dari 226 kasus terkonfirmasi positif Covid-19 di ibu kota Kalimantan Tengah tersebut, dilaporkan berasal dari satu klaster yakni Pasar Besar.

Lingkungan pasar ini menyumbang 102 kasus positif hingga Selasa 16 Juni 2020.

Pemerintah kemudian melakukan sterilisasi Pasar Besar selama tiga hari, Jumat-Minggu 12-14 Juni lalu.

Di Jakarta, 64 pedagang pasar tradisional dinyatakan positif Covid-19, merujuk pada data yang dirilis IKAPPI pada Selasa (16/06).

Berikut data 64 pedagang dari pasar tradisional di Jakarta yang terjangkit Covid-19:

Baca juga: Pasien Positif Covid-19 dari Klaster Mitra 10 Bogor Bertambah 1 Orang

? Pasar Kramat Jati: 3 orang ? Pasar Perumnas Klender: 18 orang ? Pasar Mester, Jatinegara: 1 orang ? Pasar Serdang, Kemayoran: 23 orang ? Pasar Kedip, Kebayoran Lama: 2 orang ? Pasar Rawa Kerbau: 14 orang ? Pasar Lontar: 1 orang ? Pasar Obor, Cijantung: 1 orang ? Pasar Grogol: 1 orang

Dua puluh empat pasar tradisional yang menjadi klaster penularan Covid-19 di DKI Jakarta kini ditutup, antara lain Pasar Kebayoran Lama, Pasar Lenteng Agung, Pasar Palmerah, Pasar Minggu dan Pasar Slipi.

Baca juga: Jadi Klaster Penyebaran Virus Corona, Pasar Tos 3000 Ditutup 5 Hari

Penerapan ganjil genap di pasar tradisional Jakarta

Pedagang menunjukan stiker tanda sudah melakukan tes swab dan negatif COVID-19, di Pasar Raya Padang, Sumatera Barat, Jumat (05/06) ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra Pedagang menunjukan stiker tanda sudah melakukan tes swab dan negatif COVID-19, di Pasar Raya Padang, Sumatera Barat, Jumat (05/06)
Pemerintah Provinsi Jakarta melalui PD Pasar Jaya, perusahaan daerah pengelola pasar di Jakarta, menerapkan kebijakan ganjil genap bagi pedagang nonpangan untuk membatasi jumlah interaksi selama masa transisi sejak 15 Juni lalu.

Penerapan mekanisme itu adalah pedagang dengan toko nomor ganjil boleh buka pada tanggal dengan nomor ganjil.

Begitu juga dengan pedagang dengan toko nomor genap, hanya boleh buka pada saat tanggal genap.

Namun, kebijakan ini mendapat pertentangan dari pedagang, salah satunya Wakil Ketua Umum Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI), Ngadiran.

Baca juga: 14 Pedagang Pasar Kebayoran Lama Positif Covid-19, Total 79 Orang Terinfeksi di Klaster Pasar Jakarta

"Itu tidak efektif karena kios di pasar sempit-sempit gangnya," kata Ngadiran.

Daripada menerapkan ganjil genap, Ngadiran mengusulkan agar pengelola pasar melakukan pendeteksian kepada orang-orang yang keluar masuk pasar.

Akan tetapi, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan penerapan ganjil genap ini bertujuan untuk mengurangi kapasitas di pasar itu hingga 50%.

"Memang saat ini kapasitasnya hanya boleh 50% dulu demi keselamatan pedagangnya juga. Jadi ini bukan semata-mata bukan soal ganjil dan genap, ini soal keselamatan pedagang, keselamatan pembeli," ujar Anies pada Rabu (16/6/2020) petang.

Baca juga: 2 Pasien Positif Covid-19 Sembuh, Klaster Gowa di Panajam Paser Utara Resmi Berakhir

Dia mengancam akan menutup pasar tersebut jika pedagang tak mengindahkan kebijakan ganjil genap tersebut.

"Jadi saya sampaikan kepada para pedagang pilihannya sederhana, ganjil genap sekarang, atau tidak buka sama sekali," tegas Anies.

Selain memberlakukan ganjil genap bagi pedagang nonpangan, PD Pasar Jaya juga memberlakukan pembatasan jam operasional aktivitas pasar pukul 06.00-14.00.

Pedagang bahan pangan tetap buka normal mengikuti ketentuan yang berlaku dengan mengindahkan protokol kesehatan seperti wajib mengenakan masker dan jaga jarak aman.

Pengecekan suhu tubuh oleh petugas pasar juga diterapkan.

Pengunjung dengan suhu tubuh di atas 38 derajat Celsius dilarang memasuki area pasar.

Baca juga: Klaster KKP Batam, Total 8 Petugas Terjangkit Virus Corona

'Wajar saja jika pasar jadi klaster…'

Sejumlah warga memadati kawasan Pasar Besar di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.ANTARA FOTO/Makna Zaezar Sejumlah warga memadati kawasan Pasar Besar di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Ketua Departemen Epidemiologi di Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, menjelasan teori penularan Covid-19 merujuk pada probabilitas penularan (Rt) dikalikan dengan contact rate, dikalikan lagi dengan duration of illness.

Jika merujuk pada rumus tersebut, penularan Covid-19 ditentukan pada contact rate. Sementara contact rate di pasar, lebih banyak dibanding di mal atau stasiun kereta dan terminal bus.

"Wajar saja jika pasar menjadi klaster, karena contact rate-nya banyak. Itu kuncinya, contact rate-nya banyak, makanya jadi klaster," jelas Miko.

Miko mengimbau agar pemerintah daerah yang mengelola pasar seharusnya melakukan pengaturan orang yang keluar masuk pasar itu, disesuaikan dengan kondisi pasar.

Baca juga: Kantor Kesehatan Pelabuhan Batam Jadi Klaster Penyebaran Corona Baru

Dia menambahkan penerapan ganjil genap hanya akan mengurangi transmisi, namun tidak akan bisa menghentikan Covid-19.

"Itu adalah upaya-upaya untuk mengurangi transmisi, mengurangi penularan kita nggak bisa menyetop Covid selama kasusnya masih ada di Indonesia dan kasusnya masih terus bertambah," jelasnya.

Miko yang merupakan anggota tim pakar Gugus Tugas Nasional dan tim ahli pemerintah kota Bogor dan Depok pandemi merekomendasikan pemerintah daerah untuk melakukan pemeriksaan ke pasar-pasar tradisional secara berkala.

Baca juga: Klaster Keluarga Dominasi Kasus Positif Covid-19 di Malang, Ini Penyebabnya

Selain itu, dua belah pihak, yakni pedagang dan pembeli di pasar tradisional harus benar-benar menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

"Harusnya penjaja makanannya pakai masker wajah, selain itu pakai faceshield. kalau pembelinya pakai faceshield aman lah, lebih aman dibanding tidak. Jadi semuanya pakai facesheied kalau mau aman, pakai masker, pakai faceshield. Itu lebih aman," kata dia.

Akan tetapi, Ketua Ikatan Pedangan Pasar Tradisional Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri menjelaskan protokol kesehatan "tak mudah" diberlakukan di pasar tradisional.

Baca juga: Pasien dari Klaster Pasar Cileungsi Bertambah, Pedagang Mulai Mau Dites

Sebab jumlahnya di seluruh Indonesia sangat besar, hampir 12,5 juta pedagang, sedangkan di akar rumput banyak sekali disinformasi tentang Covid-19.

"Cukup besar pedagangnya, jumlahnya cukup besar, tidak semua orang mengerti bahaya Covid, disinformasi di mana-mana," ujar Abdullah.

"Persoalan-persoalan ekonomi, harga pangan dan lain-lain, juga jadi persoalan yang dihadapi di hadapan mereka. Ini yang membuat tidak mudah melakukan protokol kesehatan di pasar tradisional," katanya.

Baca juga: Klaster Jemaat HOG dan Pasar Tos 3000 Sumbang 16 Pasien Positif Corona Baru di Batam

Kemendag keluarkan surat edaran

Warga dengan masker memilih sayuran di pasar tradisional Pondok Labu, Jakarta, Minggu (07/06). ANTARA FOTO/Reno Esnir Warga dengan masker memilih sayuran di pasar tradisional Pondok Labu, Jakarta, Minggu (07/06).
Diakui oleh anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19, Reisa Broto Asmoro, pasar tradisional termasuk dalam kategori tempat yang rentan terjadinya penularan virus corona penyebab COVID-19.

"Banyaknya orang yang datang dari segala penjuru kota, sering kali menjadikan pasar penuh sesak, kebersihan yang kurang terjaga, dan standar sanitasi dan higienis yang belum ketat, membuat pasar menjadi tempat yang beresiko," ujarnya.

Maka dari itu, Kementerian Perdagangan telah mengeluarkan Surat Edaran Menteri Perdagangan Nomor 12 Tahun 2020 tentang pasar yang beradaptasi dengan kebiasaan baru yang memungkinkan masyarakat menjalankan roda perekonomian di pasar tradisional dengan tetap mengutamakan faktor kesehatan.

Baca juga: Sudah 12 Kasus Positif Corona dari Klaster Pedagang Ikan di Gunungkidul

Reisa menjelaskan, sesuai surat edaran Mendag tersebut, pedagang yang diperbolehkan melakukan aktivitas jual beli di pasar adalah mereka yang memiliki suhu tubuh di bawah 37,3 derajat Celsius.

Selain itu, orang dengan gangguan pernafasan seperti batuk, flu dianjurkan tidak masuk ke pasar.

"Ini adalah panduan badan kesehatan dunia, WHO. Pemeriksaan suhu tubuh bagi para pedagang, wajib dilakukan sebelum pasar dibuka. Tak hanya itu, orang dengan gangguan pernapasan, seperti batuk, atau flu, sebaiknya jangan masuk ke pasar. Risikonya terlalu tinggi," tutur Reisa.

Baca juga: Jadi Klaster Penyebaran Covid-19, Ini Panduan Berbelanja di Pasar

Pedagang menjual daging sapi di kiosnya di Pasar Perumnas Klender, Jakarta Timur, Senin (15/06/2020). PD Pasar Jaya mulai menerapkan aturan ganjil-genap untuk pedagang di pasar wilayah DKI Jakarta mulai hari itu. ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah Pedagang menjual daging sapi di kiosnya di Pasar Perumnas Klender, Jakarta Timur, Senin (15/06/2020). PD Pasar Jaya mulai menerapkan aturan ganjil-genap untuk pedagang di pasar wilayah DKI Jakarta mulai hari itu.
Semua pedagang juga harus negatif Covid-19 yang dibuktikan dari hasil pemeriksaan melalui Polymerase Chain Reaction (PCR) atau tes cepat menggunakan alat rapid test.

Pelaksanaan tes tersebut akan difasilitasi oleh pemerintah daerah.

Lebih lanjut, dokter Reisa juga mengatakan bahwa pengunjung pasar juga dibatasi hingga 30% dari jumlah pengunjung sebelum pandemi Covid-19.

"Pengelola pasar harus mengawasi pergerakan pengunjung di pintu masuk dan pintu keluar pasar, guna mencegah terjadinya kerumunan pembeli," jelas Dokter Reisa.

Baca juga: Gugus Tugas Bantah Wartawan Jadi Klaster Penyebaran Covid-19 di Pamekasan

Surat edaran (SE) menteri perdagangan itu juga mengatur agar pengelola pasar selalu menjaga kebersihan dengan menyemprot desinfektan secara berkala, setiap dua hari sekali.

Selain itu, pengelola wajib menyediakan tempat cuci tangan, sabun, atau minimal hand sanitizer di area pasar, dan toko swalayan.

Akan tetapi, Abdullah Mansuri dari IKAPPI mengatakan, kebijakan dalam SE yang mengatur jam operasional pasar hanya dari jam 06.00 hingga 11.00, "memaksa pembeli berduyun-duyun masuk ke pasar di waktu itu saja".

"Justru itu yang akan membuat risiko penyebaran Covid-19 lebih besar di pasar tradisional," ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ridwan Kamil: Gerakan Pramuka Harus Tumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Ridwan Kamil: Gerakan Pramuka Harus Tumbuhkan Jiwa Kepemimpinan

Regional
Semarang Jadi Kota Terbaik di PPD Jateng, Hendi: Kita Kawal untuk Realisasi Program

Semarang Jadi Kota Terbaik di PPD Jateng, Hendi: Kita Kawal untuk Realisasi Program

Regional
Wujudkan Masyarakat Maju, Bupati dan Wabup Wonogiri Siapkan 7 Program

Wujudkan Masyarakat Maju, Bupati dan Wabup Wonogiri Siapkan 7 Program

Regional
Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Regional
Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Regional
Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Regional
Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Regional
Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Regional
Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Regional
Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Regional
Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X