Kompas.com - 20/06/2020, 05:45 WIB
Sejumlah warga memadati kawasan Pasar Besar di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. ANTARA FOTO/Makna ZaezarSejumlah warga memadati kawasan Pasar Besar di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
Editor Rachmawati

'Wajar saja jika pasar jadi klaster…'

Ketua Departemen Epidemiologi di Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, menjelasan teori penularan Covid-19 merujuk pada probabilitas penularan (Rt) dikalikan dengan contact rate, dikalikan lagi dengan duration of illness.

Jika merujuk pada rumus tersebut, penularan Covid-19 ditentukan pada contact rate. Sementara contact rate di pasar, lebih banyak dibanding di mal atau stasiun kereta dan terminal bus.

"Wajar saja jika pasar menjadi klaster, karena contact rate-nya banyak. Itu kuncinya, contact rate-nya banyak, makanya jadi klaster," jelas Miko.

Miko mengimbau agar pemerintah daerah yang mengelola pasar seharusnya melakukan pengaturan orang yang keluar masuk pasar itu, disesuaikan dengan kondisi pasar.

Baca juga: Kantor Kesehatan Pelabuhan Batam Jadi Klaster Penyebaran Corona Baru

Dia menambahkan penerapan ganjil genap hanya akan mengurangi transmisi, namun tidak akan bisa menghentikan Covid-19.

"Itu adalah upaya-upaya untuk mengurangi transmisi, mengurangi penularan kita nggak bisa menyetop Covid selama kasusnya masih ada di Indonesia dan kasusnya masih terus bertambah," jelasnya.

Miko yang merupakan anggota tim pakar Gugus Tugas Nasional dan tim ahli pemerintah kota Bogor dan Depok pandemi merekomendasikan pemerintah daerah untuk melakukan pemeriksaan ke pasar-pasar tradisional secara berkala.

Baca juga: Klaster Keluarga Dominasi Kasus Positif Covid-19 di Malang, Ini Penyebabnya

Selain itu, dua belah pihak, yakni pedagang dan pembeli di pasar tradisional harus benar-benar menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

"Harusnya penjaja makanannya pakai masker wajah, selain itu pakai faceshield. kalau pembelinya pakai faceshield aman lah, lebih aman dibanding tidak. Jadi semuanya pakai facesheied kalau mau aman, pakai masker, pakai faceshield. Itu lebih aman," kata dia.

Akan tetapi, Ketua Ikatan Pedangan Pasar Tradisional Indonesia (IKAPPI) Abdullah Mansuri menjelaskan protokol kesehatan "tak mudah" diberlakukan di pasar tradisional.

Baca juga: Pasien dari Klaster Pasar Cileungsi Bertambah, Pedagang Mulai Mau Dites

Sebab jumlahnya di seluruh Indonesia sangat besar, hampir 12,5 juta pedagang, sedangkan di akar rumput banyak sekali disinformasi tentang Covid-19.

"Cukup besar pedagangnya, jumlahnya cukup besar, tidak semua orang mengerti bahaya Covid, disinformasi di mana-mana," ujar Abdullah.

"Persoalan-persoalan ekonomi, harga pangan dan lain-lain, juga jadi persoalan yang dihadapi di hadapan mereka. Ini yang membuat tidak mudah melakukan protokol kesehatan di pasar tradisional," katanya.

Baca juga: Klaster Jemaat HOG dan Pasar Tos 3000 Sumbang 16 Pasien Positif Corona Baru di Batam

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Pembangunan Kereta Cepat Sudah 70 Persen, Kang Emil: Perlu Dibangun Flyover

Regional
Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir Bandang NTT, Ganjar: Ini Bagian dari Spirit Kebersamaan Kita

Regional
Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Ingin Kompetensi Masyarakat Berkembang, Pemprov Jabar Dukung Program Kartu Prakerja

Regional
Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Hadiri Rakerda Jabar Bergerak, Kang Emil: Terus Jalankan Regenerasi

Regional
Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Ceramah Ramadhan Tak Boleh Lama-lama, Materi Ceramah Akan Diatur Pemda

Regional
Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Dedi Mulyadi Menangis Dapati Seorang Ibu Tua Melamun Tak Punya Beras

Regional
Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Cegah Kerumunan, Prosesi Dugderan di Kota Semarang Berjalan Sederhana

Regional
Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Ajak Masyarakat Hormati Orang Tua, Ridwan Kamil: Jangan Sampai Ada Lansia Terlantar

Regional
Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Jadi Percontohan Nasional, Seleksi Anggota Paskibraka Jateng Gandeng BPIP

Regional
Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Gerakan Perekonomian Jabar, Disparbud Setempat Gelar Gekraf 2021

Regional
Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Khawatir Krisis Pangan, Wagub Jabar Minta Petani Tidak Alih Fungsikan Sawah

Regional
Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Teken MoU dengan Tourism Malaysia, Jaswita Jabar: Kerja Sama Ini Menguntungkan

Regional
Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Tinjau Penataan Kawasan Candi Borobudur, Ganjar: Progresnya Bagus

Regional
Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Bebas Penyakit Frambusia, Kota Madiun Raih Penghargaan dari Kemenkes

Regional
Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Begini Respons Wali Kota Maidi Usai Dapat Penghargaan Pembina K3 Terbaik

Regional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X